“Andai Aku Seorang Hamish Daud”

“Andai Aku Seorang Hamish Daud”

Raisa dan Hamish (dokpri)

Suatu hari, Dian Sastro tidak dapat menahan dirinya. Ketika dalam kondisi yang sangat lelah, ia kemudian menepis tangan penggemarnya. Tak butuh waktu lama, media-media yang berhasil mendapatkan gambar tersebut mulai menggiring persepsi publik supaya ikut sebal dengan mbak Dian.

Insiden itu sangat sensitif, sehingga Hanung Bramantyo harus mengklarifikasi agar kejadian tersebut tidak berdampak pada film Kartini, film yang dibintangi mbak Dian. Ini tentu saja gambaran sebenarnya bahwa menjadi selebritas itu tidak mudah.

Coba sekarang tanya juga ke mbak Raisa dan mas Hamish Daud. Bayangkan, baru tunangan saja, banyak laki-laki dan perempuan se-Indonesia raya yang ngedumel sebal bahkan mengusulkan untuk membuat Hari Patah Hati Nasional, meski sebagian bernada guyon.

Lalu, kalau sudah seperti itu, memang enak? Tetep enak sih, haha… Ya tapi nggak enak-enak amatlah. Begini saja, kalau hubungan asmara kamu sedang sayang-sayangnya terus banyak yang merecoki, gimana? Apalagi, kamu nggak kenal sama mereka.

Tentu saja kamu akan bingung bertindak. Satu sisi, kamu mungkin senang karena menjadi inspirasi. Tapi di sisi lain, kamu akan bergumam, “Adoohhh… Kenapa sih nih orang!” – sambil berpura-pura baik pasang senyum lembut, padahal geregetan.

Mungkin kamu bisa bodo amat sama omongan orang, tapi kalau mbak Raisa dan mas Hamish nggak bisa begitu. Terlebih imaji yang terbentuk selama ini begitu baik, bahkan nyaris sempurna. Sudah menjadi konsekuensi bagi selebritas untuk sebisa mungkin memenuhi selera fans, meski tak jarang harus menjalani kehidupan yang bukan dirinya.

Lantas, apa memang harus begitu? Ah, andai aku diizinkan menjadi seorang Hamish Daud sehari saja, ehm, aku akan melakukan beberapa hal. Boleh ya?

Pertama kali yang kulakukan tentunya menikmati kebahagiaan yang bercampur rasa bangga. Tentu ini bukan semata karena Raisa adalah idola sejuta umat, bukan pula karena parasnya yang subhanallah cantiknya, apalagi hanya gara-gara dapat sepeda dari Pak Jokowi.

Aku hanya ingin menunjukkan bahwa berbangga dan berbahagialah dengan apa yang kita miliki. Setidaknya pada orang-orang yang terdekat dengan kita. Sebab, semua orang bisa bahagia dengan cara yang sama. Tidak bahagia, tidak bahagia dengan caranya masing-masing.

Hal berikutnya yang akan kulakukan adalah menjaga Raisa. Bukan, bukan karena rasa cemburu yang berlebihan, tapi hanya ingin mengingatkan bahwa kita semua adalah manusia biasa. Raisa bukan bidadari yang dijanjikan di atas sana.

Dengan menjaganya, itu berarti menegaskan bahwa ia adalah manusia biasa. Dan, ini berlaku untuk kita semua, saling menjaga satu sama lain. Minimal pada orang-orang yang kita sayangi. Bukan saling membenci. Sebagaimana ujaran Patrick dalam serial Spongebob, pemujaan yang berlebihan itu tidak baik.

Dengan pemujaan yang overdosis, kamu jadi lupa punya nalar yang sehat. Bahwa kita bisa mendapatkan apa yang pantas bagi diri kita. Bukannya tidak melakukan apa-apa, tapi merasa paling punya segalanya.

