Angpao, Bukan Cuma soal Uang dan Keindahan Menjomblo

Angpao, Bukan Cuma soal Uang dan Keindahan Menjomblo

vemale.com

Sincia telah tiba. Tanpa terasa, sudah Tahun Baru Imlek. Hayoo… Siapa yang tidak kenal dengan amplop merah imut-imut yang isinya selalu bikin sumringah? Kalau kata orang, apapun suku, agama, ras, dan golongannya, kalau soal angpao mah asyik-asyik aja, cuy!

Ngomong soal angpao, ada yang tahu bagaimana sebenarnya asal muasal si amplop merah ini? Mari coba kita telisik silsilah lahirnya angpao.

Kata angpao, yang lebih populer didengar di Indonesia itu, sebenarnya berasal dari bahasa Hokkian dan Teochew. Sedangkan bahasa Mandarinnya adalah hong bao, yang jika diterjemahkan secara langsung ke dalam bahasa Indonesia berarti amplop merah.

Warna merah sudah sejak lama menjadi warna favorit bangsa Tionghoa, karena dipercaya memiliki arti kebahagian, kesejahteraan, kesenangan, keberuntungan, hoki, dan semangat. Warna merah diyakini dapat mengusir segala bala dan roh jahat. Merah juga warna keberanian dan kegembiraan.

Konon, tradisi pemberian angpao ini sudah berlangsung sejak zaman Dinasti Ming dan Qing. Hadiah ini dimaksudkan untuk mengusir bencana, sehingga setahun ke depan anak-anak akan hidup tentram dan aman tanpa halangan.

Meski begitu, angpao tak hanya diberikan setiap pergantian tahun saja, namun juga diberikan ketika ada pesta pernikahan atau pesta ulang tahun. Intinya, sang kertas merah ini adalah semacam doa, dengan sedikit pemberian bersifat material.

Diyakini bahwa pada zaman dahulu kala, di setiap pergantian tahun ketika bulan sedang penuh-penuhnya, sosok roh jahat bergentayangan yang dikenal dengan sebutan Nian dan mengganggu anak-anak di Tiongkok.

Hingga sebuah keluarga kecil di salah satu pelosok desa tanpa sengaja meletakkan angpao di samping sang anak. Angpao yang ketika itu berupa koin yang diikat dengan tali merah dipercaya membuat sang roh jahat ketakutan dan pergi.

Kabar tersebut kemudian terus menyebar. Maka, mulai saat itu, rumah terutama kamar sang anak dihiasi dengan kertas merah. Mereka pun jadi percaya bahwa anak-anak butuh dibekali dengan kertas merah ini.

Bersama dengan amplop merah tersebut, disematkanlah doa agar bertambahnya tahun ke depan dibarengi dengan terhindarnya sang anak dari segala bencana.

Sama halnya dengan angpao, petasan dan barongsai yang biasanya muncul ketika Tahun Baru Imlek juga punya tujuan yang sama: permohonan dan permintaan untuk mengusir segala yang jahat pada tahun depan. Agar panen raya hingga pesta musim semi tahun selanjutnya berjalan tanpa banyak halangan melintang.

Iya, sincia atau tahun baru berdasarkan kalender bulan (lunar calendar) yang selama ini dirayakan oleh orang Tionghoa dan keturunannya di seantero bumi pada intinya adalah soal awal musim semi. Hidupnya kembali alam semesta setelah musim dingin yang suram.

Ketika cuaca sedang nyaman-nyamannya dan ladang kembali siap ditanam dengan harapan panen yang melimpah ruah, pesta untuk menyambut musim semi ini pun dirayakan dengan begitu gempita.

Rumah-rumah akan dibersihkan, perabotan akan disikat hingga mengkilap. Dinding yang terkelupas akan dicat ulang. Masing-masing keluarga akan berbenah, dan tentunya kertas merah imut-imut itu akan segera diisi untuk kemudian dibagikan.

Selain merapikan rumah, sebagian orang juga percaya memotong rambut sebelum pesta besar ini. Tapi bukan biar tambah ganteng atau kece, tapi sebagai perlambang membuang segala yang buruk pada tahun lalu. Ya, kalau jadi tambah kece, itu bonus namanya.

Pada hari perayaan sincia akan disediakan segala jenis makanan, manisan, dan pastinya buah jeruk, agar tahun depan lebih manis. Juga banyak hiasan pohon musim semi dan orang-orang akan mengenakan baju bewarna terang, bersiap sedia menyambut setahun ke depan dengan segala doa dan harapan masing-masing.

Nah, tahukah salah satu alasan (ada baiknya) melajang ketika sincia? Kita masih bisa menerima angpao dan tidak perlu membagikannya. Hohoho…

Dalam tradisi Tionghoa, orang yang wajib dan berhak memberi angpao adalah orang yang telah menikah, karena pernikahan dianggap sebagai batas pemisah antara masa kanak-kanak dan dewasa.

Selain memberi angpao pada anak-anak, biasanya angpao juga diberikan pada yang dituakan. Kesehatan dan umur panjang dijanjikan bagi mereka yang memberinya. Secara tradisi, ini soal berbagi.

Jadi ternyata ada juga positifnya jadi jomblowan dan jomblowati. Minimal masih dapat angpao setiap sincia, ya walau tentunya sembari diberondong pertanyaan, seperti pacarnya mana? Kapan nikah? Lalu dikasih wejangan oleh seluruh anggota keluarga.

Untuk persoalan menjomblo saat sincia, bahkan ada fenomena unik di Tiongkok. Di sana, ada situs penyewaan pacar. Yang terbesar bernama Taobao. Mereka menyewakan pacar palsu dengan harga mahal mulai dari setara Rp 1 juta sampai Rp 16 juta per hari.

Mungkin daripada pusing, minder, dan mati angin saat ditanya pacar dan kapan nikah, akhirnya memilih pacar hoax. Halahh…

Saran saya, tersenyum dan nikmati saja segalanya, ya makanan enak, kue maknyus, dan tentu angpaonya, walau diberondong pertanyaan-pertanyaan soal jodoh. Ya semoga pada tahun ayam api ini, kita lebih rajin bangun pagi, bekerja dengan semangat membara, termasuk giat mencari jodoh, eh?

  • Dewi Nielsen

    Tradisi ditanya kapan nikah sama kayak budaya batak dimalam tahun baru ya..:D