Diam-diam, Ternyata Kita Kepo dengan Penampakan di Dalam Alexis

Diam-diam, Ternyata Kita Kepo dengan Penampakan di Dalam Alexis

Ilustrasi Alexis (detik.com)

Ini semua gara-gara Ahok. Kalau dia nggak bilang “Di Alexis, surga bukan di telapak kaki ibu, tetapi di lantai 7″, mungkin nggak akan ada penutupan hotel dan griya pijat di Jalan RE Martadinata, Ancol, Jakarta Utara tersebut.

Namun, Anies Baswedan pintar memanfaatkan pernyataan itu, yang justru dipakainya untuk menyerang Ahok saat debat kandidat Pilkada Jakarta. Intinya, sudah tahu begitu, mengapa tidak ditutup?

Ahok pun berkilah, karena pihaknya belum memiliki cukup bukti untuk menutup Alexis. Tidak seperti diskotik Stadium dan Miles yang disikat, karena ditemukan narkoba. Tidak seperti membongkar kawasan Kalijodo yang ketika itu kental praktik prostitusi.

Namun, yang menang pilkada adalah Anies. Ia pun menindaklanjuti pernyataan Ahok merealisasikan janjinya menutup Alexis karena diduga jadi ajang prostitusi, meski itu dibantah oleh pengelola Alexis.

Tapi, apapun itu, Ahok dan Anies sebetulnya sejalan, saling melengkapi. Ahok tutup Stadium dan Miles, Anies berangus Alexis. Lha kita, masih saja sibuk saling menyindir.

Tenang sodara-sodara, simpan energimu. Seperti kata Moammar Emka, penulis buku Jakarta Undercover, masih ada 300 hotel yang memiliki konsep serupa dengan Alexis di Jakarta. Bukan begitu, Pak Anies?

Oh, jangan pernah meremehkan gubernur ‘pribumi’ ini. Pasti, siapapun yang melanggar peraturan, disikat habis. Termasuk proyek reklamasi, ye kan?

Pak Sandiaga Uno – wakilnya Pak Anies – katanya juga sudah bersiap mengeluarkan jurus bangau terbang untuk mengantisipasi ribuan pekerja hotel dan griya pijat yang terpaksa menganggur. Ya, dengan mengajak mereka ikut pengajian, dan apalagi kalau bukan program OK OCE.

Lalu, bagaimana dengan nasib pengusaha hiburan?

Mereka ini sedang cemas pasca penutupan Alexis. Ketua Asosiasi Pengusaha Hiburan Jakarta (Aspija) Erick Halauwet bahkan menyebut Pemerintah Provinsi DKI Jakarta arogan, sebab tidak ada verifikasi terutama soal tudingan praktik prostitusi.

Keputusan Pemprov DKI Jakarta dinilai bisa berdampak negatif terhadap pertumbuhan usaha hiburan. Padahal, kontribusi pajak hiburan terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) cukup besar. Memang berapa setoran pajaknya?

Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) DKI Jakarta 2016, kontribusi pajak hiburan terhadap PAD mencapai Rp 700 miliar. Tahun lalu itu, setorannya naik sekitar 27% dibandingkan 2015 yang sebesar Rp 550 miliar.

Lantas, apa gunanya uang sebesar Rp 700 miliar?

Sebagai ilustrasi, uang sebesar itu bisa untuk membangun tiga jalan layang (flyover) dan tiga jalan bawah tanah (underpass). Misalnya, flyover Pancoran, Cipinang Lontar, dan Bintaro, serta underpass Kartini, Mampang Kuningan, dan Matraman.

Dalam APBD 2017, Pemprov DKI Jakarta menganggarkan dana Rp 700 miliar untuk tiga flyover dan tiga underpass tersebut. Uang sebesar itu juga bisa bangun dua simpang susun Semanggi atau membeli bus gandeng TransJakarta merek Scania sebanyak 250 unit.

Berarti, setoran pajak para pengusaha hiburan besar dong? Tunggu dulu… Kalau dibandingkan dengan PAD 2016 yang sebesar Rp 32,01 triliun, kontribusinya hanya sebesar 2%.

Lantas, dengan hitung-hitungan tersebut, apakah Pemprov DKI Jakarta bakal ikut cemas bakal kehilangan potensi sebagian pajak hiburan?

Ini sebetulnya bukan semata masalah angka, tapi juga menyangkut iklim usaha yang ujung-ujungnya terkait ketenagakerjaan. Dan, ini katanya negara hukum, semua orang berhak diperlakukan sama.

Tapi, ya itu, tekanan publik di ‘jaman now’ kenceng banget, terutama dari para netizen yang budiman. Anies selalu dicecar pertanyaan soal penutupan Alexis, bahkan ketika ia belum dilantik menjadi gubernur. Pokoknya, Alexis harus tutup. Titik.

Karena itu, banyak orang mendukung langkah Anies yang tidak memperpanjang izin operasi hotel dan griya pijat Alexis. Namun, apakah dukungan itu karena murni menentang kegiatan usaha di Alexis atau jangan-jangan karena tidak memiliki akses untuk menikmati hiburan di sana?

Terlepas dari itu, faktanya banyak orang yang ingin tahu atau kepo seperti apa Alexis, terutama lantai 7 yang disebut-sebut Ahok sebagai ‘surga dunia’ tersebut. Nggak percaya?

Berita-berita tentang Alexis terutama yang menyuguhkan foto-foto penampakan di dalam gedung memenuhi kolom terpopuler sejumlah situs berita online.

Misalnya, berita berjudul “Foto: Penampakan Kamar dengan Bathtub di Lantai 7 Alexis” dan “Ini Foto-foto Lantai 7 Griya Pijat Alexis nan ‘Famous’ Itu…”

Ada juga berita terpopuler berjudul “Melihat ‘Kolam Cetek’ Warna-warni di Lantai 7 Hotel Alexis”, “Foto: Pojok Temaram di Lantai 7 Hotel Alexis”, dan “Naik ke Lantai 7 Hotel Alexis, Ini yang Pertama Terlihat”.

Itu artinya apa coba, kalau bukan kepoin akun mantan, eh penampakan di dalam Alexis? Ternyata, diam-diam penasaran juga. Apakah kamu salah satunya?

Lalu, apakah itu wajar? Ya wajar. Manusiawi? Nggak juga sih, karena bisa jadi kita memang bangsa voyeur alias tukang ngintip. Pada satu sisi, kita mengecam segala tindakan yang diduga asusila, tapi pada sisi lain justru kepo ingin mengintip.

Sama seperti beredarnya video porno di internet atau grup WhatsApp. Banyak yang mengecam pelaku, tapi sekaligus menikmati tontonannya. Ah, mahabenar Young Lex dan Awkarin. Kalian semua suci, aku penuh dosa…