“Alhamdulillah, Sandal Jepitku Hilang”

“Alhamdulillah, Sandal Jepitku Hilang”

tergemes.com

Barang apa yang sering hilang di masjid?

Sandal jepit.

Kelihatannya memang remeh-temeh, tapi nyatanya alas kaki itu menjadi barang buruan nomor satu, bahkan oleh orang yang baru bersuci sekalipun. Padahal, sudah jelas. Ke masjid untuk cari pahala, kalau mau cari sandal silakan ke warung Acong.

Kehilangan sandal jepit biasanya terjadi ketika sholat Jumat. Alih-alih mau menambah kegantengan ke level yang lebih tinggi, kalau pulang sampai nyeker itu apa namanya kalau bukan amsyong?

Suatu hari, saya pernah melihat seorang jamaah sampai menulis kata-kata “sudah hilang 3x” di sandal jepitnya meski butut. Mata saya sampai perih melihatnya. Bukan, bukan karena sedih, tapi karena sandal jepitnya yang butut. Ya kali… Lha, itu orang yang ngambil sandal akibat terdesak kebutuhan ekonomi atau mau dagang?

Jadi boleh-boleh saja kalau sandal jepit dikelompokkan sebagai barang berharga di dunia perjepitan yang fana ini. Sandal jepit bahkan sudah lahir sejak zaman Mesir Kuno. Orang India, Assyria, Romawi, Yunani, dan Jepang kuno pun sudah mengenakan sandal jepit. Apakah ketika itu sudah ada tradisi mengempit?

Untuk mengetahui hal tersebut, sebenarnya tidak perlu menerjunkan para arkeologi jempolan, ahli sejarah, dan ahli bahasa. Voxpop cukup mengutus Kukuh Purwanto – sang penerjemah segalanya termasuk bahasa kuno – dan Kurnia Gusti Sawiji dengan mesin waktunya.

Tapi kalau untuk menyelidiki mengapa sandal jepit pada masa kini sering raib di masjid, saya pun mampu. Tak perlu membentuk tim pencari fakta (TPF) segala. Sandal jepit mungkin tak hilang, tapi berkas laporannya yang hilang.

Nah, kalau berdasarkan hasil penyelidikan yang dipadu dengan kemampuan cenayang, setidaknya ada lima alasan mengempit sandal jepit. Yang pertama, ini masalah disorientasi alam bawah sadar. Pelaku memakai sandal jepitmu, karena ia merasa sandalnya mirip.

Kedua, si pelaku malas nyari sendiri sandalnya di antara ribuan tumpukan sandal. Ketiga, si pelaku sengaja memakai sandal kamu, karena sandalnya raib duluan.

Keempat, si pelaku buru-buru mau pulang, karena kebelet. Kelima, ada keterlibatan jaringan sindikasi pengempit internasional. Yaelahh… Kalau alasannya begitu doang sih nggak perlu pakai penyelidikan segala, keleus.

Tapi, di balik itu semua, sandal jepit telah membuktikan bahwa dirinya juga bernilai, legendaris, serta simbol pemersatu dan kemajemukan. Sandal jepit nyaman dipakai oleh siapapun, sejak zaman Fir’aun dan kekaisaran Romawi. Bahkan, ada istilah ‘revolusi sandal jepit’ pada era pergerakan mahasiswa tahun 1998.

fandy hutari
fandy hutari

Sandal jepit pun simbol pemersatu, bahkan mengandung nilai-nilai sosialisme. Masyarakat tanpa kelas hanya bisa tercipta di atas sandal jepit, bukan akibat pertentangan antara kaum borjuis dan proletar.

Sandal jepit adalah milik tukang becak, pembantu rumah tangga, mahasiswa, pekerja kantoran – bisa cek di bawah mejanya, pak gubernur, bahkan presiden. Apapun agamamu, bahkan apapun bangsamu, sandal jepit pilihannya.

Bagi penggemar K-pop atau yang sudah mengucapkan selamat tinggal, pasti tahu kisah Sehun, personel EXO – boyband asal Korea Selatan, yang kedapatan memakai sandal jepit paling populer di negeri ini. Sehun dikabarkan memakai sandal jepit berwarna hijau setelah mengalami cedera pada jempol kaki, usai konser di Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta.

Setelah itu, Sehun menjadi ketagihan. Ia memakainya kembali dan tertangkap kamera di Bandara Incheon ketika ingin terbang ke Tiongkok dan tur konser di Thailand. Sandal jepit akhirnya mendunia. Andaikata Sehun diangkat jadi Duta Sandal Jepit Dunia pasti tak ada kpopers yang tobat seperti Erika Rizqi.

Namun, kisah Sehun mengerek harga sandal yang pernah diisukan menjadi bahan untuk membuat kerupuk kulit itu, melonjak 10 kali lipat. Para pedagang online beralih ke sandal jepit. Pada beberapa iklan, ada yang menayangkan harga sandal itu di Facebook senilai Rp 58 ribu. Bahkan di Twitter, ada yang menjualnya hingga Rp 200 ribu. Alamak!

Sandal jepit juga bisa dikatakan sebagai simbol kerakyatan. Presiden Jokowi pun dikenal sebagai sosok yang merakyat, dan tak segan-segan memakai sandal jepit. Dalam sebuah kesempatan, mantan presiden SBY menyindir Jokowi soal sandal jepit.

“Saya harap pak Jokowi memberi perhatian terhadap lembaga negara. Ini state dan fasilitas presiden. Tangan presiden untuk melaksanakan manajemen pemerintahan sesuai UU. Tidak boleh lembaga terhormat jadi warung kopi. Orang-orang bawa proposal hanya pakai sandal. Jangan jadi pasar yang punya kepentingan macam-macam. Itu mengganggu presiden, negara, dan pemerintah. Entah itu relawan, fans, atau aktivis,” kata SBY.

Padahal, soal sandal jepit ini, Presiden Uruguay yang terkenal karena merakyat, Jose Mujica, bahkan pernah melakukan aksi yang tak biasa dilakukan kepala negara. Beberapa tahun lalu, ketika melantik menteri kabinetnya, Mujica hanya mengenakan kemeja biru muda yang lusuh, celana ngatung, dan sandal. Meski sandalnya itu bukan sandal jepit seperti yang ada di Indonesia.

Sandal jepit sekali lagi bisa dipakai siapapun dan kapanpun. Tahan banting di segala medan. Tren kekinian bahkan memakai pasangan sandal jepit dengan warna yang berbeda. Misalnya merah-kuning, biru-hijau, dan sejenisnya. Mahabenar sandal jepit dengan segala kemajemukannya.

Siapa sih yang nggak mau dan belum pernah memakainya? Itu sebabnya sering hilang sehabis Jumatan. Tapi, kalau saya kehilangan sandal jepit, saya akan ikhlas. “Alhamdulillah, sandal jepitku hilang.”

Sambil tersenyum sinis, tentunya.

  • Nisrina

    hehehe…sendal jepit memang cocok untuk semua kalangan, baik itu kalangan yang terjepit maupun kalangan yang menjepit ^_^

  • Gue fans sandal jepit, Pen *tos* 😀

  • *Tos* sesama fans sendal jepit 😀