Ayah Urban dalam Fantasi dan Keniscayaan Cuti Satu Bulan

Ayah Urban dalam Fantasi dan Keniscayaan Cuti Satu Bulan

bizis.ro

The Accountant, Dangal, dan Captain Fantastic adalah tiga film terakhir yang saya tonton bertemakan relasi personal antara ayah dan anaknya. Ketiganya serupa, karena sejak dini anak-anak diajarkan tentang realitas kehidupan dengan cara dan bahasa yang lugas.

Anak-anak dianggap layaknya orang dewasa, terutama dari cara komunikasi dan pola pikir. Pada setiap film tadi, pola ‘lemah lembut’ dalam mendidik anak dinihilkan. Namun, menyebutnya sebagai pola pendidikan yang kejam juga bukan sebuah penilaian yang bijak.

Film pertama adalah The Accountant, tentang sosok ayah dengan latar belakang militer yang membesarkan kedua anaknya, setelah ditinggal minggat oleh istrinya. Si istri yang sekaligus seorang ibu itu merasa kalau salah satu anaknya, yaitu Christian Wolff, mengidap obsessive compulsive disorder (OCD).

Christian kemudian beranjak besar. Ben Affleck adalah aktor yang berperan sebagai Christian dewasa di film bergenre drama psikologis sekaligus aksi laga tersebut.

Film yang disutradarai oleh Gavin O’Connor ini seolah ingin mengatakan bahwa seorang ayah dengan profesi militer dengan segala ‘kemachoannya’ juga bisa memberikan kasih sayang, meski dengan cara yang tidak mainstream.

Pola pendidikan sang ayah justru efektif. Hal ini juga tampaknya ingin mematahkan anggapan kalau ibu adalah sosok yang mutlak dalam memberikan kasih sayang di sebuah keluarga.

Film kedua adalah Dangal, film yang saya nikmati dengan kesusahan deskripsi, karena pada dasarnya saya bukan pencinta film India. Film India yang saya tonton hanya Mahabharata dan Ramayana di TV, ketika saya masih memakai celana SD. Selain itu, film Slumdog Millionaire dan aktor Aamir Khan bisa juga dijadikan pengecualian.

Dangal juga bicara tentang sosok ayah, mendobrak hal yang tabu di India tentang perempuan yang bergulat melawan laki-laki, tentang kesetaraan manusia yang Mahavir Singh Phogat (Aamir Khan) dan anak-anaknya pelajari bukan dari teori-teori di perguruan tinggi, tetapi dari cibiran.

Itu semua juga merupakan buah dari keberanian atau mungkin ambisi masa lalu sang ayah, tentang kontradiksi ayah dan pelatih yang menjadi satu, juga tentang keberanian simbolik perempuan India memotong pendek rambutnya.

Dangal, menjadi jajaran cerita yang dikemas dalam film yang menurut saya berhasil menyampaikan pesan bahwa olah raga bisa menjadi penawar dari kehidupan politik yang memuakkan, rasialisme, bahkan bias gender yang jelas.

Tak ubahnya seperti film Invictus yang menyampaikan bahwa olah raga Rugby bisa menjadi pemersatu kulit hitam dan kulit putih, ketika Nelson Mandela kerepotan mencari mediasi di antara mereka.

Atau, di sini kita bisa menikmati film Beta Maluku, dimana sepak bola menjadi penawar sakit akibat kerusuhan Poso. Ketika menonton sepak bola di dalam gereja tidak ditanya apa agamanya.

Kemudian di film ketiga yang mempunyai relasi kuat tentang sosok ayah adalah Captain Fantastic. Film ini bahkan lebih vulgar dengan nuansa dan romantisme kaum hippies ketika membesarkan anak-anaknya.

Dalam bahasa mereka, ‘mendirikan Taman Plato’ saat kolaborasi si ayah dan ibu (tokoh ibu harus mengalami kejadian tragis yang sedari awal perannya hanya digambarkan dengan surat wasiat dan bayangan mimpi). Mereka bersama anak-anaknya hidup di hutan – terpisah dari orang lain.

Tiap pagi, mereka berlatih kebugaran dan bela diri. Saat malam berdiskusi tentang sastra, politik, dan konstitusi negara. Berdebat tentang Marxisme atau saat anak yang paling kecil, Zaja, yang belum genap berumur 7 tahun, naik ke pohon bermain sambil menghina Polpot.

