Baik Buruknya Fenomena ‘Instagramable’

Baik Buruknya Fenomena ‘Instagramable’

Ilustrasi (tribunnews.com)

Ada banyak kejadian menarik belakangan ini. Mulai dari kehadiran Bripda Ismi Aisyah yang dianggap menjadi penyejuk di tengah teror bom panci di Bandung sampai insiden La La Land yang ‘gagal’ menyabet Piala Oscar. Semua kejadian itu terdokumentasi dengan baik dalam bentuk foto-foto. Termasuk foto kita yang lucu-lucu itu. Kita?

Nah, pertanyaannya adalah seberapa instagramable kah foto-foto tersebut? Itu menjadi penting supaya terlihat keren, bukan? Kalau keren, tentu bakal mengundang respon dan akhirnya apa yang ingin kita sampaikan lewat foto bisa tersalurkan dengan baik, meski belum tentu benar.

Sejak aplikasi Instagram dirilis oleh Kevin Systrom dan Mike Krieger pada 2010, para remaja milenial saling bertarung untuk membuktikan siapa yang paling eksis. Bersenjatakan ponsel pintar plus kamera canggih, mereka berlomba-lomba memotret gambar yang dianggap bagus, lucu, menarik, punya nilai seni tinggi, lalu dipoles dikit supaya bisa dibilang instagramable banget.

Dalam urban dictionary, instagramable bisa diartikan foto atau gambar yang layak dipajang di Instagram. Sebetulnya agak banal terdengar di telinga. Tapi, ya itulah, sebagian besar dari kita kerap menamai atau suka menyematkan label, tak terlalu peduli apakah itu pantas atau tidak. Yang penting bisa diterima oleh mayoritas, maka itu menjadi sebuah kebenaran baru.

Foto-foto yang bisa disebut instagramable juga bermacam-macam jenisnya. Bisa potret diri seluruh badan yang dibalut dengan pakaian bermerek, bisa lanskap indah pegunungan, laut, atau perkotaan, bisa interior suatu kafe atau restoran mahal, atau bisa juga jari kelingkingmu yang dicelup tinta setelah nyoblos calon gubernur.

Ah, manusia memang makhluk Tuhan yang paling kreatif. Setiap detik, selalu ada yang baru dari gambar yang instagramable itu. Instagram membuat orang-orang yang tadinya tidak peduli dengan seni, mulai berebut menjadi seniman dadakan. Sebuah surga kecil tentunya bagi mereka yang memang mempunyai hobi di bidang seni fotografi, lukis, musik, dan film.

Instagram, selain menjadi media atau sarana seni, juga banyak digunakan sebagai media pemasaran untuk mereka yang berdagang. Yang menjadi problem atau kalau boleh disebut ‘yang agak mengganggu’ adalah mereka yang menjadikan Instagram sebagai panggung sandiwara. Sebetulnya bukan cuma di Instagram, tapi juga di Path, Twitter, atau Facebook yang kini sudah agak ditinggalkan terutama oleh anak muda.

Instagram juga sudah menjadi pendopo baru yang lebih lapang dan segar. Candu nikmat yang sulit dihalau godaannya. Saya sudah menyadari ini sejak lama dan rasanya ingin membahas baik dan buruknya fenomena instagramable ini. Kalau Star Wars IV A New Hope saja bisa mempunyai A Rogue One: Star Wars Story sebagai sebuah spin-off, kenapa saya tidak?

Pada suatu malam, teman saya bernama Abdu Rizal S Syam, sempat mengeluh di beranda Line. Kira-kira begini… “Menyaksikan mereka yang tiap hari berusaha membangun citra di media sosial yang sejujurnya begitu berbeda dengan kehidupan nyata itu ternyata sangat mengesalkan.”

Saya membacanya dengan perasaan nelangsa. Dalam hati saya berujar, “Ya, memang sudah begitu adanya. Memangnya kita bisa apa?”

Selain memunculkan para fotografer dan penikmat seni kemarin sore, fenomena instagramable juga melahirkan para pecinta alam baru. Dan, kita harus berterima kasih pada film 5 CM, yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Donny Dhirgantoro. Lewat film yang dibintangi Herjunot Ali dan Raline Shah itu, Mahameru dan Bromo kini jauh lebih padat daripada sebelumnya. Penghasilan orang-orang yang tinggal di sana pun otomatis bertambah.

Bagi remaja era milenial, tampaknya belum afdol jika belum melengkapi foto-foto di Instagramnya dengan latar belakang pemandangan padang pasir Bromo, langit puncak Mahameru, barisan pepohonan camar dan pinus, serta keindahan danau di Ranu Kumbolo.

Bicara soal pemandangan atau lanskap, saya jadi teringat dengan akun Instagram milik Nicholas Saputra, yang namanya melejit berkat film Ada Apa Dengan Cinta? (Rudi Soedjarwo, 2002), meski saya lebih menyukai aktingnya di film Janji Joni (Joko Anwar, 2005). Dari sekian banyak aktor, aktris, penyanyi, atau penggiat dunia hiburan lainnya di Indonesia raya ini, mungkin hanya Nicholas Saputra yang akun Instagramnya sering saya tengok.

