Jadi Sebenarnya Enak Tinggal di Apartemen atau Perkampungan, sih?

Jadi Sebenarnya Enak Tinggal di Apartemen atau Perkampungan, sih?

Muhadkly alias Acho (kapanlagi.com)

Kasus komika Muhadkly MT alias Acho dengan pengelola Apartemen Green Pramuka berakhir damai. Kasus ini sempat ramai dan dukungan yang mengalir ke Acho pun begitu deras, mulai dari hestek #AchoGakSalah sampai petisi onlen.

Kalau dilihat dari foto terakhir setelah sepakat berdamai, mas Acho tampak tenang-tenang saja. Nggak jauh beda ketika ia harus bolak-balik diperiksa atas tuduhan pencemaran nama baik.

Mas Acho juga selalu memberi keterangan yang kritis dengan tutur kata yang cukup lembut. Rambutnya klimis belah samping tersisir rapi dan kadang saat tersenyum, lesung pipi tipisnya menyembul.

Jujur saja, setelah ada kasus ini, saya jadi bisa menamati sosok mas Acho versi serius, yang ternyata wajahnya manis juga. Sebab kebanyakan tampang seorang komedian yang selalu tampil jenaka dan dituntut untuk selalu melucu itu tak nampak ganteng-gantengnya sama sekali.

Itulah sebabnya cowok humoris hanya akan selalu berdiri di belakang garis friendzone. Plis jangan baper…

Jika boleh ditebak, pria model mas Acho yang vokal, kritis, tegas tapi kalem ini adalah sosok seorang pemimpin. Buktinya, ia dipasrahi oleh penghuni apartemen lainnya untuk bisa menyuarakan isi hati mereka yang menjerit sejak tahun 2013.

Aspirasi itu baru direspon tahun 2015 dan terdengar oleh warganet tahun 2017. Buset lama amat ya? Ini ceritanya mirip drama ngewasap ‘apa kabar’ ke mantan dua tahun lalu terus di-read tahun depannya dan dibales tahun ini. Pilu…

Sebetulnya orang seperti mas Acho ini bisa ditemui di mana saja, tapi intensitasnya jarang. Karena orang kritis itu banyak, tapi sebagian ada yang tak berani bicara. Atau, orang berani bicara itu juga kelumbrukan, tapi yang kritis hanya pada bagian otak belakang.

Dan kebetulan, mas Acho menggenapi keduanya. Orang semacam mas yang satu ini cukup didamba kehadirannya, terutama pada situasi-situasi yang pasif. Ya seperti lingkungan apartemen.

Saya memang tidak pernah tinggal di lingkungan apartemen, tapi membayangkan hidup di dalamnya, sudah. Selain itu pernah pada suatu Kuliah Kerja Nyata (KKN), saya numpang bantu-bantu di sebuah proyek apartemen berlantai 21.

Saat itu proyeknya hampir selesai, jadi kebagian tugas untuk quality control alias divisi ngecek-ngecek. Ini penting karena temuan-temuan seperti keramik lantai yang growak sebesar lubang hatimu hidung atau engsel pintu yang longgar setidaknya bisa diantisipasi sebelum unit siap huni.

Awalnya saya menikmati pekerjaan itu saat pengecekan masih berada di lantai 6 dan 7. Tapi saat pengawas memberi instruksi untuk melakukan pengecekan di lantai 16 ke atas, saya dan rekan mendadak kena serangan jantung.

Ya tentu bukan serangan jantung betulan, tapi membayangkan menaikki anak tangga dari lantai dasar menuju puncak gemilang cahaya di tengah bulan puasa itu membuat dada agak ngap-ngapan.

Apa nggak ada liftnya? Ya tentu ada, malah ada dua, satu lift portable untuk pekerja proyek dan satu lagi elevator utama yang belum siap dikerek. Namanya juga proyek hampir jadi, ya begitu keadaannya.

Demi dewa-dewi di seluruh jagat raya, pernah ada suatu siang bolong yang begitu panasnya, saya dan dua orang rekan menapaki tangga darurat yang belum terpasang lampu menuju lantai 17. Di tengah peluh-peluh yang bercucuran dan begitu seksinya, seorang rekan lupa mengenakan helm proyek.

