Arguasme Rame-rame
CEPIKA-CEPIKI

Arguasme Rame-rame

Ilustrasi (irishtimes.com)

Daripada pusing memikirkan apakah kekira dan gegara­ – untuk menyebut ‘kira-kira’ dan ‘gara-gara’ – layak atau tidak dimasukkan ke dalam KBBI – menyusul tetiba untuk menyebut ‘tiba-tiba’ – saya kira lebih baik tim penyusun kamus tersebut mempertimbangkan satu kata yang lebih ­aktual: Arguasme.

Nanti bisa diberi definisi: “Arguasme adalah puncak kenikmatan berdebat, dialami pada akhir perdebatan setelah memenangkan atau merasa memenangkan sebuah perdebatan.”

Selain mengoceh tiada henti, mengutip kata-kata mutiara, membagikan foto makan siang, dan keranjingan swafoto, saya kira hobi baru yang ikut tumbuh bersama media sosial adalah berdebat.

Orang berdebat mulai soal dari soal agama sampai soal pilkada, bahkan orang bisa berdebat soal warna gaun sampai kucing yang sedang naik atau turun tangga. Seolah-olah kalau sehari saja tidak berdebat di media sosial, badan rasanya gatal-gatal.

Bahkan dalam konteks pemilu, entah itu pemilihan presiden atau gubernur, sekarang sudah ada acara resminya. Diselenggarakan oleh KPU dan disiarkan oleh televisi nasional. Tentu tujuannya baik, untuk menjelaskan visi dan misi setiap pasangan calon. Masalahnya, di media sosial, perdebatannya meluas menjadi perdebatan antar para pendukung. Seperti ada festival debat.

Setahu saya, KBBI atau Kamus Besar Bahasa Indonesia tidak punya lema untuk menggambarkan debat beramai-ramai seperti itu, tapi kalau dalam bahasa asing mungkin dia akan disebut: argy.

Selain membahas dan tentu saja berdebat soal visi, misi, dan program-program pasangan calon idolanya, pertama sekali orang akan berdebat soal siapa yang memenangkan perdebatannya. Repotnya, semua orang merasa menang.

Saya tidak tahu bagaimana cara mengukur menang atau kalahnya sebuah perdebatan. Tapi yang jelas, tidak mungkin semua memang. Ada yang menang, ada yang cuma merasa menang.

Mungkin yang cuma merasa menang itu kita sebut saja sedang mengalami ‘arguasme palsu’ atau kalau mau dialihbahasakan ke dalam bahasa Inggris: fake arguasm.

Sepertinya, kebutuhan orang untuk mendapatkan Arguasme ini sudah sampai ke titik puncak. Pasangan calon yang menolak memenuhi undangan sebuah debat akan dirisak habis-habisan di media sosial.

Seperti sebuah pertandingan olahraga, ketidakhadirannya membuatnya dianggap kalah WO. Bahkan untuk memenuhi kebutuhan mendapatkan arguasme tersebut, orang sampai perlu mengundang dr Zakir Naik, jawara debat agama dari India, untuk berdebat di Indonesia.

Kata orang, “Sabar itu susah, makanya hadiahnya surga. Kalau gampang, hadiahnya paling-paling kipas angin.” Nah, debat itu, kalau calon presiden atau calon gubernur yang berdebat, hadiahnya tentu saja menjadi presiden atau gubernur. Lha, kalau pendukungnya yang berdebat, hadiahnya apa?

Saya belum pernah mendengar KPU menyediakan payung atau piring cantik sebagai hadiah untuk pendukung yang memenangkan debat di media sosial. Begitu juga soal agama, belum pernah saya dengar surga akan diberikan kepada mereka yang menang debat di media sosial.

Mungkin bahagia itu memang sederhana, bahkan menang atau merasa memenangkan sebuah perdebatan sudah bisa membuat orang bahagia. Di media sosial, dia bahkan bisa di-capture, lalu dipamerkan di dinding atau lini masanya. Arguasme yang dialami bisa dirasakan kenikmatannya selama berhari-hari, bahkan bisa dibangkitkan lagi dengan membagikan kembali foto tangkapan tadi di akun media sosial.

Padahal, perdebatan di media sosial itu lebih sering menjadi ajang adu tautan saja. Orang pertama membagikan berita dari satu media, orang kedua mendebatnya dengan menempelkan berita dari media yang lain, lalu orang pertama membantahnya dengan menempelkan berita dari media yang lain lagi, dan seterusnya.

Jadi yang sedang berdebat itu sebenarnya adalah media-medianya. Media-media itu jadi seperti tim sukses buat orang yang sedang berdebat, sementara yang berdebat tadi mungkin malah lagi santai-santai di rumah, gugling, dan nonton sinetron Cinta dan Rahasia, lalu termehek-mehek ketika Rizki berlatih nembak Nadine bersama Gita.

Atau, mungkin debat publik sebenarnya juga bisa digunakan untuk mencari pasangan. Jadi daripada berkelahi di gudang sekolah, seperti Rangga dan Borne di AADC ketika memperebutkan Cinta, keduanya bisa memaparkan program-programnya kalau diterima oleh Cinta.

Jadi Cinta tidak akan tertipu, dijanjikan cuma akan ditinggal ke Amerika selama satu purnama oleh Rangga, tapi kenyataannya beratus-ratus purnama. Atau seperti Gita tadi, ditembak oleh Rizki, eh, ternyata cuma latihan. Kan baper?

Eh, tapi sudah pernah ada kok, perdebatan yang berujung dapat pasangan. Konon Alvin Faiz menikahi Larissa Chou setelah memenangkan perdebatan soal agama. Kalau ini, Arguasmenya bisa bertahan sampai seumur hidup. Dan ini sepertinya akan membuat debat-debat soal agama di media sosial akan tetap menyala.

Para jomblo yang merangkap sebagai keyboard warrior cum cyber army akan semakin bersemangat berdebat soal agama di media sosial. Sebaliknya, buat ibu-ibu, perlu diwaspadai kalau bapak-bapaknya terlihat begitu bersemangat berdebat di media sosial, jangan-jangan selain ingin mendapatkan Arguasme, bapak-bapak itu juga sedang mencari yang baru.

  • Rosyidi Alwan

    Suka tulisannya, om Cepi.