Melihat foto-foto lanskap atau interior/eksterior suatu tempat dan bangunan yang dia ambil dari berbagai pelosok dan penjuru, baik dari dalam dan luar negeri, membuat saya ngos-ngosan. Seperti Jeffrey Beaumont, yang dari dalam lemari pakaian, mengintip Dorothy Vallens bercinta dengan gilanya sama Frank Booth di film Blue Velvet (David Lynch, 1986).

Foto-foto yang diambil Nicholas membuat saya ingin ke sana, tapi sudah terasa seperti di sana. Ah, bisa jadi ini hanya imajinasi. Alih-alih, memasang foto selfie seperti banyak artis lainnya, Nicholas Saputra justru memajang foto-foto petualangan di berbagai tempat, hasil penjelajahannya ke lokasi yang belum banyak orang ketahui.

Nicholas seperti ingin menegaskan dan menyadarkan kepada para remaja milenial bahwa begitulah esensi sebenarnya dari yang namanya travelling. Bukan seenaknya menyebut liburan atau piknik sebagai travelling, meski saya yakin dia tidak bermaksud begitu. Ini hanya kelancangan saya sebenarnya yang menjadikan Nicholas sebagai contoh.

Entah kenapa, sosok Nicholas Saputra juga mengingatkan saya pada Christopher McCandles. Keduanya sama-sama berprestasi di bidangnya masing-masing dan mempunyai hasrat ‘liar’ yang berbeda dari rekan atau teman-teman sejawat.

Misalnya, Christopher. Saat pemuda-pemuda seumurnya sibuk mencari kerja atau mungkin kekasih untuk dinikahi setelah wisuda, Chris justru menghancurkan semua identitas yang dia punya, membakar uang yang dia miliki, dan mengenyahkan pelat mobil agar bisa berpetualang dengan bebas tanpa harus merasa was-was.

Sama seperti Nicholas Saputra, saat rekan-rekan artisnya wara-wiri di acara talk show atau gosip agar terus diingat pemirsa, dia justru asyik dengan dunia dan petualangannya sendiri. Tapi saya tidak mau menyamakan kedua sosok ini. Sebab, kesamaan mereka hanya sebatas itu.

Kisah hidup Christopher McCandles berakhir tragis, dan kita semua tentunya tidak ingin Nicholas Saputra berakhir seperti itu. Meski jarang kita lihat kehadirannya di televisi, toh Si Joni masih terus berkiprah di dunia perfilman. Apalagi dalam waktu dekat ini, kita akan kembali melihat akting ciamiknya sebagai makhluk supranatural di film Interchange.

Media sosial mungkin membuat kita mendapatkan euforia tertentu yang akhirnya membuat kita nyaman. Tapi itu kenyamanan yang semu. Pada akhirnya, kita harus berpikir. Apakah membangun citra diri palsu di media sosial itu adalah hal yang paling penting dalam hidup? Apa semua itu benar-benar membuat kita nyaman?

Kita bisa ambil contoh dari Christopher McCandles tadi. Dia yang tadinya ‘kabur’ karena ingin meninggalkan semua kepalsuan hidup, akhirnya malah hidup dengan kepalsuan itu sendiri dengan menggunakan nama palsu pula selama dua tahun. Pada akhirnya, dia toh juga mengungkapkan tentang jati dirinya sesaat sebelum meninggal.

Memang pada akhirnya, kita harus belajar merelakan. Seperti kita harus merelakan bahwa Moonlight lah yang memenangi kategori Film Terbaik di ajang Piala Oscar, terlepas dari masalah politik atau bukan. Pun kita harus merelakan Bripda Ismi yang mungkin sudah punya calon suami.

Dan tentunya, mungkin pada saatnya nanti, kita harus merelakan tentang jati diri kita yang sebenarnya, baik di dunia nyata maupun maya. Baik instagramable atau bukan. Karena cepat atau lambat, semua orang akan tahu tentang jati diri kita yang sebenarnya. So, relakan sajalah…

  • Juru Review

    Terlepas dari instagramable atau tidaknya postingan ini. Saya menikmati tiap paragrafnya. haha.

    Hidup mungkin akan lebih damai jika media sosial tidak pernah lahir. Media yang sok-sok an sosial padahal mah… ya kadang-kadang aja. Tapi, ya mau bagaimana lagi. Saya bahkan datang ke blog ini dari link yang ada di twitter. Jadi,… media sosial kayanya engga buruk-buruk amat.

    Salam kenal. Mas Wahono

  • Junita Sari Siregar

    masalahnya manusia mempunyai basic instint yang ingin selalu menjadi “yang” dalam kehidupannya. Apapun akakn dilakukan demi menjadi “yang”. Media sosial hanya salah satu alat untuk menunjukkannya, bahkan cenderung aman karena ke”riya”an dan jati diri seolah-olah tidak terlihat secara langsung. Wallahualam

  • Artha Amalia

    Kalau ingin menjelajah macam Nicho, ada baiknya cek harga tiket perjalanan dulu via priceza.co.id biar dapat yg termurah, lebih irit dan bisa bikin list jalan2 yg lebih jauh lagi 😁