Apa Iya, Bukan Erdogan tapi Turki 2023?

Apa Iya, Bukan Erdogan tapi Turki 2023?

pcwallart.com

Setidaknya ada enam teror maut yang menghantam Turki sepanjang 2016. Bahkan satu penembakan brutal terjadi saat perayaan Tahun Baru 2017. Sebelumnya, bom meledak dari mobil di luar Vodafone Arena, stadion markas Besiktas – klub sepak bola Turki.

Sementara itu, tahun 2023 akan menjadi tahun yang dinanti, yaitu 100 tahun runtuhnya Kesultanan Ottoman – Turki Utsmani atau 100 tahun berdirinya Republik Turki. Lantas, apa hubungan Turki 2023 dengan teror bom yang terus mengincar kota dua benua itu?

Pada 2015, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan membuka pusat riset dan percobaan sistem antariksa, TUSAS, yang bisa dikatakan sebagai langkah awal untuk mengembangkan bidang antariksa di Turki. Erdogan ingin Turki menjadi bangsa yang terhormat di bidang antariksa pada 2023.

Pada Desember 2016, sebuah terowongan besar – Eurasia Tunnel – yang membelah laut Turki Asia dan Eropa diresmikan oleh Pemerintah Turki di bawah Adalet Kalkinma Partisi. Pembangunan terowongan ini menghabiskan waktu empat tahun.

Total panjang proyek ini adalah 14,6 kilometer (sembilan mil) dan 5,4 kilometer berada di dasar laut Bosphorus, Istanbul. Terowongan ini dirancang tahan terhadap gempa bumi dan tsunami, serta dapat dipakai sebagai bunker.

Di samping itu, Turki juga mengurusi perbatasannya dengan Aleppo – Suriah, yang mana jumlah pengungsi dari Suriah sudah mencapai 2,9 juta jiwa.

Eurasia Tunnel dan TUSAS adalah contoh megaproyek Turki yang masih segar, meski hanya beberapa media di Indonesia yang memberitakannya. Namun, jika anda mengunjungi Turki, misalnya Istanbul, akan melihat banyak baliho bertuliskan ‘Yeni Turkiye 2023’ atau ‘Turki Baru 2023’.

Erdogan merumuskan negara Turki modern, yang pada 2023 menjadi kekuatan politik dan ekonomi nomor satu di dunia. Turki menyiapkan 300 ribu ilmuwan untuk penelitian ilmiah menuju tahun 2023. Namun, tantangan pun semakin besar, seketika Turki menghadapi begitu banyak musuh.

Enam teror yang melanda Turki selama 2016, di antaranya serangan menarget konvoi militer di Ankara dan merenggut sedikitnya 28 nyawa. Ledakan bom mobil bunuh diri di Ankara yang menewaskan sekitar 37 orang. Pelakunya militan Kurdi.

Kemudian, serangan bersenjata dan bom di Bandara Ataturk, Kota Istanbul, yang menewaskan 41 orang. Serangan itu didalangi ISIS. Lalu, ledakan bom di pesta pernikahan warga di Kota Gaziantep oleh ISIS.

Mereka tidak mengincar tokoh, tapi Turki 2023. Teror dilancarkan demi mengganggu stabilitas dalam negeri agar Turki tidak banyak berkecimpung dan memberi pengaruh bagi dunia internasional. Menakut-nakuti turis agar ekonomi Turki terguncang.

Sebagai negeri yang tiap jengkal wilayahnya menyimpan banyak peninggalan peradaban besar (Yunani, Romawi, Kristen, Islam), Turki sangat menarik perhatian turis. Turki yang berpenduduk 74,93 juta jiwa (2013) dikunjungi 20-40 juta turis setiap tahun.

Meskipun dilanda aksi teror, kondisi Turki tetap stabil. Megaproyek pembangunan dan misi lainnya masih terus berjalan.

