Antara Pram dan Syekh Siti Jenar (Sebuah Saran untuk Voxpop)

Antara Pram dan Syekh Siti Jenar (Sebuah Saran untuk Voxpop)

pontas.es

Terus terang saja, sebetulnya saya bukan pembaca militan voxpop.id. Bukan pula penulis yang produktif. Sebagai seorang pedagang dan karyawan rendahan yang tak banyak memiliki waktu luang, saya sesekali saja berseluncur di dunia mulan maya.

Hingga suatu waktu, si Hinayana, kawan sekaligus seteru abadi saya sejak kuliah dan masa-masa perjuangan dulu, dengan gayanya yang ngehek itu, pamer artikel pertamanya yang tayang di voxpop.id. Saya jelas penasaran. Apa itu voxpop.id?

Jrenggg… Saya buka dan wuihh… Kesan pertama begitu menggoda. Voxpop.id adalah media warga. Sepertinya menyuarakan kebebasan dan demokrasi. Situs ini juga tampaknya ingin meneguhkan diri sebagai penyambung lidah rakyat, karena Voxpop merupakan akronim dari ‘Vox Populi’ yang berarti suara rakyat. Begitu catchy dan garang.

Mungkin nama tersebut berasal dari sebuah istilah dalam bahasa latin, ‘Vox Populi Vox Dei’. Suara rakyat adalah suara Tuhan. Tapi sepertinya, voxpop.id masih terlihat galau atau masih belum segahar namanya. Voxpop.id masih malu-malu bikin penegasan, mau berpihak kemana? Menyuarakan siapa?

Mas-mas, mbak-mbak… Saya ini orang kampung. Tinggal di Garut, Jawa Barat. Saya bukan mau sok-sokan berpikir metro, apalagi mengkritik media nasional alternatif sekelas voxpop.id yang lagi naik daun. Seperti yang kang mas Jauhari Mahardika bilang, “Om Gege ini cocoknya jadi staf ahli Aceng Fikri aja.” Begitu kira-kira komentar nyinyirnya di status fesbuk saya. Sebenarnya pengen juga sih, tapi kang Aceng sudah bukan bupati Garut lagi.

Tapi nggak apa-apa. Ini sekadar saran saja. Bukan kritik. Saran dari kampung. Meski katrok, tapi biasanya orang kampung itu memiliki intuisi yang tajam. Setajam Jokowi. Eh?

Voxpop.id harus memiliki elan yang kuat dan gahar, segahar namanya. Voxpop.id harus menjadi leader. Voxpop.id harus bersegera menegaskan sikap, soal apa, bagaimana, dan siapa voxpop.id. Sigap menyesuaikan diri dengan perubahan. Nah, ada beberapa tokoh yang mungkin bisa dijadikan referensi.

Mereka adalah para petarung sejati di ranahnya. Mungkin kita bisa jadikan mereka sebagai panutan. Kita juga bisa suri tauladani ketegasan sikapnya. Ketegasan yang mudah-mudahan saja bisa mengilhami voxpop.id dan kita semua agar segera kembali ke khittah sebagai penyambung lidah rakyat.

Pramoedya Ananta Toer

“Kau ini terpelajar, jadi ajaklah bangsamu untuk menjadi terpelajar sepertimu, Minke.” Begitulah kira-kira yang ditulis mbah Pram dalam ‘Tetralogi Pulau Buru’. Seorang terpelajar itu harus sudah adil sejak dalam pikiran.

Mbah Pram, yang pada 30 April nanti menjadi haul-nya yang ke-10, nggak ngajak kita buat melawan. Tapi ngajak kita jadi terpelajar. Itu saja. Cukup. “Kalau bangsamu itu sudah terpelajar, itu artinya mereka bakal siap untuk menyikapi perubahan. Siap untuk apapun. Mereka tak akan dapat dimanfaatkan siapapun.”

Voxpop.id harus seberani itu. Berani menjadi benteng utama pendidikan rakyat. Mendidik rakyat dengan bacaan. Keberanian tidak berkonsekuensi apapun. “Kalau sudah tidak lagi punya keberanian, lalu apa harga dari hidup kita ini?” tegas Pram.

