Anda Inginnya Dijajah Saja, Begitu?

Anda Inginnya Dijajah Saja, Begitu?

ppcorn.com

Didorong oleh keinginan untuk berkumpul dengan orang-orang saleh, seperti yang diwejangkan Opick dalam lagu Tombo Ati, saya berkunjung ke rumah teman, enam bulan sebelum menikah. Teman itu bernama Fulan dan dia satu dari amat sedikit teman saya yang lurus hidupnya – semoga Tuhan selalu menghindarkannya dari kebosanan.

Fulan telah beristri dan berputra. Kehidupan mereka nyaris menyamai harapan utopis saya dan mungkin anda tentang pernikahan ideal. Maka, kepadanya, saya bertutur mengenai kegundahan pra-pernikahan, semacam sindrom yang biasanya menjangkiti seseorang yang lama melajang.

Saya bertanya mengenai macam-macam hal, yang kebanyakan berawalan apa dan bagaimana, dan ia sabar sekali menyimak seperti guru BP tua dan bijaksana yang mendengar keluhan siswanya. Sesi bertanya itu saya pungkasi dengan berujar, “Pernikahan… Benarkah semenakutkan itu?”

Fulan tak langsung menjawab, melainkan berlalu ke belakang sambil berkata bahwa ia punya buku menarik. Saya tahu ia senang membaca, dan saya menduga ia mengambil beberapa kitab dari pesantrennya. Judulnya barangkali 407 Alasan Menikah atau 111 Kumpulan Dalil Perihal Pernikahan atau 99 Kiat Mereguk Surga Dunia, yang semuanya berhuruf Arab gundul tanpa terjemahan.

Akan tetapi, ia kembali dengan buku kecil tipis bersampul ungu. Judulnya dalam Bahasa Inggris, bukan Arab: Law of Attraction. Dan di bawahnya, ditulis dengan huruf yang lebih kecil: Mengungkap Rahasia Kehidupan. Di bawahnya lagi, dengan huruf tebal dan kaku: Michael J Losier. “Masalahmu ada di sini,” katanya sembari menunjuk dahi, “Bukan di hati.” Lantas ia menyuruh saya pulang lekas-lekas sambil merapal doa-doa.

Buku motivasi terakhir yang saya baca, kira-kira enam tahun lalu, adalah Bagaimana Menjadi Kaya Tanpa Utang. Itu buku yang menarik, sebenarnya, andai penulisnya tak memalsukan gelar Ph.D dan tahu benar caranya menjadi kaya dan tak memasukkan kiat-kiat konyol seperti anjuran untuk menggaet istri pejabat di kiat ketiga puluh sembilan.

Namun, Michael J Losier tak memamerkan gelar Ph.D. Ia bahkan tidak menyandang gelar apa pun. Law of Attraction juga bukan buku motivasi seperti tebakan saya, melainkan buku panduan untuk menjadi apa pun yang pembacanya inginkan dengan pengoptimalan pikiran. Hanya pikiran.

Definisi Hukum Ketertarikan, seperti yang ditulis oleh Michael, adalah apa pun yang dipikirkan dengan segenap perhatian, entah positif atau negatif, akan menjelma ke kehidupan serupa dengan yang dipikirkan.

Michael benar. Pelbagai pencapaian manusia, mulai dari penemuan paku payung hingga perjalanan ke luar angkasa, berawal dari pikiran. Michael juga benar bahwa menjadi miskin atau penyakitan bersumber dari pikiran. Menjadi pejabat yang mencla-mencle atau korup atau bahkan tiran juga berasal dari pikiran.

Fulan juga benar. Kegalauan saya berawal dari pikiran. Alih-alih menggunakan energi untuk memikirkan apa-apa yang saya dambakan, saya malah terlalu fokus pada apa-apa yang saya takutkan.

Itu sudah berlalu. Pernikahan saya lancar dan bahagia sejauh ini, dan akan terus begitu hingga kami setua beringin nanti.  Tentunya ini membantu saya memahami cara kerja pikiran saya sendiri. Ini penting, sebab kita hidup di dunia yang riuh sekali.

Anda barangkali telah melego televisi dan bersumpah tak akan menontonnya hingga akhir hayat, tetapi keruwetan juga hadir di media lain sepanjang hari. Di beranda Facebook, sempat berseliweran status mengenai hari kemerdekaan, yang biasanya berakhir dengan debat tak berujung mengenai penting tidaknya merayakan hari kemerdekaan.

