Asmara dan Kehidupan dalam Secarik Kertas Isaac Newton

Asmara dan Kehidupan dalam Secarik Kertas Isaac Newton

Reference.com

Terinspirasi dari kisah-kisah petualangan seorang tukang kaca dari Cepu, seorang mahasiswa fisika merencanakan petualangan hebatnya sendiri. Tetapi, bukan mengunjungi berbagai pelosok dunia yang penuh misteri, melainkan berkelana melintasi waktu.

Sebagai orang yang setiap hari dicekoki teori ruang dan waktu, baginya itu bukan hal mustahil. Terlebih, ia memiliki relasi kuat dengan beberapa profesor hebat. Maka, ia pun berangkat ke Jepang untuk menemui Profesor Nobita Nobi, salah seorang ahli teori kuantum yang aktif mengembangkan mesin waktu.

Sesampainya di Tokyo untuk melihat prototipe mesin waktu karya profesor Nobi, ia meminta izin untuk menjadi penguji pertama mesin tersebut. Ia ingin sekali menemui Isaac Newton, seorang fisikawan terkenal pada abad ke-17. Sebab, yang paling tahu tentang teori-teorinya Newton, ya Newton sendiri. Bukan dirinya, profesor Nobi, atau orang lain.

Maka, bagi dia, menemui langsung Sir Isaac Newton FRS yang juga seorang matematikawan, ahli astronomi, filsuf alam, alkimiawan, dan teolog asal Inggris itu adalah koentji untuk menyingkap tabir kehidupan saat ini, termasuk persoalan cinta yang kadang absurd.

Setelah mendapat restu dari profesor Nobi, ia pun langsung menduduki kursi empuk mesin waktu yang mirip mobil balap Rio Haryanto. Tak lama, terdengar seperti suara mesin berderu kencang. Dalam hitungan beberapa detik, ia akan dibawa masuk ke lorong waktu, seperti debu yang disedot vacuum cleaner berkecepatan cahaya.

Profesor Nobi tak lupa memberikan semacam tombol bergambar rumah untuk kembali ke masa kini, jika sudah selesai urusannya dengan Newton. Pada akhirnya, setelah aba-aba dari profesor, si mahasiswa pun melaju menembus ruang dan waktu hingga ia sampai di sebuah ruangan kerja.

Kedatangannya yang tiba-tiba itu membuat kaget seseorang yang sedang tekun mengerjakan sesuatu. Si mahasiswa melihat ke orang tersebut, dan langsung mengenalinya sebagai sang fisikawan.

“Tuan Newton! Jangan takut, saya hanya ingin berbincang!” ujar si mahasiswa dalam bahasa Inggris, dengan akses yang Indonesia banget.

Newton berusaha menenangkan dirinya, lalu menghampiri si mahasiswa dengan perlahan. “Siapa… Anda?”

Si mahasiswa lalu mengajaknya duduk dan memintanya untuk mendengarkan penjelasan. Setelah itu, barulah Newton mengangguk-angguk.

“Ya begitulah, Tuan. Saya kesini ingin mendengar pendapat Tuan tentang bagaimana hukum-hukum sains yang sifatnya empirik itu berkorelasi dengan kehidupan nyata yang kadang bersifat abstrak,” tutur si mahasiswa.

“Oh, kenapa tidak? Kebetulan saya sedang mengerjakan beberapa rumusan,” kata Newton, sambil tersenyum.

Ia lalu mengambil pena yang terletak di dekat apel – inspirasinya dalam menemukan hukum gravitasi – dan mulai menjelaskannya sambil menulis di secarik kertas.

“Dalam hukum gravitasi, gaya tarik di antara dua objek akan semakin kuat, jika jarak antara keduanya semakin dekat. Begitu pula sebaliknya.”

Si mahasiswa mengangguk.

“Apakah ini sama dengan hubungan asmara, dimana cinta sepasang manusia akan semakin kuat, jika mereka lebih banyak menghabiskan waktu secara berdekatan?” ujar si mahasiswa. “Apakah ini juga tidak terbatas pada hubungan asmara, tetapi juga hubungan keluarga?”

