“Kitorang Samua Bahagia. Kasihan Warga Jakarta, Mamaaee…”

“Kitorang Samua Bahagia. Kasihan Warga Jakarta, Mamaaee…”

Kota tua Jakarta (wisatajawa.co.id)

Lama-lama kasihan juga jadi warga Jakarta. Tra habis-habis berkelahi. Setiap saat, ada saja topik yang panas. Samua (baca: semua) ini memang bermula sejak pilkada lalu.

Kitorang mungkin berpikiran sama, bahwa perdebatan para fanboy di Jakarta akan berakhir setelah pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno terpilih dan dilantik menjadi gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta.

Ternyata kelahi masih jadi bumbu, bahkan seminggu sebelum pelantikan gubernur DKI Jakarta, gelanggang media sosial sudah panas. Sindiran ‘gagal move on’ yang sebelumnya ditujukan kepada pendukung Anies – merujuk pada hasil pilpres 2014 –, kini berbalik meninju muka pendukung Ahok.

Kata pepatah, roda memang berputar. Kadang di atas, kadang di bawah, kadang kempes kena paku tukang bengkel. Adoh mamaaee…

Belum sehari Anies -Sandi memimpin Ibu Kota, sindirian dan perdebatan sudah berkumandang. Itu gara-gara pidato politik Anies yang menyebut kata ‘pribumi’.

Ramai orang – yang belum tentu pendukung Ahok – menyindir pernyataan yang dianggap rasis itu. Anies sendiri sudah mengklarifikasi dan pendukungnya menganjurkan agar para penyindir memahami konteks.

Beta sendiri mendengar ucapan itu langsung memeras ingatan. Apa selama ini Jakarta masih dipimpin oleh Jan Pieterszoon Coen? Atau, jangan-jangan, selama ini kitorang memang belum merdeka?

Menyaksikan perdebatan demi perdebatan yang terjadi, beta sampai pada satu kesimpulan : orang Jakarta itu senang membebani diri sendiri.

Bagaimana tidak, rutinitas di Jakarta itu menyeramkan. Bangun pagi tergesa-gesa, kayak langit mau runtuh saja. Belum sampai di kantor sudah dibikin kesal karena macet. Sampai di kantor tambah suntuk kena marah atasan. Kerjaan tak habis-habis.

Pas pulang masih harus berhadapan dengan macet. Besoknya begitu lagi. Saat akhir pekan mau liburan ke Puncak atau ke Bandung, lagi-lagi berjibaku dengan jalanan yang menggila. Kasihan.

Beta tra habis pikir, dengan rutinitas macam begitu orang Jakarta masih punya waktu untuk kelahi di media sosial. Masih dipaksa pikirin pilkada, yang sudah pasti tak membuat dorang punya kerjaan berkurang, gaji bertambah, atau tiba-tiba atasan ajak plesir ke Alexis.

Jakarta itu kota yang betul-betul merasa penting. Saking pentingnya sampai-sampai gubernur yang baru menganggap hanya Jakarta yang pernah berhadap-hadapan dengan penjajah. Lhaaa… Pak Gub lupa bagaimana kitorang punya sodara dibantai di Banda?

Lagipula, memangnya benteng-benteng yang masih berdiri kokoh di Ternate dan Tidore itu tiba-tiba muncul dari kawah Gamalama? Apa dikira pengusiran Portugis oleh Sultan Baabullah yang diyakini menunda penjajahan di Nusantara itu hanya mitos belaka?

Sulit untuk menyanggah perkataan Andre Vltchek yang menganggap Jakarta sebagai kota fasis paling sempurna. Beta pernah menulis bahwa Jakarta bukan hanya fasis terhadap warganya, tetapi juga kepada daerah lain di Indonesia.

Beta pernah berbincang dengan dua orang kawan yang dulu kuliah di Bandung dan Yogyakarta. Kitorang berbagi kisah semasa merantau. Hingga kawan yang kuliah di Yogya berbicara dengan penuh keyakinan bahwa ia tak habis pikir dengan orang yang masih mendiami Jakarta.

Bagi dia, sulit menahan emosi jika sedang di Jakarta. Dengan kualitas udara, cuaca, plus kelakuan orang di jalan, tentu butuh effort lebih agar bisa survive di Jakarta. Dengan kondisi seperti itu, selalu muncul pertanyaan di kepala: Itu dorang di Jakarta bahagia atau tidak ee?

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) tentang Indeks Kebahagiaan Indonesia tahun 2017, DKI Jakarta menempati urutan ke-19 dengan indeks sebesar 71,33.

