Apakah Kita juga Harus Menyerah kepada Air Asia?

Apakah Kita juga Harus Menyerah kepada Air Asia?

Tulisan ini bisa dibilang lanjutan dari artikel Farid Firdaus di Voxpop yang berjudul ‘Wahai Kelas Menengah, Menyerahlah kepada Lion Air’. Mas Farid ini memang sering banget nyinyirin kelas menengah, mungkin beliau sering ikut buruh mogok nasional kali.

Artikel itu jelas menyindir orang-orang yang selalu nyinyir kepada Lion Air yang sering delay dan aneh-aneh, tapi pada kenyataannya tetap saja pesan tiket karena harganya lebih murah.

Pada akhirnya semua kembali ke persoalan duit dan limit kartu kredit. Jadi, pelayanan buruk tidak akan ditinggal penumpang kok. Penumpang pesawat juga banyak yang bernyali besar, meski nyawa jadi taruhan. Kalaupun terjadi kecelakaan, tinggal salahkan cuaca saja.

Kita pernah dikejutkan peristiwa jatuhnya pesawat Air Asia QZ8501 jenis Airbus A320 di perairan Selat Karimata pada 28 Desember 2014. Sebanyak 162 orang tewas dalam perjalanan dari Surabaya menuju Singapura.

Masih ingat kan, ketika itu banyak pihak yang menyalahkan awan cumulonimbus sebagai pemicu kecelakaan pesawat. Nama cumulonimbus langsung naik daun. Istilah yang awalnya susah diucapkan ini tiba-tiba menjadi gampang disebut. Sampai-sampai ada yang bilang kalau kedahsyatan awan cumulonimbus sudah dijelaskan di dalam Al Quran.

Tapi, mau dikata apa, fakta bicara lain. Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengumumkan hasil investigasinya bahwa pesawat Air Asia QZ8501 yang jatuh tahun lalu bukan karena cuaca. Bukan pula faktor manusia (human error) atau izin rute.

Saya pikir awan cumulonimbus sudah dicemarkan nama baiknya selama ini. Bahkan ini sudah masuk kategori ujaran kebencian (hate speech). Bagaimana tidak, awan cumulonimbus terutama yang berwarna merah – kalau dilihat dari radar – wajib dihindari tanpa harus tegur sapa.

Lalu, apa sebenarnya yang menyebabkan pesawat Air Asia jatuh? Kalau menurut KNKT, kecelakaan itu terkait sistem perawatan pesawat, sehingga gangguan yang berulang kali terjadi tidak terselesaikan secara tuntas.

Penjelasan KNKT sebenarnya sudah terang benderang seperti genderang perang mau perang. Saya dan mungkin sebagian orang kembali bertanya-tanya, “Apakah sudah bukan hoax lagi kalau maskapai penerbangan bertarif murah itu mengabaikan faktor keselamatan?” Sudah pasti kalau ini ditanyakan ke maskapai yang ada bantah sebantah-bantahnya.

Tapi ya sudahlah, toh beberapa hari ke depan banyak orang yang lupa dan tetap memilih Air Asia. Ya mau bagaimana lagi? Banyak yang menyerah pada keadaan kalau sudah menyangkut rupiah. Bahkan ada teman saya yang sudah mengantongi tiket Air Asia untuk liburan Natal dan Tahun Baru nanti.

Anggap saja itu buat bantu-bantu modal Air Asia lah. Air Asia Indonesia sempat masuk daftar maskapai penerbangan yang ekuitas atau modalnya negatif. Itu menunjukkan rasio rugi perusahaan lebih besar daripada modal yang disetor pemilik perusahaan.

Menteri Perhubungan Ignasius Jonan pernah bilang, “Ekuitas negatif itu tidak sehat bagi perusahan transportasi yang mempunyai tanggung jawab besar terhadap keselamatan manusia.”

Tapi saya yakin Air Asia Indonesia masih mampu mencetak modal positif. Saya sedikit banyak kenal sama pak Sunu Widyatmoko, presiden direktur Air Asia Indonesia. Pak Sunu sudah asam garam di dunia finansial.

Dulu, ketika masih menjadi direktur investment banking Bahana Securities, beliau lah yang menangani proses go public Garuda Indonesia. Saya sempat bertemu beliau di Hong Kong saat roadshow penawaran saham Garuda tersebut.

Secara bisnis, Air Asia Indonesia yang dikomandoi pak Sunu sebenarnya juga tidak terguncang hebat, meski ada insiden jatuhnya pesawat pada akhir 2014. Buktinya, hingga 30 September 2015, penurunan jumlah penumpang Air Asia hanya 9% menjadi 1,68 juta penumpang.

Itulah canggihnya dunia penerbangan komersial kita. Jadi, silakan saja nyinyir atau caci maki maskapai sampai mengamuk kayak di TV. Faktanya justru benci-benci tapi rindu. Kalau bisa murah kenapa tidak? Bukan begitu bukan?

Foto: lynnebechard.com