Andaikata ‘Iron Man’ Tak Menetap di Indonesia

Andaikata ‘Iron Man’ Tak Menetap di Indonesia

Sudah dengar ada ‘Iron Man’ di Bali? Namanya I Wayan Sumardana alias Tawan. Pria berusia 31 tahun itu memang tak seganteng Robert Downey Jr alias Tony Stark, tapi ciptaannya tak kalah dengan Stark.

Stark bisa bikin Iron Man cuma di filmnya Marvel kan? Kalau Tawan jelas di kehidupan nyata. Pemuda asal Desa Nyuhtebel, Banjar Tauman, Bali itu berhasil menciptakan tangan robot yang bisa digerakkan oleh otaknya. Kalau Iron Man versi Stark? Ya tergantung sama produser, sutradara, penulis film, dan tim kreatifnya toh?

Jadi mohon maaf buat para penggemar Marvel-marvelan wabil khusus Iron Man, Tony Stark jelas nggak ada apa-apanya dibanding bli Tawan. Masih nggak percaya?

Meme Tawan dan Tony Stark Iron Man (9gag.com)
Meme Tawan dan Tony Stark Iron Man (9gag.com)

Awalnya ide pembuatan tangan robot itu muncul, karena Tawan terserang stroke yang mengakibatkan tangan kirinya lumpuh. Tapi apa otaknya jadi tumpul? Mungkin otakmu iya, tapi Tawan tidak begitu. Berbekal pengetahuan tentang elektronika sewaktu sekolah di STM, ia menciptakan tangan robot berbahan baku komponen shock sepeda motor, sejumlah perangkat elektronik, dan komputer rongsokan.

Dengan tangan robot, Tawan memang bisa kembali bekerja bahkan lebih kuat dari sebelumnya. Tapi apakah cukup sampai di situ? Kemana negara? Bukankah ciptaan Tawan ini seharusnya dikembangkan supaya lebih canggih, sehingga bisa bermanfaat bagi kebaikan manusia. Tak hanya di Indonesia, bahkan dunia?

Ah, rasanya otak ini sudah lumpuh mengharapkan kehadiran negara. Apalagi ini persoalan teknologi. Kalah prioritas sama masalah beras, daging, cabe keriting, dan urusan perut lainnya. Lagipula pejabat-pejabat kita lebih suka impor kalau urusan teknologi. Ciri khas negara berkembang yang nggak maju-maju, bukan?

Ya jangan samakan Indonesia dengan India. Meski sama-sama negara berkembang, kita itu masih sibuk urusan di bawah perut, sedangkan India sudah meluncurkan roket yang menggendong kapsul tanpa awak, yang nantinya akan membawa astronot ke luar angkasa.

Kalaupun ada anak-anak negeri yang berprestasi, cukup diberitakan saja. Jujur, saya sering banget baca berita-berita soal siswa-siswi Indonesia yang menang olimpiade sains atau sejenisnya. Tapi kok nggak ada kelanjutannya?

Terakhir, Tim Robot Indonesia 2015 yang diwakili Politeknik Negeri Bandung berhasil meraih dua medali emas, satu perak, dan satu perunggu pada kontes robot di Amerika. Pesertanya bukan ecek-ecek, ada yang dari Amerika, Tiongkok, Israel, dan lainnya. Tapi apakah sampai di situ? Semoga tidak.

Belakangan ada juga kisah dramatis Muhammad Kusrin. Lelaki berumur 42 tahun itu membuat televisi dari bahan rongsokan elektronik dan komputer. Tapi hasil karyanya berupa 118 televisi rakitan malah dimusnahkan oleh Kejaksaan Negeri Karanganyar, Jawa Tengah, gara-gara belum berizin.

Kusrin pun divonis hukuman penjara selama enam bulan dengan masa percobaan satu tahun, serta denda Rp 2,5 juta subsider dua bulan kurungan.

Beramai-ramai menghancurkan televisi hasil karya Kusrin?
Beramai-ramai menghancurkan televisi hasil karya Kusrin?

Aduh Kusrin, anda yang hanya lulusan SD kok berani-beraninya merakit televisi dari monitor komputer yang sudah rongsokan lagi. Negara kita itu sudah ditakdirkan hanya menjadi pasar barang-barang elektronik dari Jepang, Tiongkok, Korea. Membuat televisi semdiri itu melanggar kodrat.

Hasil karya anda itu melanggar undang-undang apalah itu soal Standar Nasional Indonesia (SNI). UU itu suci dan sakral, Kusrin… Pemerintah pasti lebih pilih UU daripada membina kreativitas anak negeri. Jadi abu kan televisimu?

Tapi akhirnya, meski terlambat setelah jadi sasaran bully, pemerintah memberikan sertifikat SNI kepada produk Kusrin. Yang kasih langsung menteri perindustrian, pak Saleh Husin. Kok perhatian banget sih pak? Itu SNI-nya Kusrin dipermudah ya? Gratis nggak?

Ya nggaklah, bayar plus ribet pula ngurusnya. Prosesnya memakan waktu 7 bulan. Kusrin harus mengeluarkan biaya Rp 35 juta. Dia pun harus bolak balik Bandung-Surabaya, karena uji lab harus dilakukan di Bandung. Tak ada asistensi dari pemerintah daerah pula. Nasibmu Kusrin.

Kuping kita masih terngiang dengan elegi inovasi dan kreasi Ricky Elson, si pembuat mobil sport berbahan bakar listrik. Hasil karyanya yang semula dikembangkan bersama Dahlan Iskan, menteri BUMN ketika itu, berakhir tragis.

Kini, pemuda asal Padang itu tidak didukung penuh oleh pemerintah, alasannya tidak lulus uji emisi. Kalau tidak lulus, kenapa sempat jadi ikon dalam ajang internasional semacam APEC di Bali pada 2013?

Mobil keren yang tongkrongannya nggak kalah sama Lamborghini dan Ferrari ini memang masih dalam tahap penyempurnaan. Tapi tetap dinilai ‘tidak’ layak. Kenapa harus pakai kata ‘tidak’? Memangnya kenapa, jika memakai kata ‘belum’? Pemerintah nggak mau ribet? Ya sudah, bikin telor ceplok saja, pak!

Tidak dihargai negeri sendiri, akhirnya Malaysia, negara yang kalian sering bully, menyatakan minat untuk membeli prototype mobil Selo karya Ricky Elson. Malaysia bahkan siap memboyong Ricky beserta tim ke negeri jiran tersebut. Ricky pun menerimanya.

Ricky Elson dan anak-anak bangsa yang lain, seperti Kusrin si perakit televisi, sebenarnya tidak pernah salah dalam berkreasi. Apalagi, Tawan si ‘Iron Man’. Kesalahan terbesar mereka adalah tinggal di Indonesia.

Foto: comicvine.com