Apa Jadinya, Jika ‘X-Men: Apocalypse’ Berlatar Indonesia?

Apa Jadinya, Jika ‘X-Men: Apocalypse’ Berlatar Indonesia?

screenrant.com

Mungkin kalian terlalu lelah, pun terlalu kere, untuk selalu disuguhi film-film pilihan setiap bulannya. Sesudah ‘Batman v Superman’ yang kurang lebih setara lelaki yang hanya hinggap setelah menaruh harapan, kita langsung bertemu dengan duel maut antara ‘Captain America: Civil War’ versus ‘Ada Apa Dengan Cinta 2’. Kini, ibarat bertukar layar dengan Captain America, muncul besutan Bryan Singer dalam wujud ‘X-Men: Apocalypse’.

Sungguh, menyaksikan ‘X-Men: Apocalypse’ yang menghadirkan lapangan kerja untuk lebih dari lima belas ribu orang itu adalah suatu hal menarik, terlepas dari apalah itu plot, penokohan, dan lain-lain yang merupakan hak kritikus untuk mengeluarkannya. Efek khusus yang luar biasa, hingga musik yang melatarbelakangi kemarahan seorang Magneto, tentu menjadi hal yang memang dicari, meski harus merelakan leher pegal gegara nonton di baris-baris terdepan.

Adalah suatu pertanyaan besar mengenai ihwal keberadaan superhero manapun yang kiranya tiada pernah mengambil latar belakang cerita di Indonesia. Satu-satunya yang saya ingat tentang Indonesia dan superhero adalah munculnya berita tentang artis senior yang hendak main di Captain America, namun lantas diedit karena kepentingan cerita.

Padahal, bukankah akan menarik mengetahui bahwa Tony Stark itu ternyata ngantor di bilangan Setiabudi, Jakarta? Cukup elok pula, jika kita tahu bahwa ternyata Black Widow menyamar sebagai pejuang hidup di Stasiun Kereta, Jalan Sudirman? Atau, akan sangat menawan, jika ternyata dari rumah CEO Voxpop, Kokok Dirgantoro, ternyata kita bisa masuk ke kantornya S.H.I.E.L.D? Bayangkan, pusat superhero dunia ternyata ada di Banten.

Maka, sembari menyimak kecantikan Jean Grey, Moira MacTargett, serta tentu saja Raven versi manusia yang bukan biru, saya lantas membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi, jika ‘X-Men: Apocalypse’ ini merupakan peristiwa nan sungguh-sungguh terjadi di Indonesia.

1. Apocalypse tidak akan pernah bangkit

Dalam film X-Men ini, Apocalypse alias En Sabah Nur, dikisahkan terkubur dalam-dalam di bawah tanah. Kelakuan Moira, sang agen CIA, membuntuti segelintir orang yang sedang melakukan ritual tertentu menjadi kunci. Gegara Moira masuk ke akses bawah tanah tanpa menutup lagi jalan akses itu, sinar mentari bisa masuk dan membebaskan En Sabah Nur dari tidur panjang. Sayangnya, Moira melakukan itu di Mesir. Gara-gara itu, En Sabah Nur bangkit dan mengobrak-abrik tatanan dunia, sebelum akhirnya takluk sama perempuan.

Orang-orang yang dibuntuti oleh Moira itu punya ciri khas berupa tanda di leher, jumlah mereka tidak banyak, dan mereka melakukan ritual di bawah tanah. Bayangkan, jika kelompok seperti itu ada di Indonesia! Di negeri nan religius ini, ada sekumpulan kecil berdoa sembunyi-sembunyi itu sudah bakal kena grebek pada kesempatan pertama.

Lah, jangankan yang kelakuannya aneh macam mereka, yang jelas-jelas ada dalam daftar agama nan diakui di Indonesia dan jelas-jelas sedang berdoa saja kena grebek. Mau yang agak moderat sedikit, diskusi tentang buku-buku baik yang ditaruh di tangan kiri maupun yang dibuka pakai tangan kiri, itu juga sulit dilakukan. Apalagi cuma pemuja mutan, cemen itu sih.

Yang jelas, jika En Sabah Nur terkubur di Indonesia, dia akan bobok manis selamanya. Orang yang memuja dia akan kena grebek duluan, pun baju zirahnya juga bakal kena loak terlebih dahulu sebelum dia sempat bangkit.

