Angkutan ‘Online’ adalah Tanda-tanda Kemunduran Sebuah Kota

Angkutan ‘Online’ adalah Tanda-tanda Kemunduran Sebuah Kota

Ilustrasi (sripoku.com/anton)

Gojek, Grab, Uber dkk sudah merambah ke mana-mana. Kehadiran angkutan online itupun disambut baik oleh warga yang sudah jenuh dengan angkutan umum.

Bahkan, banyak warga pengguna angkutan online pamer foto selfie dengan sopirnya. Merasa bangga, karena lebih melek teknologi dalam bertransportasi. Pokoknya dunia benar-benar dalam genggaman, di telepon genggam yang katanya smart alias pintar itu.

Para penyedia aplikasi angkutan online pun semakin agresif karena merasa dikasih hati. Tak hanya dimonopoli perusahaan bermodal besar, para mahasiswa pun memanfaatkan kecanggihan teknologi ini untuk mendirikan usaha angkutan daring atau online tersebut.

Teknologi yang dikelola oleh para penyedia aplikasi itupun memudahkan masyarakat, sehingga terbuai dengan segala kepraktisannya. Belum lagi perang tarif. Yah, kalau sudah bicara diskon harga, kelas menengah budiman mana sih yang nggak tergiur?

Pamor angkutan umum, yang katanya konvensional itu, sudah pasti terus meredup. Salah siapa? Pengguna? Penyedia angkutan online? Atau, pemerintah?

Yang pasti, masyarakat selaku pengguna merasakan manfaat dari angkutan online, karena bisa mengaksesnya dengan mudah dan cepat. Ya gimana, pada era yang serba bergegas ini, angkot, bus, dan angkutan umum lainnya masih suka ngetem. Belum lagi ugal-ugalan di jalan.

Dan, angkutan online melibas itu semua. Ia adalah antitesis. Selain harga dan kecepatan, faktor kenyamanan juga diutamakan. Banyak lho, abang-abang ojek online yang pakai parfum. Kekasihmu belum tentu.

Pokoknya, menggunakan transportasi online itu keren. Yang tadinya nggak pakai smartphone, akhirnya ikut punya. Yang malas unduh aplikasi, mau nggak mau mengunduh. Ciri-ciri generasi Y dan Z banget kan? Generasi yang berkemajuan.

Maka, senjakala bagimu, wahai transportasi umum… Tinggal berapa jumlah penumpang yang diangkut per hari? Terseok-terseok penuh kegetiran. Trayek-trayek yang semula panjang kini dipangkas lebih pendek karena sepi. Begitulah kenyataannya.

Tapi, apakah kehadiran angkutan online menandakan sebuah kota yang maju? Apakah mencirikan kota yang pintar atau smart city, karena penggunaan aplikasi pada telepon pintar? Tunggu dulu…

Jangan lekas berpuas dan menganggap bahwa dampak baik yang dibawa angkutan online adalah kemajuan. Berbahaya, justru inilah salah satu tanda kemunduran sebuah kota.

Kota yang pintar semestinya ramah terhadap transportasi umum. Smart mobility menjadi satu dari delapan indikator smart city yang dikeluarkan oleh Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono. Indikator tersebut dirilis dalam acara Peluncuran Indeks Kota Cerdas Indonesia 2015.

Kota yang cerdas harus merancang transportasi umum yang baik dan berpihak kepada masyarakat. Angkutan online setidaknya sampai saat ini bukanlah angkutan umum.

Akses masyarakat dalam berpindah dari satu tempat ke tempat lain harus menjadi pertimbangan utama sebuah kota yang cerdas, pintar, atau apapun itu namanya. Pendatang atau turis yang singgah juga tidak kelabakan mencari transportasi umum.

Transportasi umum mencerminkan sebuah kota. Muka kota yang baik tampil lewat kenyamanan transportasi umum. Mau ditaruh di mana muka kota kita kalau angkutan umumnya tidak layak?

Semua pihak yang terlibat dalam urusan transportasi, harus cepat merombak tata kelola transportasi umum dengan merumahkan armada yang sudah tidak laik jalan. Lalu, menggantinya dengan armada yang fisik dan mesin beserta onderdilnya masih layak.

Pengemudi yang direkrut juga harus dibekali keterampilan berlalu-lintas. Kecakapan berkendara itu perlu ditunjang dengan kemampuan memberikan keramahan kepada pengguna. Jadwal transportasi umum harus disusun sistematis dan tepat waktu.

Dengan demikian, masyarakat tak perlu lagi menerka-nerka jadwal hingga tertahan terlalu lama di stasiun, terminal, atau halte. Masyarakat juga bisa melihat sewaktu-waktu jadwal tersebut lewat aplikasi.

Jalur khusus yang memang dipakai untuk pengoperasian transportasi umum harus dipastikan benar-benar steril dari kendaraan lain. Sehingga masyarakat bisa melenggang bebas dari kemacetan dengan transportasi umum.

Transportasi umum bila dipoles dengan baik dari segi pelayanannya akan sangat menekan angka kemacetan. Sebab, puluhan hingga ratusan orang bisa langsung terangkut dalam satu kendaraan.

Jadi kalian tak perlu lagi saling ngotot, mana yang paling banyak memakan jalan, mobil atau motor?

Jika perombakan besar benar-benar dijalankan, bukan tidak mungkin transportasi umum kembali menjadi primadona. Ia hanya perlu ‘meniru’ angkutan online.

Jika saat ini angkutan online adalah antitesis angkutan umum, ya berarti harus ada antitesis baru. Angkutan umum 2.0 adalah antitesis angkutan online.

Pemerintah kini memang getol membangun infrastruktur, termasuk transportasi massal, seperti MRT, LRT, dan lain-lain. Tapi seberapa cepat pertumbuhannya dibandingkan kendaraan pribadi? Mau membatasi produksi kendaraan pribadi? Memang berani?

Selama kecepatan produksi dan penjualan kendaraan pribadi di atas rata-rata, kemacetan sulit dihindari. Data terkini Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) menunjukkan, kerugian akibat kemacetan di Jabodetabek mencapai Rp 100 triliun per tahun.

Bank Dunia juga mengungkapkan, masyarakat Jabodetabek umumnya menghabiskan waktu minimal 3,5 jam dalam kemacetan. Pantas tua di jalan! Saya pun teringat kutipan dari Seno Gumira Ajidarma yang tersohor itu: Menjadi Tua di Jakarta.

“Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa.”

  • bisa jadi iya bisa jadi juga tidak, karena terkadang angkutan konvensional seperti tidak mau berkembang mengikuti perkembangan zaman

    • Yussaq Ali Azlamsyah

      kalau dari pandangan saya, kurangnya regulasi pemerintah. lihat saja sekarang di kota-kota besar banyak sekali angkutan online. tidak ada yang membatasi dan yang dulu digadang-gadang sebulan bisa kaya raya dengan penghasilannya, sekarang pas-pas an buat nyicil motor yang baru dibelinya.