Nggak Apa-apa Alay, yang Penting Kayak Filsuf

Nggak Apa-apa Alay, yang Penting Kayak Filsuf

Ilustrasi filsuf (tarihiolaylar.com)

Sejak terminologi ‘alay’ yang merupakan akronim dari ‘anak layangan’ berkembang di khazanah peristilahan keseharian kita, maka kata ini kerap digunakan untuk menunjuk sekumpulan remaja yang norak, dangkal, kampungan, atau cheesy.

Pada awalnya, alay mempunyai ciri-ciri yang spesifik seperti menulis teks di ponsel dengan kombinasi huruf besar – huruf kecil – angka yang tidak pada tempatnya. Atau, berdandan dengan gaya yang berbeda dengan orang kebanyakan – ingin terlihat mencolok, padahal tidak harmonis, apalagi estetis.

Namun, secara umum, istilah alay ingin menunjuk pada fenomena urban tentang orang-orang yang ingin memanjat pada level sosial tertentu (social climber) dengan cara-cara instan.

Definisi alay sendiri terus berkembang, dari yang tadinya menunjuk pada kelas sosial tertentu, sekarang mulai meluas secara semena-mena pada setiap anak remaja yang menghabiskan hari-harinya dalam menggauli gaya hidup.

Jadi, orang kota berpendidikan, yang secara kelas sosial sudah tinggi – tanpa perlu memanjatnya – berpotensi disebut alay, selama ia tidak banyak melakukan hal-hal bermanfaat pada masa remajanya. Misal, belajar tekun sepanjang hari agar bisa masuk ke universitas favorit atau jadi aktivis pergerakan.

Namun, perlu diingat, pelabelan alay juga terbilang suka-suka dan bahkan berbau ‘fasisme gaya hidup’. Sebuah golongan mengidentifikasi golongan lain sebagai alay semata agar ia menjadi tidak alay.

Seperti kata filsuf bernama Michel Foucault yang mengatakan bahwa ‘orang gila’ adalah tudingan dari sekelompok orang agar golongan mereka sendiri kelihatan lebih waras.

Alay juga menjadi sebuah istilah peyoratif terhadap fase perkembangan tertentu yang disebut puber. Padahal, puber adalah fase sangat alamiah dalam tahapan hidup manusia menuju kedewasaan. Jika istilah alay sudah digunakan sedemikian fasisnya, saya perlu buatkan pembelaan untuk alay-alay ini.

Filsuf

Jika fase puber sering dituding sebagai alay, maka saya bisa menyatakan bahwa mereka ini sebenarnya mirip-mirip filsuf. Bagaimana bisa ada kesimpulan seperti itu, jika para alay ini kerjanya hanya main-main saja?

Begini. Salah satu ciri-ciri masa puber adalah keinginan untuk mencoba segala sesuatu tanpa perlu memikirkan konsekuensinya. Para alay sering menyebut kegiatan ini sebagai: seru-seruan.

“Ngapain selfie di tempat itu?” Ya, seru-seruan aja kali. “Ngapain jauh-jauh nonton Megadeth ke Singapura?” Ya, seru-seruan aja kali. “Ngapain lo bikin instagram?” Ya, seru-seruan aja kali.

Percaya atau tidak, pemikiran yang tampak dangkal dan tak bertanggungjawab itu persis seperti apa yang dipikirkan oleh pemikir eksistensialisme asal Prancis, Albert Camus (1913-1960). Menurut Camus, hidup ini absurd, karena kita akan berhadapan dengan kematian.

Tidak ada yang bisa kita lakukan selain bersikap bahagia dengan terus berbuat tanpa harus memikirkan konsekuensinya. Karena itu tadi, kata Camus, hidup ini sia-sia belaka. Jika Camus ini seorang alay, tentu ia akan berkoar, “Hidup ini hanya seru-seruan!”

Lalu, seorang alay juga sering bersikap individual dan tak mau peduli dengan mengatakan, “Terserah deh orang lain mau gimana, yang penting dia gak ganggu gue.” Apakah sikap semacam ini dibahas dalam tataran filosofis? Ada, namanya etika deontologis.

Etika semacam ini mensyaratkan kita untuk berbuat sesuatu yang diyakini benar. Bisa atas nama peraturan, bisa juga atas nama maksim universal. Artinya, dalam diri seorang alay, sudah terdapat suatu maksim universal ala Immanuel Kant: Alangkah indahnya dunia ini, jika masing-masing orang memikirkan hidupnya sendiri, tanpa ikut campur mengurusi orang lain.

Seorang alay juga sering punya sikap terlampau praktis. Karena individual tadi, maka mereka cenderung hanya melakukan sesuatu yang berguna bagi dirinya secara langsung. Misalnya, jika untuk urusan belajar, mungkin saja mereka malas. Tapi untuk urusan belanja, pikirannya langsung terang benderang.

Katanya, “Buat apa belajar? Nanti juga belajar kan tujuannya untuk dapat uang. Uang kemudian dibelanjakan. Lebih baik kita langsung belanja saja sekarang!”

Suatu pemahaman silogisme yang sangat baik, meski mungkin tidak melalui pelajaran logika Aristotelian. Namun, satu hal yang pasti: pemikiran mereka sejalan dengan kaum pragmatisme Amerika Serikat seperti John Dewey dan Charles Sanders Peirce.

Bagi mereka, suatu konsep hanya bernilai jika mempunyai guna. Ini adalah serangan kaum pragmatisme kapada para pemikir Eropa yang cenderung ‘asyik sendiri’ tanpa memikirkan nilai praktis pemikirannya tersebut.

Terakhir, yang paling luhur, adalah kenyataan bahwa seorang alay juga mengimplementasikan tiga metamorfosa ruh dari filsuf besar Jerman, Friedrich Nietzsche. Kata Nietzsche, seorang manusia harus melalui tiga tahap dalam kehidupannya agar hidup paripurna. Yang pertama menjadi unta, yang kedua menjadi singa, dan yang paling puncak adalah menjadi anak.

Menjadi unta artinya menanggung segala beban dan hidup hanya sekadar ikut aturan saja. Menjadi singa berarti melawan segala nilai-nilai dan tidak cepat puas. Sedangkan menjadi anak adalah sikap ‘dangkal estetis’, memandang segala sesuatu hanya senda gurau belaka. Bagaikan seorang anak yang menghadapi banjir, ia akan dengan gembira berenang bersamanya.

Mungkin saja, sadar atau tidak sadar, alay ini sudah merupakan tahap tertinggi dari metamorfosa rohnya Nietzsche. Mereka selalu berusaha hidup dipenuhi senda gurau dan memandang banyak persoalan sebagai hal yang remeh-temeh. Jika demikian, inilah yang disebut ‘tataran ma’rifat para filsuf’.

Jadi, masih mau menuduh alay sebagai kelompok masyarakat yang ecek-ecek?

  • Santi Indra Astuti

    Menarik! Mungkin ini saatnya saya harus bangga sebagai emak2 alay…

  • hery suhendar Ardiansayah

    waduh foto gw alay ga yak