Antara Kebab Turki, Papeda, dan Pokemon

Antara Kebab Turki, Papeda, dan Pokemon

walldevil.com

Makanan apa yang terasa akrab di telinga dan lidah orang Indonesia, kebab Turki atau papeda? Pasti kebab Turki. Buktinya, banyak penjual kebab Turki di pinggir jalan atau bahkan hanya berjarak lima langkah dari rumah anda. Kenapa tidak ada pedagang yang menjajakan papeda layaknya kebab?

Ya ini balik lagi soal permintaan dan penawaran. Kalau permintaan tidak tinggi, tak mungkin para pedagang beramai-ramai menjual kebab Turki. Padahal, kebab itu makanan asing, dari Timur Tengah. Bagaimana dengan papeda? Jangan-jangan sebagian dari kita harus searching dulu karena tak akrab di telinga. Padahal, bubur sagu khas Maluku dan Papua itu aseli Indonesia. Papua masih Indonesia kan?

Kalau dari masalah nama saja papeda tergolong makanan lokal rasa asing, bagaimana bicara soal rasa? Bagaimana papeda bisa dijual di pinggir jalan seperti kebab Turki yang makanan asing rasa lokal itu? Padahal, papeda rasanya nikmat. Apalagi bubur sagu itu disajikan dengan ikan kuah kuning khas Papua. Kalau bubur ayam kuah kuning saja bisa diterima, kenapa papeda ikan kuah kuning tidak?

Just info guys, papeda adalah makanan kaya serat, rendah kolesterol, dan cukup bernutrisi. Tapi, untuk urusan itu, mas Katondio Bayumitra Wedya, si ahli gizi anti-mainstream yang lebih paham. Atau, om Rahung Nasution, ‘si koki gadungan’, yang sepertinya harus bikin demo cara menyuguhkan papeda sebagai sajian orgasmik.

Kalau perlu om Rahung bikin filmnya, terus gelar nobar ke pelosok negeri. Dijamin om, nggak akan dipaksa bubar. Apalagi banyak orang Indonesia yang juga belum tahu manfaat makan papeda. Yang saya tahu, makanan khas Papua ini secara perlahan bisa membersihkan paru-paru. Bagi perokok, banyak-banyak lah makan papeda. Buat aktivis anti-rokok garis keras, bisa juga ikutan kampanye makan papeda.

Sebenarnya tak ada yang salah, kalau kita lebih dekat dengan segala hal yang berbau Turki, termasuk kebab. Mungkin karena Indonesia dan Turki adalah negara yang mayoritas penduduknya muslim. Banyak juga orang berdarah Turki yang jadi idola di sini.

Perempuan mana yang tidak klepak-klepek dengan pesona Mesut Ozil, bintang sepak bola Jerman yang lahir dari keluarga imigran Turki? Muda, tampan, kaya, jomblo, juga rajin berdoa. Tak banyak yang tahu, Ozil juga menjadi donatur sebuah lembaga amal untuk Palestina dan beberapa waktu lalu menjadi duta Arsenal untuk sepak bola anak-anak di Yordania. Masya Allah…

Kita juga acapkali menemukan diri kita berada dekat dengan banyak negara, karena warisan kulturalnya yang kaya atau keagungan karya sastranya yang mendunia. Dekat dengan Turki bisa lewat karya Orhan Pamuk. Sama seperti menelaah kehidupan di Amerika Latin, bisa dengan mendekatkan diri pada karya-karyanya Luis Borges, Garcia Marquez, atau Eduardo Galeano.

Lalu, siapa yang tak tersihir dengan pesona syahdu Recep Tayyip Erdogan, presiden Turki, yang kekhilafahannya banyak dipuji di Indonesia, negara yang konon menjunjung tinggi-tinggi Pancasila ini. Itu mengapa, ketika tersiar kabar kudeta Erdogan yang gagal itu, netizen di republik ini begitu heboh. Ramai, gaduh.

Dan, seperti biasa, banyak muncul pengamat dadakan, seperti tahu bulat yang digoreng dadakan. Kudeta militer yang dipimpin kolonel Muharrem Kose itu dianggap mencederai citra Turki yang Islami dan damai. Konon sampai 290 orang tewas dan ribuan lainnya luka-luka.

Erdogan memang bukan pemimpin yang buruk, walau tentu tak sepenuhnya baik. Menilai kinerja pemimpin suatu negara itu susah-susah gampang. Semua punya kelebihan dan kekurangan. Mungkin perlu diingatkan bahwa Erdogan pula yang membuka kembali hubungan bilateral antara Turki dan Israel.

Tapi bersimpati kepada Turki itu wajar. Kudeta berdarah menewaskan ratusan orang, meski Erdogan juga akan mengeksekusi mati para terdakwa kudeta. Atau, nasib kolonel Kose yang tewas dikeroyok para loyalis Erdogan usai gagalnya upaya kudeta, dan pelaku kudeta yang terjepit lalu dikeroyok massa?

Turki memang terasa sangat dekat, karena kita mengenal sesuatu yang berhubungan dengannya dan terasa akrab serta menghiasi hidup kita sehari-hari. Kita merasa dekat dengan Erdogan, Mesut Ozil, sampai penjual kebab Turki segala. Tapi justru, karena melihat semuanya terlalu dekat, terkadang kita lupa. Lupa kalau Turki itu sekuler. Tidak sepenuhnya Islami.

Tanah Turki, atau Konstantinopel (Istanbul) juga Ankara, tidak hanya dibangun oleh sejarah Islam. Ada Kekaisaran besar Romawi yang menjadi besar dan kuat di sana. Ada poros Katolik Ortodoks yang menjadi nafas Turki.

Jadi, mengenal Turki lebih dekat termasuk kebabnya, boleh-boleh saja. Tapi, jangan lupa, ada papeda asal Maluku dan Papua. Ada pula penderitaan warga Papua, yang selayaknya juga kita bersimpati. Coba bayangkan, kenapa orang Indonesia merasa dekat dengan Turki, tapi terasa jauh dengan Papua? Salahkah, jika selama ini warga Papua merasa jauh dari Indonesia?

Mungkin fenomena “menjadi dekat, namun abai dengan sekitarnya” itu sedang menjadi tren kekinian. Seperti kelakuan generasi milenial yang begitu asyik main Pokemon Go, tapi cuek sama kehidupan sosial dan interaksi di dunia nyata yang esensial. Saat ini, banyak kita temui manusia berjalan menundukkan kepala, menatap layar gawai, dan fokus mencari monster Pokemon, dibanding ngobrol bareng sama teman soal makanan. Papeda, misalnya?

Kita menjadi lebih dekat dengan Pokemon, yang virtual dan fana, dibanding dekat dengan teman yang jauh lebih nyata atau mungkin dengan jodoh dan rezeki sekalipun. Tapi, apa itu sepenuhnya salah? Tidak juga. Saya tidak mutlak-mutlakan begitu. Nyatanya anak-anak muda didorong untuk ke luar rumah. Siapa tahu ketemu jodoh. Mungkin saja sekarang lagi ngumpet kayak Pokemon.

Seorang kawan yang mengaku memainkan game ini bahkan banyak berinteraksi dengan banyak orang di jalanan, meski yang diobrolin soal Pokemon. Saya pun ingin kasih saran. Kalau di jalan sedang main Pokemon Go, lalu ketemu orang yang kece, berhentilah sejenak. Kemudian tanyakan, “Main Pokemon juga?” Kalau orang itu menjawab, “Iya, kamu juga?” Langsung aja bilang, “Iya, aku lagi kejar Pikachu dan kamu.”