Beberapa orang menyebutnya semacam bid’ah, beberapa yang lain berkeras bahwa golongan kiri tak punya andil apa pun dalam meraih kemerdekaan. Golongan kiri, menurut mereka, memang sebaiknya tak punya andil apa pun di dunia dan akhirat.

Terlepas dari kepercayaan dan pandangan politik apa pun, status semacam itu jelas sumber keruwetan. Anda dilemparkan ke arena debat kusir yang melelahkan, yang argumen-argumennya ditulis dengan huruf kapital sebagai pengganti teriakan dan tanpa disertai dalil yang jernih. Dan, ujung-ujungnya kedua pihak saling memaki, seperti bocah kampung yang beradu mulut dengan bocah kampung sebelah gara-gara urusan sepele.

Seolah itu belum cukup meletihkan, status-status lainnya juga membombardir tanpa ampun. Tiba-tiba, anda tahu bahwa ada seorang gadis bernama Gloria Natapradja, yang sempat dikeluarkan dari tim paskibraka istana gara-gara status kewarganegaraan. Ia berpaspor Prancis, sama seperti kewarganegaraan ayahnya. Meski ia sejak TK tinggal di Indonesia dan memilih Indonesia sebagai tanah airnya, panitia tetap mendepaknya, meski akhirnya ditarik kembali.

Ketika itu, reaksi netizen menyayangkan sikap pemerintah. Mereka mengutuk atau mencaci atau sekurang-kurangnya menyinyiri pemerintah yang dianggap memupus cita-cita seorang siswa. Perihal pendidikan dan pemerintah memang selalu sensitif. Anda yang hanya menyimak tergulung arus kemarahan.

Sialnya, anda hidup di Indonesia, yang pemerintahnya seperti punya hobi membuat rakyat geram. Anda menutup akun Facebook, lantas mengunjungi situs berita online untuk mengikuti perkembangan kabar Gloria, tetapi yang didapati adalah berita lain yang semakin melunturkan kebahagiaan. Temanya masih sama: kewarganegaraan.

Sumber keruwetan itu berasal dari istana. Jokowi, yang tempo hari merombak kabinetnya, tiba-tiba memberhentikan salah satu menteri anyar akibat berpaspor ganda. Ada yang bilang Jokowi menunjuk menteri seperti bermain dadu, meski akhirnya diangkat kembali sebagai wakil menteri.

Hakikat dari Law of Attraction sebenarnya bisa ditemukan dengan metode lain bila anda tak gemar membaca. Dengan memahami apa yang sebetulnya diinginkan, pikiran bakal terfokus pada hal tersebut dan bukannya pada ketakutan. Dan, bonusnya adalah kemampuan untuk melihat segala hal dengan cara pandang yang beragam.

Mengenai kebisingan beranda Facebook, misalnya. Cara pandang yang lain akan membuat anda tak terjerumus ke keruwetan yang timbul oleh status-status teman. Anda akan menyadari bahwa netizen adalah entitas yang lebih reaktif ketimbang fluor terhadap air.Tentu akan sangat melelahkan, bila meladeni reaksi netizen selama setahun penuh. Bagaimana pun akan selalu ada hal yang bisa dikomentari setiap hari.

Cara pandang anda pada pemerintah juga akan berubah. Pemerintah, dalam fungsinya yang paling minim, memang ada untuk memberi ujian kepada rakyatnya. Energi anda akan habis, bila terus memikirkan apa-apa yang dilakukan dan tidak dilakukan pemerintah. Toh, mereka tak pernah memikirkan anda sebagai individu.

Perihal kemerdekaan – yah, tak perlu ikut berpikir mengenai ini-itu yang malah menggembosi kebahagiaan anda. Mau bid’ah atau tidak, didukung golongan kiri atau kanan, proklamasi kemerdekaan sudah terjadi, dan fakta sejarah tak akan berubah meski perdebatan digelar sepanjang tahun. Begitulah…

Pada HUT kemerdekaan selanjutnya, semoga anda juga memerdekakan diri dari keruwetan pikiran. Bagaimana pun, anda masih butuh pikiran yang jernih dan sehat untuk hidup bahagia hingga bertahun-tahun ke depan. Atau, jangan-jangan anda kepinginnya dijajah saja, begitu?