Antara Mantanmu dan #QurbaninAja, Apa Bagusnya?

Antara Mantanmu dan #QurbaninAja, Apa Bagusnya?

solokebaya.net

Aroma prengus yang mendadak menyambar hidung kala asyik berboncengan dengan pacarmu, mungkin bisa jadi berkah tersendiri. Sebab, prengus yang satu itu berbeda dengan bau prengus badan pacarmu yang kau konsumsi saban menjadi penumpang di belakang kemudinya. Prengus kali ini dirindukan terutama menjelang hari raya kurban. Prengus sekawanan kambing yang diangon di pinggir jalan.

Kalau terpaksa sama-sama mencium aroma itu, candaan yang biasa keluar kira-kira begini, “Ih baumu yang, belum mandi ya kamu?” Lalu kalian saling tuding sambil berhaha-hihi, berlanjut cubit-cubitan lengan, cubit perut, sampai cubit dada pinggang.

Memang candaan itu nampak menggemaskan. Namun bagi saya, pasangan semacam itu memiliki selera humor yang buruk dan tergolong pasangan yang jorok. Jorok, kalau ternyata kamu dan pacarmu betul-betul tak hobi mandi dan gemar mengkambinghitamkan kambing.

Jika kalian tak ingin dicap sebagai pasangan abangan, sebaiknya aroma prengus yang mengudara tak melulu jadi bahan candaan. Tapi mungkin bisa disikapi lain. Misalnya, dalam sebuah perjalanan malam minggu, laju motor pacarmu yang siap dipacu ke hotel kafe borjuis mendadak bisa dialihkan ke badan amal. Uang ratusan ribu yang hendak ditukar dengan satu momen di sebuah kamar deluxe malah bisa untuk menebus satu atau dua paha kambing montok.

Dengan begitu, lahir ritual baru dalam sebuah hubungan yang sebenarnya nggak religi-religi amat. Misalnya, pada tahun pertama pacaran, kalian hanya bisa menyisihkan uang untuk membeli seperempat dari harga seekor kambing. Tahun kedua mulai bisa membeli seekor kambing kecil.

Kemudian tahun ketiga bisa membeli dua ekor kambing yang gempal dan gemuk. Tahun berikutnya kalian tak mampu membeli apa-apa, karena ternyata takdir berkata lain: hubungan penuh sarat makna dan agak religius itu kandas. Bahkan tepat seminggu sebelum hari raya Idul Adha. #Life

Mungkin nasib terkadang agak kurang ajar, apalagi kalau pacarmu ketangkap basah selingkuh dengan kawan baikmu sendiri. Lalu patah hati sejadi-jadinya. Perasaan pun sulit dikontrol, bahkan ketika melewati sekawanan kambing di pinggir jalan saja kau berpaling muka sambil menutup telinga. Embik-embikan kambing tak ubahnya seperti ucapan, “Selamat hari raya kurban sayangkuhh, nanti malam kita nyate yuk!”

Sebagai motivator kelas teri, saya hanya bisa menyarankan: ikhlaskan saja. Mencoba melalui hari raya kurban tahun ini dengan legowo. Bukan memaknai kurban dengan larut pada candaan kekinian. Menyambut hangat fenomena meme dengan hashtag QurbaninAja (#QurbaninAja).

Meme tersebut seolah memantik kembali perkara hati yang belum tuntas. Menyebar meme dengan kata-kata yang diklaim paling pas mewakili isi hati pihak yang dizolimi. Lalu menjadikan momen itu untuk mendukung suasana hati secara total. Sekejap merasa sejuk, karena ada kekuatan komunal, kesatuan-kesolidan atas nasib melalui hashtag ajaib. Kalau sudah begitu, motivator kelas teri bisa apa selain bilang, “Salam tak super!”

Salah satu yang beredar di media sosial adalah meme bergambar lelaki yang tukang selingkuh. Lalu kamu bumbui dengan tulisan “punya pacar pamit mau ta’aruf, tapi nyatanya macarin sahabat sendiri. #QurbaninAja”. Bukannya senang mendulang banyak jempol dan jadi bahan tertawaan, tapi kamu malah menangis setelah mendalami arti meme dengan foto berpiksel rendah itu.

Coba renungkan kembali, apa makna kurban itu sendiri? Makna kurban yang filosofinya berawal dari kemesraan seorang bapak pada anaknya yang diuji, cinta Ibrahim pada Ismail yang terkasih. Berkurban penuh dengan kecintaan yang dicurahkan kepada Sang Pencipta. Dan kini, atas nama sakit hati dan benci yang kesumat, sukses mencederai arti kurban itu sendiri. Saya rasa tak sebercanda itu.

Seorang mantan bisa saja masuk ke dalam golongan orang-orang yang keparat, yang tak lebih baik dari kambing maupun jeroannya. Saya jadi teringat saat masa kanak-kanak dulu, bagaimana kambing-kambing itu diperlakukan dengan baik sebelum menyerahkan lehernya untuk disembelih.

Biasanya, beberapa hari sebelum hari raya kurban, orang-orang kampung selalu patungan untuk membeli beberapa ekor kambing. Kemudian datanglah rombongan kambing ke kampungku. Setelah itu, kami giring bersama ke tanah lapang.

Lalu mereka diberi ruang dengan terpal sebagai atap supaya tak kepanasan. Makanannya pun rerumputan dan dedaunan terbaik agar para kambing betulan kenyang dan gemuk. Tak lupa kotorannya rutin dibersihkan agar tak terjangkit penyakit dan tak mudah stres.

Semua orang kampung turut serta memelihara, termasuk saya dan anak-anak sepantaran saat itu. Saban sore, kami biasanya menyambangi kawanan para kambing. Kami ikut siaga seperti orang-orang dewasa, memberinya dedaunan, menyingkirkan batang-batang yang mengganggu, dan sesekali mengelus tanduknya saat nyali sudah cukup besar untuk itu.

Kambing-kambing bakal kurban mendadak jadi hewan peliharaan bersama. Walau saya dan anak-anak yang lain tahu, saat hari kurban nanti, kami bakal temui mereka dalam wujud krengsengan atau rendang. Setidaknya sebagai hewan bakal kurban, orang-orang memperlakukan para kambing begitu luhur, begitu “manusiawi”.

Saya jamin si tuan kambing juga merasa senang diperlakukan macam itu. Dengan demikian, mereka dikurbankan dalam keadaan bahagia serta manfaat. Maka dari itu, mantan pacar bisa jadi tak lebih baik dari kambing maupun isi perutnya, bila kamu ditinggalkan dalam keadaan seburuk-buruknya. Serendah-rendahnya tanpa daya sedikit pun.

Lalu pertanyaannya kepada jokes #QurbaninAja. Kurban macam apa yang dimaksud? Kalaupun iya mantan pacar yang seperti itu di #QurbaninAja, saya kok yakin tak ada manfaat dan faedahnya sama sekali. Mukjizat Tuhan pun takkan datang pada tukang selingkuh yang merendahkan derajat perempuan, bukan?

Sudahlah, berhenti mempermainkan arti kurban itu sendiri. Sekarang bagusnya coba sama-sama kita pikirkan, daging kambing yang bakal kita terima nanti enaknya diapakan? Disate, disop, digule, diguling? Lalu kita nikmati bersama-sama. Tentunya bersama dia, kalau ada…