Antara Sri Mulyani dan Dian Sastro

Antara Sri Mulyani dan Dian Sastro

beritasatu.com

Jika ada satu nama perempuan yang masih hot diperbincangkan sampai saat ini, Sri Mulyani adalah orang itu. Dan, bila ada satu wanita Indonesia yang hampir tidak pernah bosan dibicarakan apalagi dikhayali, maka Dian Sastro lah jawabannya. Keduanya ibarat berlian di satu kutub dan emas di kutub lainnya. Mengapa itu bisa mencuat? Mari kita ulas lebih tajam, setajam matamu memandangku.

Sri Mulyani kembali menjadi buah bibir, karena ia balik lagi jadi menteri keuangan, menggantikan Bambrod alias Bambang Brodjonegoro. Bambrod sendiri digeser menjadi menteri PPN/Bappenas. Begitulah kira-kira sepenggal kisah dalam episode II reshuffle kabinetnya pak Jokowi. Tentu ada beberapa karakter lain yang bisa di-spin off dan menjadi sebuah sekuel, seperti Wiranto, Anies Baswedan, atau Rizal Ramli “Sang Rajawali Kepret”.

Tapi setidaknya, menurut saya, Sri Mulyani lebih menarik. Sebab, tokoh yang sudah mendunia tersebut bak pemeran utama pada episode kali ini. Betapa tidak, semua mata tertuju padanya. Sudah pasti kamera juga mengiringinya. Hampir setiap media cetak maupun elektronik cenderung menjadikan Sri Mulyani sebagai headline. Ia lah media darling! Sri Mulyani layaknya Dian Sastro, pemeran Cinta dalam film Ada Apa Dengan Cinta (AADC).

Bedanya, jika dalam film AADC2 Dian Sastro atau Cinta sabar betul menunggu kepulangan Rangga (Nicholas Saputra) selama 14 tahun, kali ini pak Jokowi sabar betul menunggu momen yang pas untuk kepulangan Sri Mulyani tanpa harus menunggu 14 tahun. It’s so romantic! Bolehlah kita secara aklamasi berujar, “Rangga yang ganteng dan sok misterius… Anda kalah telak dengan pak Jokowi yang terduga kurang tampan tapi konon dianggap lugu.”

Banyak orang menganggap Sri Mulyani adalah harapan di tengah-tengah melempemnya perekonomian Indonesia. Ia dianggap berprestasi sebagai menteri keuangan pada era presiden yang gemar membuat album dan tertarik di bidang musik: bapak SBY. Kala itu, Sri Mulyani mampu mengelola perekonomian Indonesia di tengah krisis global. Alhamdulillah-nya, Indonesia menjadi negara yang paling sedikit terkena dampak krisis ekonomi global.

Ya kalaupun ada hal-hal yang kontroversial, toh tak menghambat Sri Mulyani menjadi direktur pelaksana Bank Dunia, atau menteri keuangan terbaik Asia tahun 2007 dan 2008. Majalah Forbes bahkan menobatkan Sri Mulyani sebagai perempuan paling berpengaruh urutan ke-23 di dunia. Kembalinya Sri Mulyani bahkan disambut ucapan “welcome back”. Bukan begitu pak Fadjroel Rachman?

Sederet prestasi yang telah diraih menasbihkan dirinya sebagai RA Kartini cita rasa modern dan kekinian. Membaca Sri Mulyani sama halnya membaca harapan dan impian jutaan perempuan Indonesia. Tapi bagaimana mau jadi “The next Sri Mulyani” atau bahkan lebih hebat kalau terlalu sibuk cari Pokemon daripada ilmu?

Meski demikian, Sri Mulyani juga bisa menjadi anti-klimaks, seperti sejumlah penonton yang kecewa terhadap film AADC2 yang nggak se-woww yang digembar-gemborkan. Apalagi beberapa catatan masa lalu beliau masih tersimpan rapi dan menjadi misteri. Yang paling horor adalah stempel antek Neolib. Wah, ini berat bro, sist… Stempel atau cap Neolib kurang lebih sama dengan cap sesat atau distempel kafir.