Pada hari lainnya, mereka bertanya tentang apa itu perkosaan, kokain, dan dalam satu kesempatan mereka merayakan bersama ulang tahun Noam Chomsky layaknya sedang merayakan ulang tahun anggota keluarga.

Namun, apa yang diungkapkan dalam tiga film di atas hanya ada di dalam layar lebar, walaupun Dangal diangkat dari kisah nyata. Tapi film tetap akan punya logikanya sendiri.

Dalam film, sering tidak diungkap secara rinci bagaimana misalnya si tokoh utama bisa bersetia dengan idealisme yang pasti membutuhkan sokongan materi.

Menonjolkan sisi heroik yang menyatu dengan idealisme seperti eksekusi tunggal dalam layar lebar. Jika upaya bertahan hidup yang digambarkan dengan adegan mencari nafkah secara rinci, bisa jadi ceritanya tidak fokus.

Situasi itu jelas berbeda dengan dunia nyata. Sekian banyak ayah mungkin hanya punya waktu sedikit untuk keluarga, terlebih anak-anaknya. Di zaman kiwari, terlebih bagi ayah-ayah yang mencari penghasilan di kota-kota besar, waktu adalah barang mahal yang harus mereka tebus untuk bisa membesarkan anak.

Hanya Sabtu dan Minggu, si ayah baru bisa bercengkrama dengan anak-anaknya, bahkan tidak sedikit beberapa dari mereka hanya mempunyai satu hari dalam seminggu.

Sepertinya situasi itu juga bukan hal yang harus mereka tanggapi dengan nggresulo. Mereka pasrah saja untuk sebuah pertimbangan yang lebih besar, supaya dapur tetap ngebul dan bertahan sebagai kelas menengah perkotaan.

Situasi yang mungkin bakal disesali seumur hidupnya adalah tidak bisa menemani istri saat kelahiran anak pertama, dan tidak bisa berbagi tugas dengan istri setelah beberapa minggu sesudah melahirkan. Kalaupun cuti untuk bisa ikut merawat si bayi, paling mentok bisa beberapa hari saja. Tidak lebih.

Momen satu bulan pertama setelah istri melahirkan, konon menjadi hari-hari yang akan terekam dengan kuat menjadi semacam bahan cerita, yang kelak akan terceritakan saat si anak yang masih merah tersebut tumbuh dewasa.

Bisa dibayangkan, bagaimana kesedihan si ayah urban saat dirinya tidak mempunyai stok cerita untuk disampaikan nanti. Ketika kelak si anak bertanya bagaimana dirinya diperlakukan saat dirinya lahir ke dunia pada satu bulan pertama.

Tentu, itu bukan kesalahan mutlak sang ayah, dan dirinya bisa menjawab pertanyaan itu dengan datar. “Maafkan ayahmu, Nak, yang tak punya banyak waktu ketika kamu baru lahir. Tempat ayah bekerja tidak memberikan banyak cuti.”

Sampai di situ, sebuah artikel di voxpop.id muncul. Judulnya “Ya, Kantor Saya Berikan Cuti Satu Bulan untuk Ayah”. Penulisnya Kokok Dirgantoro, salah seorang pendiri Opal Communications.

Layaknya obat mujarab, artikel itu seolah sedikit mengobati rasa gundah para (calon) ayah urban. Judulnya memang tampak provokatif, seolah ingin menantang perusahaan yang lebih besar ketika pelit memberikan cuti.

Sebelum memberlakukan cuti ayah selama satu bulan bagi karyawan, Opal juga memberikan cuti hamil kepada karyawati selama enam bulan. Gaji karyawan dan karyawati yang mengambil cuti tersebut tetap dibayar penuh.

Saya tidak tahu, apakah tiga orang ayah, pendiri Opal Communications itu, Kokok Dirgantoro, Febry Mahimza, dan Ariyanto pernah menonton tiga film di atas. Yang jelas, mereka adalah sosok-sosok ayah yang berani, yang memberikan sesuatu yang berharga untuk keluarga karyawan, yakni waktu.

Tapi, sepertinya ingin langsung disanggah oleh Kokok Dirgantoro dalam pamungkas artikelnya tersebut, “Tidak, saya tidak seheroik itu…”