Apakah Anda Berani Menista Gorengan?

Apakah Anda Berani Menista Gorengan?

Ilustrasi/godetik.com

Tidak suka makan brokoli? Coba dibalut tepung gurih, digoreng, dan hadapilah hangat-hangat. Ah, gorengan memang jawaban untuk dapat menelan apa saja. Ya, apa saja tanpa peduli sisa gizi di dalamnya yang bisa saja tak ada.

Bahan makanan yang tersentuh minyak dan wajan panas memang lebih nikmat dan menggiurkan. Tumisan akan lebih bercitarasa daripada mentahan. Gorengan yang gurih lagi renyah acap merontokkan keyakinan berdiet. Uuuhh… mana tahan.

Sudah tersohor di mana-mana, orang Indonesia tergila-gila dengan gorengan. Periksa saja mesin pencari, pasti ketemu artikel tentang itu. Sebuah aplikasi berbagi resep masakan mencatat hampir tujuh ribu resep gorengan ala orang Indonesia.

Gabriel Bierwirth dalam salah satu videonya bercerita tentang makanan Indonesia. Remaja kocak asal Texas yang senang disapa Gabe itu pernah hidup di Ungaran, Jawa Tengah. Duh… kenapa harus bule? Ya soalnya apa-apa di sini kalau belum ada bulenya belum terlihat sah sih ya…

Gabe merekam percakapan dengan penjaga toko boneka di daerah asalnya, saat membeli hadiah untuk teman Indonesia-nya. “Bagaimana makanan di Indonesia?” kata penjaga toko. “Semuanya digoreng,” jawab Gabe.

Gabe mungkin tidak salah. Bukan hanya lauk-pauk, tapi sayuran, nasi, dedaunan, bahkan buah saja digoreng. Tak heran, jika grafik kebutuhan minyak goreng terus meningkat dan hutan terus dibakar lahan terus dibuka demi bisa menanam bahan baku minyak goreng.

Begitulah cara kita menikmati makanan di negeri yang sumber pangannya melimpah ruah ini. Persis dengan cara kita mengunyah informasi di era data yang tak kalah limpah ruahnya ini. Yang digoreng akan lebih banyak dicomot.

Baru-baru ini, akun Twitter yang dikelola Kementerian Luar Negeri menyematkan cuitan pada bagian teratas linimasanya. Menampilkan potongan gambar laman berita tentang peringatan PM Tiongkok yang akan mengirim pasukan ke Indonesia, jika sampai tragedi 98 terulang. Lengkap dengan hasil klarifikasi kementerian kepada Kedubes RRT, yang menyatakan tidak pernah bicara seperti itu.

Kabar serupa ada di beberapa situs lain, dengan tautan yang beredar di berbagai tempat. Repot juga, peringatan kementerian itu tak urung membuat penasaran yang melihatnya, lalu mencari nama situsnya.

Seorang teman pernah bilang, membagikan tautan buruk, itu buruk. Apapun alasannya, hanya akan membuat tautan itu semakin terkenal. Itu seperti meletakkan tulisan “Jangan dilihat!” di pinggir jalan, sambil kepayahan menghitung banyaknya orang yang ternyata melihatnya.

Kalau dipikir-pikir, pasukan buat apa ya? Melindungi siapa? Memangnya dulu tahun 1998 yang pergi dari Indonesia itu warga negara Tiongkok? Kok sampai-sampainya mereka mau kirim pasukan sekarang? Lagipula apa tidak rugi Tiongkok kirim pasukan? Bukannya kalau ke Indonesia akan lebih menguntungkan kirim barang dagangan? Orangnya banyak dan mudah diajak membeli. Eh?

Tak lama kemudian beredar kabar Presiden bakal mencopot Panglima TNI. Yang ini juga tak kalah cepat menyebarnya. Sampai-sampai Presiden meminta Kapolri mencari pembuat dan penyebarnya, lantaran tentunya kabar itu tak benar.

Yah, seperti gorengan, informasi yang ‘digoreng’ lebih disukai ketimbang informasi yang tampil ‘biasa saja’. Informasi yang ‘biasa saja’ diolah berdasar data dan fakta yang sebenarnya, menggunakan kaidah yang seharusnya digunakan untuk menyusun informasi, kemudian disuguhkan kepada publik.

Cara penyajiannya tidak akan melenceng dari aturan pakai yang sudah tertera pada kemasan. Aturan yang dibuat dan disahkan untuk menjaga agar warga tetap mendapatkan informasi yang benar dan tidak dicurangi siapapun. Aturan yang seharusnya diterapkan secara ketat. Terpenting, menjaga agar semua tetap waras.

