Apakah Puisi Memang Suci dan Politik Penuh Noda?

Apakah Puisi Memang Suci dan Politik Penuh Noda?

blog.springfest.in

Pada suatu hari, saya menemani Den Bagus berjalan-jalan ke pasar. Dunia ternyata belum benar–benar hancur gegara perang opini antara Ahoker dan non–Ahoker, yang setiap hari bergemuruh di media sosial. Lihat saja penyair jalanan masih bebas mentas, walau cuma di pasar kaget. Membawakan kata-kata indah dengan diksi yang maha tinggi.

“Mas Imam, menurut kamu, buat apa orang menciptakan puisi?” sekonyong-konyong Den Bagus, sahabat saya itu, bertanya. Jujur, saya tidak bisa menjawab secara pasti pertanyaan Den Bagus. Sejauh yang saya tahu, puisi dengan pilihan diksi yang maha tinggi itu, memang indah.

Selain sebagai ungkapan perasaan, keindahan dalam bentuk kata-kata bisa digunakan untuk menyamarkan sesuatu yang jelek. Contohnya saja perang antara Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Sunda yang direkam dengan indah dalam syair Kidung Sunda dan Pararaton.

Walaupun perang itu bukan perang yang sesungguhnya, namun luka kolektif dari peristiwa tersebut sering – secara tidak sadar- terbawa hingga sekarang. Siapa sih yang suka perang? Sepertinya hampir tidak ada. Tapi, seburuk apapun perang, dalam balutan kata-kata indah seperti  ‘patriotisme’ dan ‘heroisme”, toh terlihat mulia juga.

Maka tak salah, jika sampai saat ini seni perang ala Sun Tzu tetap menjadi primadona. Perang dalam bingkai seni memang bisa menjelma keindahan. Jadi, sebenarnya, untuk apa kata-kata indah semacam puisi itu dibuat?

Saya langsung teringat kata-katanya John F Kennedy yang kiranya tepat untuk menjawab pertanyaan tersebut. Beliau pernah bilang, “Jika politik itu kotor, puisi akan membersihkannya. Jika politik bengkok, sastra akan meluruskannya.” Tapi rasanya kata-kata itu bisa menimbulkan pertanyaan lain.

“Puisi ya dibikin biar indah, Den Bagus. Selain itu, puisi kan bisa meluruskan dan membersihkan politik kotor,” kata saya seketika.

“Memang sekotor apa politik itu, mas Imam, sampai perlu dibersihkan dengan puisi? Kamu jangan mau dibohongi pake quote John F Kennedy macem–macem itu.”

Duh, jawaban Den Bagus sudah saya duga seperti itu. Mirip Pak Gubernur Jenderal.

“Mas Imam, bahwa ada beberapa politisi kotor, kita setuju. Tapi, menilai bahwa politik itu kotor hanya karena ada politisi yang kotor, tentu perlu diskusi lebih jauh. Sama seperti menilai suatu agama jelek hanya karena beberapa pemeluknya menunjukkan perilaku yang jelek, tentu tidak adil,” seru Den Bagus seseru-serunya.

Ya memang sih, kita memang sering salah soal itu, terlebih menilai seorang politisi. Seperti menilai ucapan Ahok tentang Q.S Al Maidah ayat 51. Memang, pernyataan Ahok bisa dinilai ‘mencederai’ umat muslim. Tapi, mengingat beberapa tafsir tentang ayat itu, bisakah kita membenarkan kampanye penolakan dengan menggunakan dalil ayat yang sama, dan tidak menyebutnya sebagai kampanye SARA?

Tiba-tiba Den Bagus nyeletuk. “Lagipula, jika puisinya yang kotor, lalu apa yang bisa membersihkannya?”

Pertanyaan Den Bagus yang satu itu membuat saya semakin bingung. Seperti apa puisi yang kotor sesungguhnya? Apakah seperti ‘Puisi Paling Jorok di Dunia Diilhami dari Cerita Bohong Anak Kemayoran sebelum 1921’ karya Remy Sylado itu?

