Banyu Biru, Jangan Sampai Hatimu Membiru

Banyu Biru, Jangan Sampai Hatimu Membiru

Sebelum masuk soal Banyu Biru, saya punya cerita sendiri soal intelijen. Setahun sebelum perjanjian damai antara Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), saya dikirim ke Aceh untuk tugas peliputan. Suatu hari, ada info kalau sebuah helikopter jatuh di daerah Samalanga, Bireuen. Saya pun bergegas ke sana.

Saat masuk Samalanga, sebagian orang menatap saya dengan cara yang aneh. Ketika itu, orang Aceh memang selalu curiga kepada orang luar. Mereka trauma dan tertekan, karena hidup selama 29 tahun di daerah operasi militer.

Keadaan pun menjadi semakin tak kondusif. Lalu, tiba-tiba, di tengah keramaian, ada orang yang menyapa saya. Kalau dilihat, perawakannya mirip sekali dengan orang Aceh pada umumnya. Saya kemudian dibawa ke sebuah rumah, dimana ketika itu beberapa orang tampak memegang pistol.

Mereka sudah tahu, kalau saya seorang jurnalis. Lalu, orang tadi memperingatkan kalau masuk secara terbuka seperti itu berbahaya. Saya diberitahu kalau daerah tersebut adalah salah satu basis militan GAM.

Karena saya berkeras ingin menuju lokasi, mereka akhirnya mau membantu. Tapi, dengan syarat, melepas semua identitas dan lakukan peliputan secara tertutup.

Dengan bantuan mereka, saya akhirnya bisa menyelesaikan peliputan. Setelah itu, saya baru tahu kalau mereka semacam satuan gabungan intelijen. Sedangkan rumah yang tadi bisa dibilang ‘safe house’.

Mereka, para intelijen, sudah seperti warga setempat. Padahal, mereka bukan orang Aceh. Mereka menginfiltrasi semua peran-peran strategis secara rahasia. Ya itulah intelijen.

Beberapa satuan intelijen bahkan dibekali spesifikasi operasi klandestin (clandestine operation), termasuk kemampuan intelijen tempur (combat intell) hingga kontra pemberontakan (counter insurgency). Intelijen bisa dikatakan garis terdepan pertahanan sebuah negara.

Selain intelijen TNI, Polri, dan lainnya, di Indonesia ada yang namanya Badan Intelijen Negara (BIN) – berusaha untuk nggak typo jadi Badan Intelijen Nasional. Agen BIN bisa siapa saja, misalnya politisi, pengusaha, wartawan, LSM, mahasiswa, hingga artis. Identitas dan kerja-kerja intelijen mereka juga sangat rahasia.

Saat ini, BIN lagi merekrut 1.000 agen dari berbagai disiplin ilmu. Sebab, agen yang ada sekarang jumlahnya minim, cuma 1.975 orang. Padahal, idealnya 5.000 agen. Apakah anda berminat? Bukankah bangga bisa menjadi orang-orang yang berada di garis terdepan pertahanan, meski negara kadang menyebalkan?

Faktanya ada orang yang bangga jadi agen BIN. Contohnya ya mas Banyu Biru. Saking bangganya, putra politisi dan aktor senior Eros Djarot itu mengunggah SK pengangkatannya sebagai anggota Bidang Politik Dewan Informasi Strategis dan Kebijakan (DISK) BIN.

Aksi Banyu Biru seketika bikin gempar seantero negeri, karena itu seharusnya bersifat rahasia. Posisi beliau terancam dipecat. Tapi kabarnya Banyu Biru memilih untuk mundur.

Sorotan tajam juga tertuju kepada BIN, yang dianggap sembrono memilih agen. Sebelumnya BIN juga dinilai kecolongan, karena sampai terjadi aksi teror di kawasan Thamrin, Jakarta. Apakah ini ada hubungannya? Ah, entahlah.

Tapi kalau dilihat dari latar belakang Banyu Biru, BIN sepertinya tak salah pilih. Saya nggak mau ikut-ikutan bilang kalau dia pernah menjadi penggiat pasangan Jokowi-JK saat pilpres. Terlepas dari itu, Banyu Biru memang punya kualifikasi sebagai seorang intel.

Beliau adalah aktivis politik dan pengusaha. Dia paham dunia investasi, karena berlatar belakang sebagai bankir investasi (investment banking). Dia pernah bekerja di perusahaan sekuritas dan sekarang menjadi direktur eksekutif di sebuah perusahaan migas yang berkantor pusat di Singapura.

Dan, harus diakui, mas Banyu itu ganteng, keren, selebritas pula. Jalinan asmara antara Banyu dan beberapa artis cantik nan seksi, seperti Rianti Cartwright, Pevita Pearce, dan Velove Vexia, merupakan konfirmasi kalau Banyu itu idola wanita.

Seorang intel ganteng atau cantik adalah aset bernilai tambah (value added). Kegantengan dan kecantikan bisa menjadi senjata pamungkas bagi seorang intel untuk mencuri informasi berharga dari targetnya. Ingat, mencuri informasi, bukan mencuri hati.

Banyu Biru sangat potensial menjadi James Bond-nya Indonesia. Kita sudah tahu, bagaimana kiranya aksi James Bond di lapangan bahkan di ranjang. Kalau di dunia nyata, ada Tzipi Livni, seorang agen Mossad (Israel). Livni dikabarkan pernah ML dengan tokoh-tokoh Arab untuk membuat sebuah konsesi politik.

Selain Livni, ada juga Anna Chapman, wanita cantik nan aduhai yang disinyalir jadi agen intel Rusia. Anna diduga menyamar sebagai pebisnis untuk menyusup ke lingkaran pembuat kebijakan di Amerika Serikat, lalu melaporkannya ke Moskow melalui sebuah metode spionase ala Perang Dingin.

Dalam sebuah bocoran dokumen rahasia militer Inggris bahkan disebutkan bahwa agen intelijen cantik Rusia bisa menjebak para pejabat dengan mengajaknya tidur. Di Dinas Intelijen Rusia (FSB) dan Intelijen Penerus Soviet (KGB) mengenal istilah ini dengan sebutan taktik ‘perangkap madu’.

Bukan berarti Banyu Biru harus sampai sengeres itu. Ini hanya gambaran kalau intel ganteng dan cantik begitu mematikan. Tapi, sayang, Banyu Biru sepertinya batal jadi agen BIN.

Bukankah narsisme sekarang ini lebih penting sekalipun itu menyangkut dokumen rahasia negara? Yang penting bisa mendulang banyak love dan like di media sosial. Saya nggak mau ikut-ikutan bilang mas Banyu itu intel alay, tapi mas Banyu memang berpotensi mengalahkan popularitas polisi-polisi ganteng yang mengusir teroris di Thamrin. #IntelGanteng #KamiNaksir.

Mantan pacar mas Banyu, seperti Rianti Cartwright, Pevita Pearce, dan Velove Vexia pastinya bakal menyesal putus dengan mas. Tapi ya sudah mas, takdir berkata lain.

Mas Banyu kan seleb, siapa tahu mas direkrut main di film James Bond selanjutnya. Jangan kalah sama Iko Uwais yang main di film Star Wars atau Joe Taslim yang kini terlibat dalam pembuatan film Star Trek Beyond.

Bagaimana pun juga marwah kenarsisan harus dijaga, bukan begitu mas Banyu? Yang sabar ya mas, jangan sampai hatimu membiru, karena tak sesuai apa yang kau mau.

Foto: beritagar.id