Bahagia Jadi ‘Haters’ Baru

Bahagia Jadi ‘Haters’ Baru

lovethispic.com

Artikel ini bukanlah tandingan nasihat-nasihat saleh yang sering meluncur tanpa hambatan dari mulut sang motivator. Ini hanya upaya untuk menggeledah fenomena haters yang belakangan semakin marak.

Bagaimana haters dilihat dari sudut pandang tiga filsuf sekaligus. Wah, kayaknya bakal serius-serius amat ini tulisan. Tenang, jangan khawatir, tetap seruput kopimu. Tetap nikmati segala lelucon yang berseliweran di sekelilingmu.

Fenomena haters sebetulnya muncul lebih dahulu sebelum hoax jadi komoditas di media sosial. Haters muncul di segala ruang, entah itu ruang baca, ruang dengar, atau ruang perbincangan. Hate (Inggris) berarti membenci. Haters merujuk pada orang yang membenci atau menebar kebencian.

Secara sosiologis, kita hidup dalam sistem sosial yang berpotensi terjadinya aneka benturan. Salah satunya, benturan perasaan yang kemudian melahirkan sikap membenci atau saling benci.

Jadi, fenomena ini sebetulnya telah ada sejak pertama kali manusia hidup bersama. Tapi istilah haters itu sendiri baru dikenal belakangan ini, terlebih di era digital. Barangkali ini sisi gelap dari generasi milenial bahwa sesuatu yang efisien tak serta-merta positif.

Dalam observasi yang coba saya buat, banyak orang sudah bosan bermedia sosial ria, karena sudah dipenuhi oleh haters. Yang biasanya tidak tampak di dunia nyata, kini bisa kita saksikan dengan mata telanjang tanpa diblur, bagaimana haters bekerja. Entah siapa juragannya?

Bagaimana tidak bosan, kalau states orang isinya caci-maki, iri, dengki, iri, kawan-kawannya. Tiba-tiba kangen sama postingan foto bibir monyongmu. Status haters yang sedemikian rupa itu jelas bisa memperuncing konflik. Apalagi ditambah hoax, maka semakin paripurna menjadi haters.

Tiga Filsuf

Keberanian berpikir logis atau kebebasan bernalar sejatinya dapat menjadi senjata untuk menganalisis setiap fenomena. Haters bisa digeledah, asal geliat sensitivitas dapat diredam demi sesuatu yang lebih masuk akal.

Menurut filsuf beken asal Jerman, Immanuel Kant, sebagaimana prinsip dasar fenomenologi, yang dapat manusia ketahui itu hanyalah ‘das ding für mich’ atau fenomena yang tampak. ‘Das ding an sich’ atau sesuatu dalam dirinya sendiri, tidak dapat diketahui.

Meski kita dapat mengkritisi Kant dengan pertanyaan, dari mana Kant tahu kalau ‘das ding an sich’ itu ada? Kesimpulan logisnya bahwa orang lain hanya menilai apa yang tampak. Yang paling tahu tentang diri kita hanyalah kita sendiri.

Serius amat?

Jadi begini sayang, sama halnya dengan ‘aku mencintaimu dengan alasan yang tak selesai-selesai’. Ada hal-hal di dalam diri yang tak kita ketahui. Kita menyebutnya, misteri. Itu…

Nah, filsuf besar lainnya adalah Martin Heidegger, mantan kekasih Hannah Arendt yang juga filsuf itu. Heidegger menyebut definisi sebagai pemiskinan atas realitas. Definisi itu batasan. Misalnya, orang bertanya, siapa itu Soekarno? Jawaban yang paling cepat adalah presiden pertama Republik Indonesia.

Ini pembatasan atas realitas Soekarno, karena selain presiden pertama, beliau juga proklamator kemerdekaan, korban deportasi yang diasingkan di Ende-Flores, penggagas Pancasila, salah satu tokoh dunia, pencinta perempuan, bapaknya Megawati, dan seterusnya.

Jadi, ketika seseorang menilai kita, pada saat yang sama, mereka sedang memiskinkan realitas kita, yang sebetulnya kaya. Jadi, saya bukan hanya tampan, tapi juga ngangenin. Halahh…

Saya akan mengutip pernyataan filsuf lainnya, Johann Gottfried Herder. “Jeder Mensch hat ein eigenes Mass, gleichsam eine eigene Stimmung aller seiner sinnlichen Gefuehle zueinander.” Setiap manusia memiliki takaran masing-masing, semacam suasana khas rasa indrawi yang satu dengan yang lain.

Kalau kita sepakat dengan Herder, sekiranya kita bukanlah yang paling benar, sehingga menganggap orang selalu kurang bahkan salah. Selain itu, nah ini yang paling penting, kita tidak boleh memaksa orang lain berdasarkan isi kepala kita, sedangkan kita menolak patuh di bawah kemauan orang lain. Suka mengkritik, tapi marah besar kalau dikritik. Sumbu pendek, kalau istilah kekiniannya.

Haters Baru?

Betapa pun rasionalitas senantiasa mendesak kita untuk berpikir logis, meski isi hati tetap saja menjadi urusan aku dan kamu, bukan dia, tsahh… Jadi, maksudnya begini, uraian tiga filsuf di atas tidak serta-merta menjadikan setiap orang bersabar, ketika mendapat perlakuan atau penilaian yang tidak benar dari orang lain.

Coba kita lihat Pak Beye. Siapa pun, kapan pun, dan di mana pun, marah memang hak asasi yang bebas diekspresikan dengan cara apa saja, sejauh itu wajar. Pak Beye tentu banyak pengagumnya, banyak pula haters-nya.

Namun, apakah respon kita terhadap haters lantas menjadikan kita haters baru? Untuk pertanyaan itulah, artikel ini saya maksudkan.

Setiap membaca states atau meme yang ditampilkan di aneka media daring, saya berpikir, respon terhadap haters betul menjadikan kita haters baru. Kita meluapkan segala apa yang mengganjal di hati, dengan bahasa yang tak kalah menyakitkan atau setidaknya menyindir.

Sadar atau tidak, pada saat yang sama, kita juga sedang menebar kebencian kita pada haters. Kita haters baru? Kendati kita berhak untuk itu, semoga saja tidak demikian. Semoga apa yang kita luapkan betul-betul sekadar membuang energi negatif yang tidak penting. Semoga kamu tetap bahagia bersamanya, eh, tetap berbahagia walau menjadi haters baru…