Lalu, bagaimana itu bisa bekerja? Ya dengan cinta dan kasih sayang, sesuatu yang belakangan semakin jarang kita jumpai. Maka, cintailah orang-orang di sekitar kita dengan apa adanya. Dengan kekuatan cinta, kita bisa meredam radikalisme. Gokil… Pantes Raisa suka sama aku? 🙂

Oh ya, yang namanya manusia biasa kan pasti lelah. Tapi, sebagai entertainer, tetap harus bisa tampil maksimal. Meski begitu, yang namanya cinta kan bukan sepihak. Masak iya inginnya nuntut kebahagiaan terus. Cinta macam apa itu?

Sebagai orang yang bekerja di industri hiburan, kehidupanku dan Raisa pasti tidak memiliki jeda. Hampir tidak ada ruang untuk kehidupan pribadi tanpa lepas dari citra tersebut. Diidolakan itu berat, lho. Menjadi idola berarti harus menjaga betul ucapan dan perilaku.

Aku tentu memahami itu, ya iyalah karena aku calon suaminya. Aku akan menjadi pendengar yang baik, tertawa ketika membahas laki-laki yang memujanya, tapi keringat dingin saat diajak berfoto. Atau, kalau dia ingin curhat karena sebal direcoki oleh penggemarnya, aku tetap menjadi pendengar yang baik. Siapa juga yang nggak mau ngobrol berlama-lama sama Raisa?

Tapi, sampai di situ, aku hanya ingin berpesan, kadang ada waktunya kita harus menjadi pendengar yang baik. Tidak seperti yang terjadi belakangan ini, semua orang inginnya didengar, teriak-teriak kalau perlu, bawa massa yang banyak sekalian. Ingin selalu didengar, lalu dibenarkan.

Aku juga bisa berbagi saran bagaimana menghadapi penggemarnya yang sejuta umat itu. Atau, kalau dia punya lagu baru, aku akan jadi orang pertama yang mendengarkan lagunya sebelum dirilis di pasaran.

Aku akan terus mendengarkan apa perkataannya agar ia setidaknya bisa lupa bahwa selama ini menanggung beban yang berat sebagai idola sejuta umat. Sebab, dipercaya orang banyak itu tidak mudah. Tidak semanis janji-janji saat kampanye, eh?

Karena begitu dipercaya, jadi ada saatnya kita bicara, ada saatnya kita mendengar. Itu seolah menjadi variabel yang saling melengkapi. Seperti aku dan Raisa, halahh…

Tapi ngomong-ngomong, saling melengkapi itu juga tidak mudah. Sama seperti sekarang ini, maunya kritik, tapi nggak solutif. Gimana bisa saling melengkapi? Terus kalau dikritik, marah. Kemudian menuduh orang, tapi orang yang dituduh disuruh yang membuktikannya. Gimana ini?

Ah sudahlah, yang pasti untuk bisa saling melengkapi butuh rasa nyaman. Ya iyalah, bagaimana aku dan Raisa mau cerita panjang lebar kalau nggak merasa nyaman satu sama lain? Nah, supaya tercipta rasa nyaman, kita harus benar-benar move on dari masa lalu. Move on lah…

Jadi, teman-teman semua, doain aku dan Raisa melanjutkan ke jenjang berikutnya ya, bersama-sama menggapai kebahagiaan. Tentunya, aku juga ingin kalian ikut bahagia. Jangan ada lagi yang patah hati.

Aku sudah nyaman dengannya dan aku melihat masa depanku bersamanya. Ia juga sama, sehingga pada akhirnya kami pun bersama. Nikmat cinta mana lagi yang engkau dustakan, apalagi bersama Raisa?

Tapi, sayangnya, aku bukanlah Hamish Daud! Bisa kubayangkan bagaimana senyum-senyum bangga di wajah Hamish di depan Raisa. Beruntung banget doi, kampret…

  • hahaha endingnya.
    kampret