2. Kalaupun bangkit, Apocalypse akan menjadi alay-alay

Oke, kalau saja ternyata pemuja mutan itu tidak bikin aksi seperti Gafatar dan tetap setia bersekutu bersama di bawah tanah, boleh jadi Apocalypse akan beneran bangkit. Di ‘X-Men: Apocalypse’, si En Sabah Nur ini lantas melihat dan menyentuh televisi. Ketika Storm bertanya, “What are you doing?” En Sabah Nur menjawab, “Learning!”.

Belajar dengan menyentuh televisi dilakukan oleh En Sabah Nur dan dia menemukan tentang kekuasaan, uang, dan apalah-apalah lainnya. Itu kemudian memicu dia untuk mencari kuasa sesuai kehendak jaman nan hakiki. Mencoba menguasai masa kini dengan metode masa kini pula. Walhasil, Apocalypse banyak belajar untuk kemudian menguasai dunia dengan terlebih dahulu menyasar senjata-senjata yang ada di dunia.

Oke, sekarang bayangkan, bila En Sabah Nur bangkit di Indonesia pada 2016, lantas belajar dengan cara yang sama: menyentuh televisi! Kemungkinan besar, En Sabah Nur bukannya belajar, malah mumet. Dalam pembelajarannya, dia akan ketemu dengan seseorang yang dilantik jadi pimpinan lembaga pada tengah malam, orang yang sama lantas mengenakan baju kuning dan tertangkap kamera hampir jatuh karena kantuk ketika mengheningkan cipta, hingga orang yang sama memimpin partai besar lewat voting tertutup yang digelar sampai pagi.

En Sabah Nur juga akan jadi pusing begitu sentuhannya mengena channel-channel berita di Indonesia yang satu berita tentang kekuasaan bisa disajikan sangat berbeda oleh televisi yang biru dengan yang merah. Dan, akan sangat mengerikan bagi otak En Sabah Nur begitu dia masuk ke acara musik yang tidak ada musiknya. Jika demikian, kemungkinan besar En Sabah Nur akan mencari kekuasaan dengan terlebih dahulu menjadi alay-alay di TV untuk kemudian mencoba mencalonkan diri menjadi ketua partai.

3. Magneto bisa diangkat sebagai duta-dutaan seperti Zaskia Gotik

Bapak yang satu ini memang selalu punya kisah khusus dalam plot X-Men. Keberadaannya sebagai seseorang yang nakal, namun berprinsip selalu mengena di hati. Dia yang sesudah mencopot stadion dan menyelamatkan mutan serta rakyat Amerika, lantas kabur ke Polandia itu kemudian beralih kerja menjadi seorang buruh di pabrik peleburan besi. Entah mengapa Magneto harus kabur dan bersembunyi semacam itu hingga lantas muncul adegan paling bikin mbrebes mili sepanjang ‘X-Men: Apocalypse’ kala Magneto kehilangan anak dan istrinya pada satu anak panah.

Jika saja Magneto tidak pergi ke Polandia yang benderanya putih merah, tapi minggat ke Indonesia yang benderanya merah putih, tentu semuanya tidak akan sesusah itu. Magneto tidak perlu takut! Di Indonesia, apalagi pada tahun 2016, dia akan diangkat menjadi Duta Logam, menyusul neng Zaskia yang dengan bebek nunggingnya menjadi Duta Pancasila. Perkara dia sudah membunuh terlalu banyak orang? Halah, ngono wae kok sulit. Di Indonesia, otak pembunuhan berencana saja ada yang mau digadang-gadang jadi presiden.

Dengan berada di Indonesia, Magneto selain akan diundang dari infotainment ke infotainment, juga dapat memulai hidup baru dengan mulia sebagai bos dari segala bos tukang besi. Serta, tentu saja merintis karir politik untuk nantinya digadang-gadang menjadi calon presiden. Apalagi, embel-embel mutan Amerika nan membelot karena idealisme bisa menjadi jargon kampanye nan mumpuni.

Mungkin itu dia sebabnya meski sejarah di Indonesia tiada kalah jauh dengan banyak negara lain, para superhero itu tetap ogah muncul dan berbuat sesuatu di negeri ini. Ah, sudahlah, lagipula superhero jaman sekarang itu malesin, malah berantem sama teman sendiri. Nggak beda jauh sama politisi kita, bukan?