Dalam buku karya Syarif Taghian, Erdogan – Muazzin Istanbul Penakluk Sekulerisme Turki, militer di Turki disebut super power. Mereka adalah pahlawan, pelindung bintang bulan, dan para pemegang keputusan hukum di tingkat tinggi kehakiman. Militer adalah penjaga setia sekulerisme di Turki.

Militer telah menjatuhkan empat orang presiden sejak 1960, karena dinilai akan menggantikan sekulerisme dengan Islam. Terakhir, Presiden Erbakan digulingkan dan partainya Refah dibubarkan karena diangga pro-Islam. Erbakan adalah gurunya Erdogan.

Namun, Erbakan tidak setuju dengan cara Erdogan berkerjasama dengan barat walaupun membela Islam. Ia menyebut, “Erdogan itu memang masuk sekolah, tapi keluar lewat pintu belakang. Ia tidak mendengarkan pelajaran.”

Walaupun Erbakan terus mengkritisi Erdogan, tapi Erdogan secara rutin menelpon Erbakan untuk sekadar untuk menanyakan kesehatan dan lainnya. “Pertanyaan-pertanyaan Erdogan untukku itu tidak berguna sama sekali.”

Sejak 2003, percobaan kudeta untuk menjatuhkan Erdogan terus dilakukan dan terus gagal. Bahkan, satu per satu petinggi militer, para jenderal, yang dulunya orang terkuat di negara itu, harus berurusan dengan pengadilan. Puncaknya, pada pertengahan 2016, ketika Turki sudah semakin meninggalkan kesekulerannya, militer kembali bereaksi.

Pada 15 Juli 2016, kudeta militer kembali mencoba merebut pemerintahan Erdogan yang dipilih oleh rakyat secara demokratis. Ankara murka. Namun lagi-lagi, kesiapan dan belajar dari pengalaman kudeta masa lalu, membuat militer gagal menggulingkan presiden Turki.

Menuju 100 tahun berdirinya Republik Turki atau 100 tahun kejatuhan Turki Utsmani, bangsa Turk ingin bangkit. Beberapa bidang yang menjadi sasaran pemerintah Turki adalah menguasai ekonomi dunia, pertahanan, transportasi, hingga hubungan luar negeri.

Tercatat dalam sejarah, Kesultanan Ottoman memiliki pengaruh yang sangat luas dalam perpolitikan dan perdagangan dunia. Pengaruhnya sampai ke Eropa Timur, sebagian wilayah Afrika, hingga Asia Tenggara.

Bahkan, pada abad ke-16 atau 1566 M, Kesultanan Aceh Darussalam pernah bekerjasama di bidang militer dengan Ottoman, yang membuat Sultan Selim II mengutus Kurdoglu Hizir Reis berlayar ke Aceh, membawa senjata, dan ahli perang untuk membantu Aceh mengusir Portugis di Melaka.

Lantas, apa yang membuat Barat takut? Bangsa Turki mempunyai sejarah panjang di dunia, menjadi khalifah selama kurang lebih 600 tahun, dan menjadi abad kegelapan bagi dunia barat.

Yeni Turkiye 2023 ingin menghidupkan kembali kehebatan yang pernah dimiliki oleh Turki semasa Khilafah Selcuk dan Khilafah Utsmaniyah, serta menggunakan kekuatan dan pengalaman Republik Turki dalam membangkitkan kembali Turki yang sempat mati suri.

Kudeta gagal oleh militer, teror bom, dan rencana merusak hubungan baik Turki-Rusia, menjadi agenda musuh untuk menghambat kemajuan Turki. Hal ini sangat disadari oleh ilmuan-ilmuan Turki. Turki Baru yang dilihat barat, bukan saja akan membangkitkan kembali Turki sebagai sebuah negara super power, tetapi akan mengubah geopolitik dunia.

Turki dikhawatirkan akan menjadi suara lantang dunia Islam dan mempengaruhi kebangkitan negara-negara Islam yang lain. Ini adalah tantangan terbesar bagi Turki dalam menyambut 100 tahun keruntuhan Turki Utsmani atau 100 tahun Republik Turki. Target mereka bukan Erdogan, tapi Turki 2023.