Ia pun menceritakan kepada Newton bahwa pada masanya hidup seorang motivator terkenal, yang memisahkan diri dari keluarganya yang lama. Namun, sang motivator begitu dekat dengan keluarga yang baru. Alhasil, anak dari masa lalu sempat tak diakuinya.

Hubungan yang jauh antara sang motivator dan anaknya tersebut sudah berlangsung sejak lama, sehingga gaya tarik berupa hubungan ayah dan anak yang seharusnya kuat malah menjadi sangat lemah.

“Tetapi, pada masa depan nanti, ada sebuah fenomena yang bernama LDR alias Long Distance Relationship,” tutur si mahasiswa kembali.

Newton hanya menyorotkan matanya, tanda penasaran. Sebelum dia bicara, si mahasiswa yang masih unyu-unyu berapi-api itu langsung melanjutkan pembicaraan.

“Ada fenomena dimana sepasang manusia mampu mempertahankan cintanya, meski jarak mereka terpisah jauh. Di sisi lain, ada pasangan yang selalu berdekatan, namun akhirnya putus dalam waktu singkat.”

Biasanya, kedekatan antara sepasang manusia malah membuka aib sifat-sifat yang tidak disukai oleh masing-masing individu. Mereka adalah orang-orang bebal dalam bertoleransi dan sulit mengalahkan ego. Padahal, hubungan asmara membutuhkan toleransi – terkadang pengorbanan – serta mengesampingkan ego.

“Pada masa depan nanti, Tuan, cinta adalah sebuah anomali. Terkadang cinta jarak jauh lebih langgeng daripada pacar cinta lima langkah,” jelas si mahasiswa, sambil mencoba menerawang jauh, tapi mentok di langit-langit.

“Itu karena massa, yaitu suatu karakteristik yang mendefinisikan sebuah objek. Sesuatu yang bersifat tetap,” ujar Newton memecah keheningan. “Ingat, gaya tarik di antara dua benda berbanding lurus dengan massa keduanya. Semakin besar massa, semakin besar gaya tariknya. Tariklah kesimpulan dari pernyataan itu.”

Si mahasiswa masih merenung, dan akhirnya mengangguk-angguk. “AHA! Massa atau suatu karakteristik yang mendefinisikan sebuah objek itu adalah kepribadian manusia. Semakin kuat kepribadian, semakin besar gaya tarik di antara mereka yang menjalin hubungan asmara, meski terpisah jarak. Tak ada anomali!”

Tapi, tak lama, setelah merasa mendapatkan jawaban, si mahasiswa kembali merenung, seperti masih ada yang mengganjal dalam pikirannya. “Apakah kau sudah selesai denganku?” sahut Newton.

“Satu pertanyaan lagi, Tuan. Apakah hukum gerak Tuan mampu mendeskripsikan kehidupan?” kata si mahasiswa. Newton pun langsung menimpali, “Adalah hukum ketiga; aksi sama besar dengan reaksi, namun berbeda arah.”

Spontan si mahasiswa langsung membalas. “Apakah yang Tuan maksud itu bahwa seseorang yang melakukan tindakan tertentu, maka ia akan mendapatkan balasan yang setimpal?”

Newton hanya diam, sedangkan si mahasiswa kembali mengangguk-angguk. Dan, ia merasa sudah selesai dengan Newton. Saatnya berpamitan, kembali ke masa kini. “Kalau begitu, saya pamit Tuan. See you in another life.”

Namun, baru berjalan beberapa langkah, wajah si mahasiswa tampak panik. Tangannya terus merogoh kantong celana. Tiba-tiba terduduk lemas. “Ada apa lagi?” celetuk Newton. Si mahasiswa menjawabnya dengan bibir bergetar. “Ke… Ke… Kelihatannya tombol saya untuk pulang tercicir di lorong waktu…”

*Artikel ini berkategori Fiksi Ilmiah

  • Wah mantap sekali. Saya tidak bosan setiap membaca artikelnya. Yang ada saya malah ingin mencari misteri setiap kata.

    • Kurnia GS

      Hai, tengs apresiasinya ya 😀