Batik Bukan Cuma buat Kondangan atau ke Kantor Saja

Batik Bukan Cuma buat Kondangan atau ke Kantor Saja

Iga Massardi (malesbanget.com)

Ketika menyaksikan Barasuara pertama kali di sebuah gig di Bandung pada 2015, saya langsung terpikat. Vokal dan lirik dengan diksi yang memukau, serta dipadu alunan gitar yang memanjakan telinga, menjadi kombinasi yang begitu apik.

Tak butuh waktu lama untuk bisa tersihir oleh permainan Barasuara di atas panggung. Sampai saat ini, lagu seperti “Sendu Melagu” atau “Bahas Bahasa” masih saja enak didengar, meski diputar berulang-ulang. Mengapa ada grup musik sebagus ini di Indonesia?

Selain itu, tentu saja, ada sosok Iga Massardi di Barasuara. Anak sastrawan Yudhistira ANM Massardi itu punya selera fesyen yang unik. Ia, tak seperti kebanyakan musisi Rock n Roll lainnya yang biasa menggunakan atribut urban. Iga malah memilih pakaian yang biasa kamu pakai saat kondangan: batik.

Kalau kamu menyaksikan penampilannya, jangan terburu-buru bilang salah kostum. Konser kok pakai batik? Itu kan baju buat kondangan atau setidaknya buat ngantor hari Jumat dan saat Hari Batik. Tapi, ya itu, Iga tetap saja pakai batik di antara teman-temannya di Barasuara saat manggung.

Misalnya, dalam tur mereka tahun lalu atau mengisi berbagai acara musik yang disponsori oleh brand rokok pada tahun ini. Iga tidak pernah sekalipun menggunakan kaus saat manggung. Apalagi telanjang dada seperti Kaka Slank.

Saya sempat bertanya-tanya, mengapa batik? Dalam berbagai wawancara dengan media, Iga bilang awalnya hanya sekadar iseng untuk mencuri perhatian. Sebab, penampilan personel grup musik yang memakai batik saat konser bukan sesuatu yang lumrah.

Namun, dari keisengan itu muncul kecintaan terhadap batik. Ia kini bekerja sama dengan salah satu brand batik milik Indonesia. Dalam sebuah wawancara, Iga berkata, “Sampai hari ini, jadi ada kebanggan, sih. Itu ada unsur budaya yang kita punya juga. Lebih dari sekadar baju. Itu kayak simbol.”

Iga kemudian berhasil membuat batik terlihat lebih seksi daripada apapun. Apa yang dilakukannya mirip dengan Alex Turner – vokalis dan gitaris Arctic Monkeys – saat membuat Dandelion and Burdock, minuman tradisional Inggris, menjadi tren pada 2011.

Bedanya, Alex menuliskan Dandelion and Burdock dalam bait lagu “Suck it and See, sementara Iga menerapkan kultur budaya dalam baju saat tampil.

Namun, efeknya sama saja. Keduanya menjadi brand endorser, meski secara tidak sengaja. Pemilihan brand endorser, secara teori, menjadi penting, karena mereka yang akan mencerminkan nilai-nilai dari brand itu sendiri.

Barasuara (metrotvnews.com)

Alex dan teman-temannya Arctic Monkeys berhasil membuat minuman bersoda itu diingat eksistensinya, padahal sebelumnya nyaris punah dari sejarah Inggris. Berkat Alex, minuman itu dikenal oleh generasi berikutnya.

Alex menulis lirik magis yang mengibaratkan seorang gadis dengan minuman bersoda yang eksotis nan langka itu. Sementara gadis lainnya seperti limun murah. Simak saja liriknya: You’re rarer than a can of dandelion and burdock. All other girls were just postmix lemonade.”

Sebagai implikasinya, setiap orang di Inggris pada 2011 merasa perlu tahu apa itu Dandelion and Burdock. Tiba-tiba saja minuman yang nyaris terlupakan itu dicari orang di mana-mana. Sampai-sampai menjadi arus utama. The Guardian bahkan sampai merilis bagaimana cara membuat minuman tersebut.

Sementara itu, Iga melalui aksi panggungnya berhasil membuat pakaian yang dia kenakan menjadi sesuatu yang terlihat sangat menarik. Aksi panggungnya membuat citra batik, yang selama ini terkesan kaku seperti pola komunikasi bapak pejabat, menjadi lebih segar dan selaras dengan semangat kaum muda.

‘Ketidaktahumaluan’ Iga kemudian membuatnya secara natural menjadi brand endorser yang tepat bagi batik. Saat batik dikenakan Iga, batik menjadi sesuatu yang lain. Ia membuat batik terlihat pantas hadir dalam acara kasual semisal konser.

Dengan begitu, imaji bahwa batik hanya pantas digunakan saat acara kawinan dan acara-acara resmi lainnya, seketika runtuh saat menyaksikan Iga.

Berterimakasih lah kepada Iga yang terasa begitu enerjik memakai batik, seperti ketika ia memainkan gitar. Atau, terasa sangat Indonesia dan sangat keren, selayaknya lirik-lirik Barasuara yang kaya diksi.

Bukan mustahil, ini bisa mendorong kids jaman now ingin memiliki batik, sama seperti seorang bocah yang ingin membeli jersey pemain sepak bola idolanya.

Dan, tentu saja, memakai batik tak hanya saat kondangan bersama gebetan, melainkan bebas di mana saja. Sebab batik adalah simbol melawan arus, terutama arus produk fasyen dari luar negeri yang begitu deras.

Karena itulah, pemerintah harus menunjuk Iga Massardi sebagai Duta Batik. Terlebih, batik semakin digemari di dalam maupun di luar negeri, sehingga kita perlu seorang yang pantas merepresentasikan batik dengan pas. Dan, Iga adalah orangnya.

Di tubuhnya, batik jelas terlihat muda, beda, dan berbahaya. Lagipula, setelah Duta Pancasila disandang oleh Zaskia Gotik atau duta-duta lainnya yang sialnya tidak relevan, bukankah kini waktunya kita memiliki Duta Batik yang memang mencintai dan mampu membuat anak muda jadi pede menggunakan batik?