Mau tak mau kami turun bersamaan menjemput helm berwarna kuning itu lalu naik kembali. Sungguh hari itu menguji keimanan serta kesetiaan kawan kami.

Di ujung kemenggos-menggosan itu, saya kemudian sadar, seseorang dengan postur segempal paha bayi T-rex pun bisa saja susut dalam sekejap kalau rutin mengakses gedung bertingkat 21 tanpa elevator.

Tapi, saya jadi tahu bahwa tinggal di rumah bersusun ternyata tak sepraktis tinggal di rumah biasa. Bahwa akan ada rekayasa sosial budaya yang terjadi di dalamnya, entah itu dari aspek fisik seperti fasilitas atau non-fisik seperti adab bertetangga.

Maka tak heran, itu bisa berwujud apa saja, termasuk biaya-biaya yang harus dirogoh cukup dalam oleh penguni apartemen hanya untuk biaya pemeliharaan. Biasanya, penghuni dikenakan tagihan biaya servis, pemeliharaan lingkungan (IPL), pemeliharaan saluran pembuangan dapur dan sampah, listrik, air, dan parkir.

Nah, kalau tinggal di perumahan, paling-paling cuma diminta iuran kebersihan dan keamanan. Apalagi kalau tinggal di perkampungan kayak saya ini, biaya keamanan disalurkan lewat jaminan saban dua minggu sekali berupa pisang goreng dan kopi tubruk yang gulanya dibanyakin.

Tapi bukan berarti hidup di landed housing alias rumah napak tanah itu murah, sebab akan ada saatnya dimana biaya lain-lain dikucurkan untuk iuran tetangga yang bakal lamaran sampai yang baru pulang haji atau umroh.

Semua momen berhak ditariki iuran semata-mata hanya untuk menciptakan kehidupan pertetanggaan yang adil dan beradab. Intinya ya semua harus saling memahami. Di mana pun kita bermukim akan ada suka duka di dalamnya.

Jika memang setelah kasus ini mas Acho kapok tinggal di apartemen, saya menyarankan blio tinggal di perkampungan saja seperti saya. Di tempat saya, ia akan menemui banyak kedamaian.

Contohnya, kedamaian setelah ampli tetangga yang menggeber koplo pantura kencang-kencang itu dimatikan. Damai sehabis berhasil mengemudikan mobil melewati rumah tetangga yang pagarnya maju 90 cm dari karpot hanya untuk menampung mobil sedannya yang dimodif.

Atau, damai kala pagi hari karena kebetulan ada seberkas sinar matahari yang mampir menembus celah-celah dari dua balkon tetangga yang saling maju balapan hingga hampir menyerupai terowongan Casablanca.

Kalaupun mas Acho terpaksa harus menyuarakan suatu hal karena merasa terusik dan menumpahkanya lewat blog, percayalah bahwa takkan ada tuntutan hukum.

Para tetangga, sambil menyapu di depan rumahnya, akan tetap optimis memberi senyum manis apabila mas Acho lewat pada suatu sore. Setelah mas Acho menjauh dan nampak lenyap di pelupuk mata, saat itulah para tetangga yang tak kuat mbatin langsung sigap membentuk sebuah konferensi.

Ya tentu masih dalam keadaan pegang sapu dan jemuran yang belum diangkat. Namanya juga di apartemen, eh perkampungan, mas…

  • Dedi Kurniawan94

    Menurut saya lebih enak di kampung gan, karena di kampung masih alami, kalau di apartemen enak cuma mudah bosan menurut ku…

  • tetep diperkampungan gan. itu pilihan ane. mgkn krn blm pernh diapartemen kali ya.. hehe,.

  • KiosCoding

    Tetap diperkampungan gan, karena disana lebih dekat dengan alam udara segar yang akan merubah suasana hati 😊

  • weew yang enak ya yg ditempat yg bisa beradaptasi gan, soalnya jaman sekarang beda-beda pola pikir nya, kasihan juga mas acho 🙁