Untungnya masih sedikit di atas rata-rata nasional yang sebesar 70,69. Indeks ini mencakup tiga dimensi, yaitu kepuasan hidup, perasaan, dan makna hidup.

Namun, untuk urusan kebahagiaan, Jakarta nampaknya harus belajar banyak kepada Provinsi Maluku Utara. Bukan, ini bukan karena beta berasal dari Maluku Utara.

Data BPS tadi mengungkapkan bahwa Malut menempati urutan pertama sebagai provinsi paling bahagia di Indonesia, dengan indeks 75,68. Urutan kedua masih tetanggaan, yakni Provinsi Maluku, dengan indeks 73,77.

Jujur saja, beta kaget pas tahu bahwa Provinsi Maluku Utara paling bahagia se-Indonesia Raya. Sebab, kalau begitu, berarti beta juga bahagia. Beta bingung bersikap terkait data tersebut, apakah mesti senang atau sedih?

Begini, Kota Ternate yang bisa dibilang pusat perekonomian Maluku Utara dinobatkan sebagai kota termahal ke-3 di Indonesia. Dengan kata lain, biaya hidup di kota yang berada di kaki Gunung Gamalama ini tergolong sangat tinggi. Hanya kalah dari DKI Jakarta dan Jayapura.

Mari kitorang runut logikanya. Beta pikir wajar saja Jakarta dan Jayapura termasuk kota mahal, sebab kedua kota itu termasuk kota besar. DKI Jakarta adalah Ibu Kota Negara, sedangkan Jayapura adalah kota di ujung Timur Indonesia yang tentu aksesnya lebih jauh.

Lha Ternate? Ini adalah kota yang bisa kitorang kelilingi hanya dalam waktu kurang dari 2 jam, tapi biaya hidupnya mengalahkan kota besar lainnya seperti Surabaya, Medan, dan Makassar.

Sepintas memang terkesan bahwa kitorang di Ternate ini hidup di tanah surga saja. Sudah kaya raya karena mampu hidup di kota mahal, tapi masih bahagia. Mau bukti bahwa manusia di Maluku Utara itu bahagia? Lihat saja Adlun Fikri.

Adlun yang juga pegiat literasi itu dua kali berurusan dengan aparat. Pertama, berurusan dengan polisi karena unggahan video yang bikin heboh itu. Kedua, Nyong (pemuda) yang mengaku mantan anak punk ini harus menginap di Kodim, karena dikira antek kuminis gaya baru.

Toh, tiap kali beta bertemu dengannya, dia selalu terlihat bahagia. Sekarang bahkan terkenal sebagai tukang cerita Mop.

Lalu, kalau bicara pilkada, konflik pilkada di Maluku Utara itu tak kalah alot, lho. Bung dan Nona bisa googling bagaimana konflik yang terjadi saat pemilihan gubernur Maluku Utara tahun 2008?

Konflik itu bahkan menjadi salah satu konflik pilkada terpanjang dalam sejarah Indonesia. Tapi setelah itu, tra ada tuh sindiran-sindiran drama selaiknya pilkada DKI Jakarta. Terlepas dari belum booming-nya media sosial saat itu.

Wakapolri Komjen Pol Syafruddin pernah bilang bahwa Maluku Utara adalah daerah paling rawan konflik pilkada pada 2018. Tapi, sampai saat ini, kitorang biasa-biasa saja. Tak seperti di Ibu Kota sana, yang sudah panas isu SARA setahun sebelum hari pencoblosan.

Mungkin karena kitorang di Maluku Utara sadar bahwa isu SARA itu dampaknya mengerikan dan tra ada gunanya. Kitorang sudah pernah mengalami itu dan tak ingin terjadi lagi.

Pokoknya, walaupun harga paket internet yang mahalnya naudzubillah itu, kitorang tetap bahagia. Perusahaan tambang – mengutip kata Adlun– mencuri kekayaan alam, kitorang tetap bahagia. Pokoknya bahagia aja terus, sampai lupa kapan melawannya. Gitu kan?

Lagipula, berbeda dengan Jakarta, kitorang kalau lagi malas-malasan, tinggal guling sedikit sudah sampai pantai. Lha, sodara-sodara di Jakarta? Masa kalau suntuk kalian pergi ke pinggiran Ciliwung? Atau, ke pantai Ancol yang mahal dan warna airnya kalah jernih dari cap tikus itu. Adoh mama sayangee…

Apa perlu beta kirim Adlun ke Jakarta supaya cerita-cerita MOP-nya bisa bikin kalian bahagia?