Perdebatan panjang warna apa seharusnya perekonomian Indonesia sesungguhnya ialah perdebatan klasik yang terus saja baru. Tidak pernah selesai. Sama halnya seperti meluruskan ekor monyet. Kubu-kubuan pakar ekonom kerap kali membentuk jurang dan ranjau bagi kubu bersebrangan. Dimana argumentasi ilmiah dari masing-masing kubu sama kuatnya dan sama-sama memiliki sisi positif-negatif.

Sayangnya, saking sibuknya menjual mana yang lebih baik apakah kapitalis, kerakyatan, Pancasilais, atau lainnya, kita lupa bahwa rakyat kecil yang notabene tingkat pendidikannya rendah butuh kesejahteraan yang mendesak. Kita terlalu asyik berdebat. Kemakmuran dan kesejahteraan mungkin dua kata retoris yang terlalu elitis.

Mengecap seseorang sebagai antek Neolib atau antek-antek lainnya termasuk antek komunis tanpa pembuktian sama saja buang-buang energi. Pasti ada yang mau bilang kalau saya antek Neolib kan? Bukan urusanku mau mazhab ekonomi seperti apa. Neolib bikin rakyat sejahtera atau justru hanya memanjakan konglomerasi? Paham-paham kiri bikin rakyat makmur atau hanya sebatas romantisme ideologi?

Kalau kita sejenak mau berspekulasi nakal dengan mengibaratkan ini sebagai film bergenre politik, maka pak Jokowi bertindak sebagai sutradara, Sri Mulyani selaku pemeran utama, dan kita sebagai penonton. Kehadiran Sri Mulyani boleh jadi langkah kuda Jokowi untuk meredam sekaligus stigma berbau komunis karena kedekatan RI dengan Tiongkok, yang sebetulnya negara komunis berselera pasar bebas.

Nah, Sri Mulyani bisa menjadi pemeran ganda yang artifisial: meredam stigma komunis, karena dianggap terlalu dekat dengan Tiongkok dengan mengandeng Sri Mulyani yang konon dicap antek “Paman Sam”. Di sini, Jokowi tampak begitu cerdik, kalaupun skenario filmnya demikian.

Jokowi mampu menghadirkan pemeran utama yang reputatif dan kapabel dengan sederet  prestasi dan ia dianggap sebagai bagian dari kelompok kanan guna menepis isu bahwa Jokowi sudah terlalu kiri. Ini kan penting, toh di negeri kita lebih banyak yang phobia kiri tanpa mau tau bagaimana rupa kiri itu sesungguhnya. Jadi, Sri Mulyani menjadi pemeran ganda dalam episode kali ini, jika mata bedahnya adalah skil dan trik film politik.

Lantas apa korelasinya dengan Dian Sastro? Modus aja ya ini? Bukan… Dian Sastro adalah representasi lain wajah perempuan Indonesia. Selain berwajah Nusantara banget, prestasi dan pola hidupnya kerap menjadi dambaan dan panutan perempuan muda Indonesia. Pendidikan baginya adalah segalanya, selain kepedulian dan kesehatan.

Dian Sastro adalah antitesis daripada artis baru dan lainnya di Indonesia, yang hanya bermodalkan kebohayan yang seronok. Dian Sastro menjadi role model di tengah ala kadar dan monotonnya regenerasi di dalam dunia keartisan Indonesia.

Sementara itu, di tengah fenomena cewek cabe-cabean yang merajalela, badai perempuan jadi-jadian yang over show, Sri Mulyani dan Dian Sastro merupakan perwujudan pertiwi baru dalam narasi modern. Keduanya menjadi berlian dan emas pada kutubnya masing-masing.

Rasa-rasanya adem, jika membayangkan masa muda seperti Dian Sastro yang disukai banyak orang, berprestasi, rupa menawan, dan suami ideal. Bahkan, meski sudah kawin, beliau dijuluki “hot-smart-mom”. Lantas kala beranjak matang dan menuju tua, menjadi Sri Mulyani sebagai cerminan wanita karir yang tetap ingat keluarga dan menduduki posisi tinggi.

Tapi apalah daya kita, yang hanya mampu memandangi foto Dian Sastro di sudut kamar yang sempit, pelototin akun IG-nya, lalu merem dan mesem-mesem sambil berdoa dalam hati: semoga kelak dapat jodoh begini. Jangan kasih kendor, mbak Dian…

  • Val Kirana

    Hussshhh; siapa sih ini yg heboh2kn hati trdalam gue? Dasar konyol.