Sedangkan informasi ‘gorengan’ memiliki cirinya yang khas. Mirip gorengan dalam bentuk penganan, informasi yang ‘digoreng’ biasanya muncul saat peristiwa besar masih hangat. Bukankah gorengan selalu enak disantap hangat-hangat?

Serupa gorengan, informasi ini murah dan mudah didapat, dalam arti tidak butuh usaha terlalu keras untuk mendapatkannya. Telepon pintar kita adalah cekungan raksasa penampung bah informasi ‘gorengan’ itu. Informasi tersebut ada di grup-grup media sosial pertemanan alumni Taman Kanak-kanak, sampai alumni khusus sarjana dengan IP minimal tiga koma lima.

Tautannya menyebar lewat pesan berantai pada aplikasi obrolan. Ramai dan serius dibicarakan dalam kelompok di sela-sela pekerjaan kantoran, tugas negara, dan menyelinap di antara urusan rumah tangga. Tak butuh waktu lama untuk menyebarkannya, karena informasi jenis ini sangat digemari sebagian besar pemilik telepon pintar.

Ada anggapan yang diamini bersamaan; selagi masih hangat, ‘gorengan’ tidak pantas hanya berhenti di telepon yang sedang digenggam. Maka… Bagikan segera! Ya, harus sesegera mungkin. Mengecek sumber tautan bukanlah keputusan bijak. Apalagi mempercayai data Dewan Pers yang menyebutkan bahwa dari 43.300 media siber, hanya 211 media yang terkategori perusahaan pers profesional.

Ingat, gorengan dingin dan lembek kurang enak dimakan. Dan, bukankah berbagi adalah hal yang mulia? Maka tak usah menelaah kadar manfaat dan nutrisi dalam informasi ‘gorengan’, yang penting hangat, gurih, dan renyah. Sudahlah percaya saja, pasti benar, telan sajalah!

Soal digoreng dengan minyak bekas yang menghitam dan tepung pembalut yang terlampau tebal, itu bukan perkara besar. Perkara ujung-ujungnya terjadi pertengkaran sampai tak sudi lagi berteman dengan kawan yang dulu pernah mesra, juga tak perlu jadi soal. Ah sudahlah… Itu urusan Tuhan. Sebagai manusia biasa, hanya wajib menyebarkan, maka sebarkanlah!

Terus sebarkan, agar dapat membantu pembuatnya sukses mendulang cuan dari keran sistem iklan. Atau, mendulang apa saja yang lebih besar dari sekadar komisi iklan, itu recehan. Sebarkanlah, barangkali informasi gorengan itu sesuai dengan apa yang kita pikirkan. Sehingga kita tampak lebih pintar, atau kepintaran kita menjadi sah.

Sebarkanlah, agar peran kita menonjol dalam sebuah kelompok pertemanan. Itu penting sekali bukan? Sebarkanlah, karena ini praktis sekali. Sepraktis membeli gorengan di pinggir jalan. Bisa kapan saja. Pagi hari sebelum sarapan, siang hari sebagai cemilan, atau sore hari sebelum makan malam. Bersama teh atau kopi hangat, nikmat gorengan sulit didustakan.

Sebarkanlah dan jangan pedulikan maksud pembuatnya, apalagi maksud bos si pembuat. Itu terlampau jauh untuk kita. Kasihanilah mereka yang sudah susah-susah menyelami berbagai emosi kita yang kemungkinan muncul hanya dengan membaca judul tautan.

Janganlah diingat-ingat bahwa genosida – yang dinyatakan Pengadilan Rakyat di Den Haag – pernah terjadi di negeri ini, diawali dengan informasi ‘gorengan’ yang menindih kesadaran berbangsa, bernegara, beragama. Informasi ‘gorengan’ yang dirancang oleh kekuatan berdaya besar. Oh… Syukurlah kalau tidak ingat, karena memang tidak ada di buku sejarah.

Kendati tidak ada di buku sejarah, jangan lalu menelusuri dan mencari tahu maksud mereka yang mengendalikan para pembuat informasi ‘gorengan’. Jangan pula mencari tahu siapa pengendali paling berkuasa atas informasi ‘gorengan’ yang beredar akhir-akhir ini.

Jangan… Jangan pernah. Daripada nanti tak kuat menghadapi kenyataan bahwa kita sebenarnya hanya keledai dungu pembawa beban majikan. Nikmati saja peperangan, caci maki, dan saling lempar hujatan pada keseharian kita. Anggaplah itu sebagai ekstase dari gorengan-gorengan yang kita telan. Kenikmatan paripurna yang sulit didustakan, apalagi dinistakan.

  • Hahaha benar sekali. Tautan macam gorengan. Hanya gorangan yang pedas dan panas yang membuat tautan berharga hahaha