Bangganya Kita kepada Atlet Olimpiade, Sebangga Mereka kepada Kita?

Bangganya Kita kepada Atlet Olimpiade, Sebangga Mereka kepada Kita?

dailymail.co.uk

Olimpiade 2016 di Brasil sudah dimulai. Lebih dari 200 negara berlaga di ajang olah raga multi cabang terbesar di planet bumi, termasuk negeri kita tercinta, Indonesia. Ada sebanyak 28 atlet kita yang akan turun di 7 cabang olah raga. Semoga mereka mampu menambah pundi-pundi medali.

Seumur-umur, Indonesia baru dikalungi 27 medali Olimpiade, yang berupa 6 emas, 10 perak, dan 11 perunggu. Bulu tangkis, angkat besi, dan panahan adalah pahlawannya. Kita tentu tidak akan lupa momen ketika seorang Susi Susanti berhasil memberikan medali emas pertama bagi Indonesia pada Olimpiade di Barcelona tahun 1992.

Di Barcelona, untuk pertama kalinya, lagu Indonesia Raya berkumandang di ajang olah raga sekelas Olimpiade. Susi Susanti meneteskan air mata, terharu sekaligus bangga atas prestasinya. Prestasi kita semua. Tetesan air mata Susi Susanti adalah harapan bangsa Indonesia.

Namun, seperti kisah atlet Indonesia pada umumnya, setelah pensiun Susi Susanti dan sang suami, Alan Budikusuma, harus berjuang keras untuk menjalani hidup. Mereka coba mengembangkan beberapa bisnis yang masih terkait dunia olah raga, yaitu sebuah perusahaan apparel bulu tangkis dan reflexology & sport massage.

Susi sendiri pernah berujar bahwa belum ada sistem yang bagus di Indonesia untuk mengapresiasi para atletnya kalau sudah pensiun. Ia dan Alan harus berjuang dari nol setelah gantung raket untuk meneruskan kehidupan mereka. Miris? Sedih? Simpan saja air matamu.

Pasangan emas Olimpiade memang harus memulai kehidupan dari nol setelah pensiun. Mereka sudah terbiasa berjuang sejak dulu. Kalau atlet yang pernah meneteskan air mata harapan bangsa saja begitu, pastinya mereka yang tidak juara juga demikian. Memang ada yang (sok) peduli?

Sekarang kita tengok Lenni Haeni yang pernah memberikan 20 medali sepanjang kariernya dalam cabang olah raga dayung. Ia bekerja sebagai buruh cuci pasca pensiun. Amin Ikhsan, atlet senam, harus rela menerima kenyataan bahwa rumahnya di Kiaracondong, Bandung, digusur Pemkot Bandung. Ia harus bertahan hidup dengan menjual barang-barang rongsokan dari sisa bangunan yang dirobohkan.

Apakah itu hanya terjadi di NKRI yang kita pertahankan mati-matian ini? Bagaimana dengan atlet Olimpiade dari negara lain?

Pada Olimpiade 2012 di London, sprinter Usain Bolt melesat kencang dan menjadi juara di arena lari 100m, 200m, dan 4x100m. Ia menjadi orang pertama dalam sejarah yang meraih catatan fantastis. Dengan  bersinarnya prestasi Bolt di Olimpiade, pundi-pundi uangnya bertambah tebal. Sekali lari di event internasional, Bolt diganjar uang sebesar US$ 350 ribu.

Tentu saja, pemasukan jauh lebih besar ia dapatkan dari para sponsor. Pada 2010, produsen sepatu olah raga mengontraknya dengan  nilai US$ 9 juta per tahun. Itu baru satu kontrak. Pelari asal Jamaika itu juga punya ikatan kontrak dengan perusahaan tersohor lainnya. Tahun ini, kekayaannya diperkirakan bisa mencapai US$ 100 juta. Sila kalikan sendiri dengan kurs rupiah saat ini dan hitunglah perlu berapa ratus tahun kita bisa memiliki uang sebanyak itu?

