Apapun Beritanya, Tiongkok Juaranya

Apapun Beritanya, Tiongkok Juaranya

Ada fenomena unik belakangan ini. Media massa beramai-ramai gencar memberitakan soal Tiongkok. Di media sosial, ‘Negeri Tirai Bambu’ tersebut juga menjadi topik hangat perbincangan setiap hari.

Yang paling juara adalah berita soal ‘serbuan’ buruh asal Tiongkok ke Tanah Air. Kemudian ramai juga dibahas soal persaingan Tiongkok dan Jepang dalam perebutan proyek kereta supercepat Jakarta-Bandung. Selain itu, berita soal devaluasi yuan dan gejolak ekonomi Tiongkok juga tak kalah heboh.

Bahkan pembuatan artikel ini pun di depan TV yang sedang menyiarkan berita berbahasa Tionghoa. Beritanya soal kejatuhan pasar saham Asia akibat turbulensi ekonomi Tiongkok. Lagi-lagi Tiongkok.

Coba kita lihat satu persatu.

1. Buruh Tiongkok

Sejumlah media menjadikan isu buruh Tiongkok sebagai topik utama. Sampai-sampai Majalah Tempo mengangkat judul ‘Selamat Datang Buruh Cina’. Isu tersebut menjadi perbincangan hangat di media sosial. Ada yang menulis status, “Sebanyak 13 ribu buruh Tiongkok masuk Indonesia. Satu sisi 26 ribu buruh lokal di PHK. Sungguh ironis…”

Bahkan ada yang berguyon, “Lihat, tidak hanya buruh, petani asal Tiongkok juga sudah masuk Cilacap.” sambil menampilkan foto perempuan cantik asal Tiongkok yang sedang menanam padi di sawah.

Di sisi lain, media massa juga membahas soal perilaku tidak menyenangkan buruh asal Tiongkok, seperti hidup jorok dan tidak sopan. Di satu sisi, pemerintah cenderung diplomatis merespons hal itu. Pemerintah malah menghapus kewajiban berbahasa Indonesia bagi pekerja asing. Habislah dibully, “Pemerintah antek asing dan aseng!”

Kondisi ini jelas mengisyaratkan ketidaksukaan publik terhadap masuknya buruh asal Tiongkok. Perlu ada solusi yang jitu dan manusiawi untuk ini. Jika tidak, berbahaya…

2. Kereta Supercepat

Sudah bukan rahasia lagi, Tiongkok ngebet bisa menjadi investor proyek kereta supercepat Jakarta-Bandung. Jepang juga demikian. Lobi-lobi ke pemerintah pun dilakukan Tiongkok dan Jepang.

Tiongkok mengajukan nilai investasi US$ 5,5 miliar, dimana 25%-nya merupakan modal bersama konsorsium BUMN lokal dan pihak Tiongkok. Sisanya 75% merupakan pinjaman bertenor 40 tahun dengan bunga 2% per tahun.

Jika menang tender, Tiongkok berjanji akan memulai proyek tersebut pada September 2015 dan selesai pada 2018. Jakarta-Bandung hanya ditempuh dalam waktu 36 menit.

Sementara itu, Jepang menawarkan nilai investasi sebesar US$ 6,2 miliar, dimana 75%-nya akan dibayar menggunakan pinjaman bertenor 40 tahun dengan bunga 0,1%. Jepang akan menggarap proyek itu selama lima tahun, yaitu 2015 hingga 2021.

Siapakah yang akan menang? Jika Tiongkok, pasti akan heboh lagi. Kalau Jepang, biasa-biasa saja… Lho, dasar antek Jepang, hehe…

3. Devaluasi dan Gejolak Ekonomi

Langkah Bank Sentral Tiongkok yang menurunkan (devaluasi) nilai tukar yuan terhadap dolar AS dapat memicu perang mata uang (currency war) di dunia. Bagaimana nasib rupiah? Terkulai lemas… Rupiah jatuh ke level Rp 14 ribu per dolar AS, terburuk sejak krisis 1998.

Tiongkok pun berhasil bikin AS gemetar. Negara adidaya itu ingin menaikkan suku bunga. Eropa kebingungan bagaimana menaikkan perekonomiannya, Asia Tenggara panik, karena berpotensi diserbu berbagai produk Tiongkok di tengah perlambatan ekonomi di negara masing-masing.

Devaluasi yuan ini bisa menguntungkan Tiongkok, karena bisa meningkatkan daya saing ekspor dan mendorong laju pertumbuhan ekonominya yang saat ini menyusut.

Namun, di sisi lain, devaluasi yuan dibaca sebagai tanda memburuknya perekonomian di negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia itu. Kekhawatiran bakal terjadinya krisis ekonomi global mulai muncul lagi.

Nah, semuanya serba Tiongkok kan? Fenomena apakah ini? Kebetulan atau memang Tiongkok sedang tebar pesona tinggalkan luka alias TPTL? Apapun itu, fenomena ini jangan sampai menimbulkan kebencian terhadap ras tertentu. Piss ahh…

  • Rio Wibowo

    Ga ngerti saya pola pemerintah yang “import” buruh dari luar. Wong rakyatnya sendiri aja banyak yang nganggur koq. Seperti negara yang sudah kehabisan tenaga kerja saja Indonesia ini. Malah sebaliknya, Indonesia sudah kehabisan Lapangan Pekerjaan…