Alasan Mengapa Kita Jangan Meremehkan Sabun dan Uang Baru
CEPIKA-CEPIKI

Alasan Mengapa Kita Jangan Meremehkan Sabun dan Uang Baru

indoberita.com

Ada banyak hal di dunia ini yang sebenarnya tidak bisa disatukan. Minyak dengan air dan jomblo dengan pujaan hatinya. Kalau mau ditambahkan, kita bisa memasukkan Mas Agus dengan debat terbuka dan timnas sepak bola kita dengan gelar juara.

Tapi kemarin pas saya bikin status begitu, seorang teman protes. Katanya air dan minyak bisa disatukan dengan zat pengemulsi, salah satunya sabun. Sekarang saya jadi tahu kenapa sabun para jomblo cepat habis. Mungkin pujaan hati mereka akan larut menjadi angan-angan kalau kena sabun di kamar mandi.

Kalau soal Mas Agus, saya tidak tahu apakah beliau – yang selalu juara lomba lari dan tumpukan bukunya ngalah-ngalahin bantalnya Hulk – bakal mau menerima undangan debat terbuka kalau dikasih sabun?

Atau, sebenarnya beliau cuma butuh penonton yang lebih dekat dengan panggung debat supaya sewaktu-waktu bisa melakukan moshing. Atau, kita memang disuruh menunggu sampai lebaran kuda?

Tapi soal Mas Agus dan debat terbuka, kalau melihat pelangi di matanya, kuyakin beliau akan sampai di sana.

Timnas dengan gelar juara sepertinya juga kena kutukan minyak dan air ini. Gak tanggung-tanggung, kemarin itu adalah final kelima buat timnas kita, dan masih belum berhasil juga.

Padahal ya, Bang Toyib saja cuma butuh tiga kali puasa tiga kali lebaran buat pulang. Mudah-mudahan, mereka bukan butuh main sabun untuk bisa jadi juara. Amit-amit jabang baby.

Menurut saya – kalau mau nurut sih, gak maksa juga – senyawa surfaktan atau emulsifier yang timnas kita butuhkan mungkin bukan bonus Rp 12 miliar atau berapa pun juga.

Mungkin yang lebih mereka butuhkan adalah iklim kompetisi yang sehat dan pengurus PSSI yang gak berantem melulu. Atau, menteri olahraga yang jago informatika dan ahli metadata. Eh, udah pernah ding?

Sayang beliau gak kepilih lagi. Padahal, dengan kemampuannya, beliau bisa menerapkan pola latihan berteknologi tinggi kayak Jerman. Memangnya ilmu informatika cuma bisa dipakai buat mantengin gambar porno?

Tapi gitu-gitu, Jerman juga gak pernah tuh juara AFF. Ini jelas omongan orang yang gak paham sepak bola.

Saya kasih tau ya, selain taktik canggih dan keahlian individu yang ciamik, suporter juga memegang peranan penting. Ada gitu kalian lihat suporter Jerman di Piala AFF kemarin? Gak ada. Makanya Jerman gak bisa juara.

Sama seperti Indonesia dan Thailand, mereka juga gak pernah ketemu di partai final Piala Eropa, karena suporternya gak mendukung mereka. Malah setiap ada Piala Eropa, suporter Indonesia kalau gak mendukung Jerman ya membela Belanda. Atau Inggris, atau Spanyol, atau Italia.

Suporter macam apa itu?!

Tapi sama seperti minyak dan air yang bisa disatukan dengan bantuan senyawa yang tepat, beberapa hal yang kita kira tidak bisa bersatu nyatanya bisa. Luna Maya dengan Sophia Latjuba, misalnya. Atau, Jonru dengan Ulil. Pakai sabun juga?

Buat apa Bang Jonru butuh sabun cuma buat temenan sama Mas Ulil? Bukan. Keduanya – juga Luna dan Sophia – bisa bersatu karena bantuan zat pengemulsi yang bernama pilkada.

Jonru dan Ulil mendukung Mas Agus, Luna dan Sophia mendukung Ariel.

Kalau ada yang kita kira tidak bisa bersatu tapi nyatanya bisa, maka ada juga yang kita sangka mempersatukan tapi kenyataannya tidak. Uang, misalnya. Kata orang, di depan uang, agama semua orang sama. Nyatanya gak begitu kalau kita bicara soal uang baru.

Beberapa orang bilang kalau uang baru kita mirip Tiongkok. Padahal, kalau dilihat-lihat, Tiongkok itu gambarnya Mao Zedong semua. Terus Cut Meutia di mana miripnya sama Mao Zedong?

Yuan Tiongkok (wsj.com)
Yuan Tiongkok (wsj.com)
Euro (ctvnews.ca)
Euro (ctvnews.ca)

Ada juga yang menghubung-hubungkannya dengan agama. Di hadapan uang, jadi ada yang kafir juga. Saya sih gak apa-apa juga kalau begitu, tapi kan kafir itu ada macam-macam. Ada yang harus diperangi, ada yang masih bisa dijadikan teman.

Terus uang mana yang harus dimusuhi dan uang mana yang masih boleh dijadikan teman di dompet?

Pepatah “di depan uang, agama semua orang sama” ternyata gak terlalu benar juga. Atau, jangan-jangan karena uang selalu dicetak di dua sisinya, jadi kita semua gak benar-benar ada di depan uang.

Jangan-jangan yang ngomongin soal agama di uang sebenarnya lagi ada di belakangnya, jadi agamanya bisa gak sama. Mungkin ini masukan juga buat Bank Indonesia, lain kali kalau nyetak uang satu sisi saja. Supaya pasti semuanya, yang mana depan yang mana belakang.