Batu Akik untuk Para Pemuja dan Penyembah

Batu Akik untuk Para Pemuja dan Penyembah

Apakah pembaca yang budiman sering membaca status atau twit orang yang menjelek-jelekan Jokowi, Prabowo, beserta para kroninya? Apa yang teman-teman rasakan?

Jujur saja, lama-kelamaan risih juga. Kok bisa ya pilpres sudah lama berlalu, tapi masih saja perang status dan twit. Mungkin sudah menjadi hobi atau profesi kali ya? Hehe..

Yang bikin saya kaget adalah cara mereka memanggil satu sama lain. Di media sosial, ada pendukung Prabowo yang menyebut pendukung Jokowi sebagai para penyembah.

Sebaliknya, sebagian pendukung Jokowi menyapa pendukung Prabowo dengan sebutan haters. Bahkan ada yang menyebut mereka sebagai para pemuja.

Mereka selalu memanfaatkan situasi untuk menjatuhkan satu sama lain. Yang paling mencolok dan krusial adalah masalah ekonomi di dalam negeri. Untuk kali ini sasaran tembaknya jelas, Presiden Jokowi dan pendukungnya.

Beberapa pendukung Prabowo nge-share meme bergambar Jokowi memegang roket. Di situ ditulis ‘Joko Widodo raih roket award 2015’.

Jokowi dianggap ‘berprestasi’ karena dalam 10 bulan mampu membuat ekonomi Indonesia meroket. Misalnya nilai dolar, harga BBM, harga daging, dan jumlah PHK.

Memang faktanya, ekonomi Indonesia sedang menurun. Masyarakat dan pelaku usaha mulai merasakan dampaknya. Sejumlah perusahaan habis-habisan efisiensi, bahkan terpaksa mem-PHK.

Namun, di sisi lain, pemerintah masih optimistis ekonomi bakal berangsur-angsur pulih. Para pengusaha juga demikian. Tidak ada salahnya diberikan kesempatan. Kritik boleh saja, asal membangun. Tapi yang terjadi justru menjelek-jelekan, bahkan cenderung menjatuhkan.

Kalau nanti tambah buruk gimana? Kita-kita semua yang repot. Mau?

Coba mereka yang disebut-sebut di media sosial sebagai para pemuja dan penyembah itu belajar dari para pedagang batu akik. Ngomong-ngomong, ada yang suka koleksi batu akik? Apa kabarnya sekarang?

Saya punya teman pedagang batu akik. Namanya Ahmad Sahid. Dia bilang pasar batu akik sekarang mulai lesu, mirip perekonomian dalam negeri. Lesunya pasar batu akik sebenarnya mulai terasa setelah Lebaran, Juli lalu.

Kalau meminjam istilah ekonom-ekonom, harga batu akik sudah bubble atau mirip gelembung yang pecah. Ada juga yang bilang pasar batu akik sudah over supply atau kelebihan pasokan.

Faktanya saat ini harga batu akik memang terjun bebas, sama nasibnya seperti rupiah dan harga saham di bursa efek. Harga batu akik rata-rata terpangkas 30%. Sampai ada haters yang bilang, ‘Selamat tinggal zaman batu’.

Meski dijelek-jelekan seperti itu, pasar batu akik di Blok M masih ramai. Tapi memang yang beli menurun. Apakah pedagang dan kolektor batu akik pasrah dengan keadaan?

Mereka tetap optimistis pasar batu akik bisa pulih. Dalam kondisi tersebut, para pedagang tidak saling menjelek-jelekan. Tidak ada yang bilang, “Batu akik si A itu penuh kepalsuan.” Atau si A bilang, “Batu akik si B itu hanya pencitraan.”

Mereka, yakni para pedagang, kolektor, dan penggemar dadakan batu akik, sadar kalau ini menyangkut kepentingan bersama. Pasar hancur, mereka semua gigit jari. Sebab, ada uang yang berputar di situ, ada gairah yang harus tetap bergelora.

Jadi, masih hobi saling menjelek-jelekan? Atau mau batu akik gratisan? Hehe.. Tapi ada syarat dan ketentuannya kayak iklan-iklan. Apa? Cool, calm, and confident. Nggak perlu panas apalagi ngomporin, kalem aja, tetap percaya diri dan optimis.

Foto: moriwana.net

  • Ih, cakep bener ni tulisannya mas Rausyan. Penuh dengan cinta damai. Selebihnya kalo orang yang suka mengolok2an baca, pasti malu deh…. (kalo sadar itu juga), setuju banget nih sama mas Rausyan, jangan pernah berhenti menulis ya mas.. Terus suarakan kebenaran ..