Atau, puisi yang mengangkat tema persenggamaan secara vulgar? Iya, jenis karya sastra yang marak disebut sebagai sastra wangi itu, karya sastra yang marak menuai penghargaan.

Agama dan sastra memang akrab mewarnai dunia politik. Banyak politisi yang juga agamawan. Belakangan bahkan banyak juga pelaku seni yang menjadi politisi. Lalu agamawan cum pelaku seni yang sekaligus terjun ke dunia politik juga ada.

Contoh nyata tentu saja sang ‘Raja Dangdut’, Rhoma Irama. Oh iya, kurang lengkap kiranya tanpa menyebut ‘Bang Haji’ di depan nama beliau: Bang Haji Rhoma Irama.

Bang Haji yang lama vakum, belakangan rajin mengonsolidasikan massa untuk partainya, Partai Islam Damai dan Aman (Idaman). Mengingat kiprah bang Rhoma yang pernah mengubah wajah dangdut Nusantara, kita tentu bisa berharap beliau melakukan hal yang sama pada dunia perpolitikan Indonesia.

Sintesa nuansa agama yang mulia, serta gubahan syair nan indah tentu bukan hanya berpotensi membersihkan dan meluruskan politik yang kotor dan bengkok, tapi juga bisa mensucikannya dalam nada dan dakwah.

Sayang seribu sayang, Partai Idaman ternyata tidak lolos dalam seleksi administrasi beberapa waktu lalu. Mungkin pesona Bang Haji masih kalah dengan mbak Grace Natalie, punggawa Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Ah, sungguh ter la luuu…

Selain itu, menurut hemat saya, kurang tepat menggunakan redaksional ‘Islam’ sebagai nama partai. Mengingat partai Islam yang sudah kawakan saja masih sulit merangkul masyarakat, salah–salah malah dikira menjual Islam demi politik. Kan bisa jadi bumerang tuh, Bang Haji.

Atau mungkin, alangkah lebih baik, jika nama partainya diganti menjadi Partai Dangdut Indonesia – Palapa alias PDI-P. Lebih merakyat dan bisa merangkul generasi 3M (Marhaen, Menengah, Metropolis). Eh?

Lho kok jadi ke mana-mana. Sebentar, saya belum menjawab pertanyaan Den Bagus. Jadi, apakah ada puisi yang kotor? Selain puisi hasil jiplakan tanpa menyebut sumber, saya sepertinya belum bisa menemukan puisi yang kotor dengan sebenar–benarnya.

Den Bagus tiba-tiba menatap saya. Mulutnya seperti mengisyaratkan mau bicara. Sebelum ia benar-benar bicara, saya langsung nyerocos.

“Ah, kotor atau bersih, puisi toh tetap saja puisi. Atau bisa saja mirip kata-katanya Pram. Puisi itu biasa saja, apa adanya, yang hebat–hebat hanya tafsirannya.”

Mendengar itu, Den Bagus malah tertawa, “Kok tumben kamu agak pinter, mas Imam.”

Saya pun tersenyum sok cool, padahal diam–diam saya juga teringat kata–katanya Cak Nun. “Jangan percaya kata-kata, karena kata bisa diubah oleh nada. Nada bisa diubah oleh nuansa, nuansa bisa dibatalkan oleh yang lebih tinggi dan lebih lembut dari itu.”

Sekarang giliran saya bertanya kepada Den Bagus. “Jadi, apakah kita bisa menyebut bahwa puisi itu suci, politik penuh noda?”

Yang ditanya malah memandang lurus ke depan, melihat sang penyair jalanan yang sedang mengumandangkan kata-kata indah dan diksi yang maha tinggi. Tanpa menoleh, dia menjawab, “Ah, saya tak percaya kata-kata. Toh, kata-kata itu bisa diubah.”