Kenapa si mbah itu di Pulau Buru-kan? Itu karena bangsanya, bangsa yang dicintainya ini, belum se-terpelajar mbah Pram. Dan penguasanya, belum paham soal apa dan bagaimana sejatinya menjadi seorang pemimpin rakyat. Mereka baru paham soal kekuasaan, bukan kemanusiaan.

Dan, mbah Pram nggak marah soal itu. Nggak bakal. Karena beliau sudah adil sebelum lahir. Voxpop.id haruslah adil sejak dari pikiran. Adil dalam bersikap dan bersuara, mana yang harus dibela dan mana yang musti dilawan. Jangan takut untuk bersikap. Itu sudah menjadi tugas luhur media seperti voxpop.id.

Bukankah itu amanat undang-undang? Fungsi utama penerbitan produk jurnalistik menurut UU No 40 Tahun 1999 adalah memberi edukasi, informasi, dan hiburan kepada khalayak. Ketiganya itu haruslah ada.

Syekh Siti Jenar

Tokoh mulia ini dicitrakan buruk. Tokoh yang jadi simbol ‘pemberontakan’ atau perlawanan terhadap penguasa lalim serta feodalisme kesultanan Islam di Jawa kala itu. Syekh Siti Jenar yang juga dikenal dengan sebutan Syekh Lemah Abang merupakan seorang tokoh berlawanan di zamannya.

Syekh Siti Jenar menolak keras ‘kasta-kasta’, strata sosial feodalistik yang dibudidayakan kesultanan. Rakyat harus membungkuk-bungkuk, ketika berhadapan dengan sultan. Rakyat harus membayar pajak begitu tinggi kepada kesultanan.

Pola kepemimpinan egaliter yang dicontohkan Rasulullah SAW sama sekali tidak nampak. Sifat yang amanah, tidak menjadi praksis pemimpin politik kala itu. Korupsi pun merajalela.

Keluarga sultan dan pejabat kesultanan menjadi kaya raya, sementara rakyat tetap saja jelata, miskin dan terus-menerus dipaksa untuk melayani pemimpinnya. Rakyat dipaksa untuk memenuhi gaya hidup mahal pemimpinnya dengan penerapan pajak yang tinggi. Antara pemimpin dan yang dipimpin terdapat jarak yang sangat lebar.

Ketika itu, Syekh Siti Jenar tampil ke depan. Sebagai tokoh yang amat disegani oleh rakyat dan bahkan para wali, beliau berupaya mengingatkan para pemimpin. Beliau ingatkan sultan dan para pejabat kesultanan soal ketauladanan kepemimpinan ala Rasulullah, yang manunggal dengan rakyatnya.

Ajaran utama Rasulullah itu beliau manifestasikan ke dalam konsepsi “Manunggaling Kawula Gusti”. Bahwa pemimpin (gusti) dan yang dipimpin (rakyat) itu manunggal dan tak berjarak. Pemimpin adalah pelayan rakyat, seperti tauladan Rasulullah dan para sahabat.

Jadi, ajaran Syekh Siti Jenar tidak sesat. Mungkin bagi penguasa lalim, iya. Begitulah seharusnya voxpop.id. Berani bersikap dan bersuara lantang untuk rakyat. Jangan takut untuk berpihak kepada rakyat. Karena suara rakyat adalah suara Tuhan. “Vox Populi Vox Dei!”

Tapi, rakyat yang mana? Bukan hanya ‘rakyat yang mengaku di tengah’, karena tidak semua rakyat berada di tengah. Tidak ada malah. Mungkin yang ngaku-ngaku, bisa jadi. Faktanya, mayoritas itu di bawah, sementara minoritas di atas. Kalau itu ukurannya ekonomi.

Lalu kenapa musti di tengah? Cuma orang gila saja yang berdiri di tengah jalan tatkala jalanan ramai. Kalau dianggap mengganggu ketertiban jalan raya sih masih mending. Kalau ketubruk? Tahu sendiri akibatnya. Demikian.