Tetapi tentu tak adil juga kalau kita hanya melihat Usain Bolt. Sebab, banyak juga atlet Olimpiade dari negara lain yang tak bergelimang harta dan terpaksa melakukan apa pun demi bertahan hidup. Ada Urige Buta, atlet maraton Norwegia, yang bekerja sebagai janitor. Lalu ada Chi Yip Cheung, atlet Judo asal Hong Kong, yang memiliki pekerjaan harian sebagai petugas pemadam kebakaran. Dan masih banyak contoh lainnya.

Kembali ke Susi Susanti. Ia pernah mengatakan bahwa ia tidak ingin anaknya punya karier sebagai atlet. Bukan sekadar kasihan kalau mereka nantinya dibanding-bandingkan dengan kehebatan prestasi ayah ibunya. Lebih dari itu, Susi tahu bahwa di negeri ini kalau mau hidup nyaman jangan jadi atlet. Perhatian negara terhadap para mantan atlet masih jauh dari kata membahagiakan.

Negara hanya peduli, jika seseorang masih aktif sebagai atlet. Sebelum bertanding, mereka diundang ke Istana Negara. Lalu diberikan wejangan yang begitu mulia, mencium sang saka merah putih, dan diiming-imingi bonus. Jika menang, diarak keliling kampung dan kota. Tapi kalau sudah pensiun, emangnya gua pikirin. Begitu kan maksudnya, wahai bapak-bapak dan ibu-ibu pejabat yang terhormat?

Meski demikian, jika para atlet Indonesia yang bertanding di Olimpiade 2016 berkesempatan membaca artikel ini, kiranya kalian jangan patah semangat sebelum bertanding. Berjuanglah sampai titik darah penghabisan. Kalian adalah kebanggaan bangsa, meski kalian tahu itu sudah terlalu sering kalian dengar dan tampak klise.

Lagipula ada baiknya kalian fokus saja dengan persiapan menjelang pertandingan. Latihan, makan yang bergizi, dan pemanasan. Tidak perlu tanya ke panitia perkampungan atlet di Rio de Janeiro, Brasil, apa password WiFi di kamar. Nanti kalian tergoda buka Twitter, malah jadi nggak konsentrasi. Cuitan para netizen itu tajam-tajam, terutama yang antusias banget mencerca seragam kontingen Indonesia. Ya begitulah… Tetaplah bangga dengan bangsamu ini. Tetaplah bangga…

Baru tersiar kabar bahwa Indonesia berhasil meraih medali pertama pada ajang Olimpiade di Rio de Janeiro melalui cabang angkat besi. Sri Wahyuni Agustiani menduduki peringkat kedua pada nomor 48 kg putri. Sri sejatinya memiliki kesempatan untuk meraih emas. Sayang, pada kesempatan ketiga di clean & jerk, ia gagal mengangkat beban seberat 115 kg. Ya gak apa-apa, mbak Sri… Yang penting nanti mbak berhasil mengangkat beban hidup di negeri ini yang jauh lebih berat.

Sri berada di bawah lifter Thailand, Sopita Tanasan, yang berhasil meraih emas. Meski medali perak, para netizen mulai bangga lagi, sampai lupa kemarin habis mem-bully habis-habisan seragam kontingen. Norak lah, kaya pembungkus permen lah, kayak sampul buku lah, dan apa-apalah itu. Selamat ya mbak Sri…

Pada Olimpiade kali ini, pemerintah kita sebenarnya menjanjikan bonus yang cukup menggiurkan. Kabarnya bonus untuk peraih medali emas sebesar Rp 5 miliar, perak Rp 2 miliar, dan perunggu Rp 1 miliar. Lumayan sekali uang itu untuk disebar ke berbagai investasi, mulai dari beli properti dan emas, jualan martabak tujuh rasa, dan sebagainya. Hitung-hitung buat persiapan nanti setelah masuk masa pensiun.

Kami bangga dengan kalian, semoga kalian (masih) bangga dengan kami…