Pesan dari Susunan Batu Misterius di Zaman Siber

Pesan dari Susunan Batu Misterius di Zaman Siber

Ilustrasi (Great Big Story)

Hubungan manusia dan batu bukanlah jenis keakraban kemarin sore. Bahkan ada satu masa saat manusia menganggap batu yang besar dan megah sebagai perwakilan kekuasaan langit di muka bumi.

Tidak tanggung-tanggung. Sejumlah batu diukir, dikalungi bunga, diberikan sesajen, disucikan, diberikan nama-nama perwakilan si pemilik kuasa semesta dan sudah jelas bakalan disembah.

En toch, dalam gerak maju peradaban, Zaman Batu Besar pernah hadir menyapa umat manusia. Zaman saat hubungan manusia dan batu sedang intim-intimnya, manusia mampu mengolah batu untuk membantu keseharian mulai dari bercocok tanam, membangun rumah, hingga praktik religi.

Hingga hari ini, batu-batu yang menjadi perwakilan Zaman Batu Besar masih laku di hadapan netizen, yang menggolongkannya menjadi dua kategori unik yaitu Instagrammable vs non-Instagrammable.

Namun, alangkah lucunya, jika ternyata batu yang tersusun secara rapih dianggap berkontribusi pada lunturnya keyakinan seseorang.

Barangkali penyebabnya ialah problem misterius, karena dianggap bukan karya seni manusia atau lebih eksplisit manusia tidak mungkin melakukannya, dimana itu hanya bisa dibaca oleh dua agen X-Files seperti David Duchovny dan Gillian Anderson.

Di antara kemisteriusan hubungan manusia dengan batu, ada satu yang unik, yaitu obsesi pada kepemilikan batu cincin. Batu yang mulanya hanya sekadar hobi agar tangan semakin kekinclong-kinclongan melompat pada level khayalan akan datangnya barokah dan status sosial.

Aksi penghancuran susunan batu misterius di Sukabumi, misalnya, hanyalah butiran debu dari cara berpikir konspiratif dibanding persoalan vaksin hingga tanda-tanda akhir zaman yang dikaitkan dengan etnis dan kelompok keagamaan tertentu.

Secara kebetulan, kita masih senang menenggak hal-hal berbau konspiratif. Mengapa? Sebab berpikir konspiratif adalah hal yang sangat gampang, mencari sesuatu yang tak nampak namun gampang dituding-tuding, diulek sedikit dengan bumbu kebencian dan pseudo-sains.

Meskipun bukti yang disajikan ala kadarnya dan verifikasi model minimalis, di luar sana, banyak orang bisa menganga saat ada yang berteriak lantang tentang rencana jahat yang mengancam keyakinan hingga konspirasi untuk mencaplok Indonesia.

Nah, bagaimana caranya supaya kita semakin konspiratif dalam membaca fenomena susunan batu misterius yang bisa jadi ada di mana mana itu?

Pertama, kaitkan dengan roh halus. Seperti biasa, kelompok ini paling rentan disalahkan saat terjadi peristiwa misterius dalam kehidupan manusia. Terutama, saat batu disusun secara rapih dan misteri, akan sangat mudah jika banyak yang menafsirkannya sebagai bagian ritus pemujaan kepada roh halus.

Apesnya lagi, gugus yang terdiri atas jin, roh leluhur, tuyul, setan, dedemit, jurig ini masih satu barisan dalam bagian praktik ilmu hitam. Mereka beranak pinak memiliki pengikut yang tetap setia berkumpul dan konon mengorbankan umat manusia agar memuaskan nafsu si roh halus.

Beberapa sempalannya sering menyaru dalam label kelompok keagamaan dan suka membuat tafsir suka-suka atas tafsir keyakinan resmi. Mereka dilabeli sebagai kelompok musyrik dan beraliran sesat.

Bagaimana cara melawannya? Yang jelas, dengan ilmu putih yang diresmikan negara. Bagaimana cara ilmu putih menekuk praktik ilmu hitam? Mari kita tonton kembali film-film horor era Orde Baru tahun 1980-an.

Kedua, kaitkan dengan kelompok misterius. Sebagaimana lazimnya kelompok misterius, mereka tidak kasat mata, namun ada dimana-mana. Kehadiran mereka diwakili jejak simbol-simbol yang mengundang sejuta tanya. Ada yang bersimbol mata satu, huruf G, kemudian jangka dan penggaris, dan selalu membentuk pola bangun datar segitiga.

Hubungan mereka dengan batu bukan urusan main-main. Kelompok ini semacam tarekat tukang batu. Job desk-nya sudah jelas, mempromosikan kebebasan dan sekularisme. Konon, juga dekat dengan Wahyudi.

Hasil karyanya sangat mudah dideteksi. Barangsiapa bertemu dengan orang yang mulutnya belepotan demokrasi dan hak asasi, sudah pasti kepala si orang itu pernah dipoles tarekat ini. Sudah terang benderang.

Ketiga, kelompok penduduk non-planet Bumi. Kunjungan mereka tidak menentu ke planet Bumi dan jelas tidak bisa disamakan dengan kunjungan rutin para migran ke Jakarta pasca-Lebaran atau para politisi yang menyambangi konstituen di daerah.

Kelompok non-planet Bumi ini biasa digolongkan alien. Berhubung belum ada buku berjudul dialog dengan alien dan perlombaan ke ruang angkasa di Indonesia masih di level begitu-begitu saja, rasanya agak susah menyalahkan kelompok ini.

Tapi tunggu dulu, kelompok alien bisa dipertautkan dengan karakter misterius, tidak terdeteksi kehadirannya dan high-tech dalam menyusun hal yang canggih serta melompati nalar manusia.

Fenomena crop circle yang mempercantik tampilan lahan pak tani dan bu tani diyakini hasil mahakarya adiluhung dari sang alien. Artinya, menyusun batu misterius di sungai bagi kelompok alien hanyalah urusan mengambil upil di ujung hidung.

Jadi, bagaimana, sudahkah Anda kembali ke pola pikir Zaman Batu yang nyasar di Zaman Siber ini? Eh?

2 KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN