Alasan Mengapa Kita Harus Pahami Tinju Tradisional Flores

Alasan Mengapa Kita Harus Pahami Tinju Tradisional Flores

floresbangkit.com

Jika anda berkesempatan mengunjungi Flores, jangan hanya menjadikan Pulau Komodo sebagai fokus tujuan. Apalagi kalau kunjungan itu memang diniatkan untuk wisata atau berlibur. Saya pastikan anda akan menyesal, karena tak akan mengenal bagaimana wajah Flores yang sesungguhnya.

Pulau Komodo dan keindahan lautnya memang tersohor, tapi tidak akan sempurna bila tidak memasukkan wisata budaya masyarakat Flores ke dalam catatan agenda wisata. Jiwa petualang anda bakal tergugah, ketika menyelami keanekaragaman budaya yang selama ini masih berada di dasar samudera dan belum muncul ke permukaan.

Sejak lama, Pulau Flores dikenal sebagai salah satu pulau kecil di Indonesia yang dihuni oleh beragam suku, aneka bahasa, dan budaya yang berbeda. Namun, sebagian besar daerah bercurah hujan rendah. Kemarau adalah sahabat paling karib yang menemani penduduk sepanjang tahun.

Maka tidak heran, jika di sepanjang Pulau Flores, kita banyak menemui perbukitan tandus yang dihiasi rerumputan berwarna keperakan. Tapi bukan berarti tanah Flores tidak bisa ditumbuhi apa-apa. Bercocok tanam, berkebun, dan melaut adalah aktivitas sehari-hari warga setempat.

Arus modernisasi juga ikut merambah ke sana. Meski demikian, di tengah gempuran arus modernisasi yang membabi-buta, masyarakat Flores pada umumnya masih menjaga dengan baik warisan-warisan nenek moyang. Sesuai dengan namanya, Flores adalah nusa bunga. Maka, sudah sepantasnya dia tetap menjadi taman bunga bagi Nusantara dan menjadikan masyarakat Flores sebagai perawatnya.

Ada dua daerah administrasi di Flores bagian tengah yang memiliki tradisi unik, dan mungkin paling unik sejauh yang saya ketahui. Kabupaten Nagekeo dan Kabupaten Ngada – nama dua daerah itu – dikenal dengan tradisi tinju tradisional yang unik luar biasa. Kehidupan agraris yang dilakoni sejak dahulu kala ternyata melahirkan sebuah kebudayaan yang mengandung makna filosofi begitu mendalam.

Tinju tradisional Flores merupakan serangkaian ritual adat yang dilakukan pada bulan-bulan tertentu (masa panen) setiap tahunnya. Hal itu sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas anugerah yang diberikan. Tempat pertandingannya pun bukan sembarang tempat. Pertarungan ini hanya bisa dilakukan di lokasi rumah adat sebagai pusat berlangsungnya kegiatan adat.

Lebih dari itu, karena hampir setiap suku di dua kabupaten tersebut memiliki tradisi tinju tradisional, maka pertandingan akan terus berpindah lokasi selama satu atau dua bulan. Menyesuaikan dengan agenda dari suku yang bersangkutan.

floresbangkit.com
floresbangkit.com

Etu, Sega, atau Mbela Adhak adalah istilah lokal yang dipakai untuk menamai tradisi tinju tradisional ini. Kata tradisional di sini sekaligus  penegasan untuk membedakannya dengan tinju modern yang biasa disiarkan di televisi. Tapi, mohon untuk tidak menyamakannya dengan pertarungan jalanan alias tawuran, yang kerap diberitakan oleh media selama ini.

Beruntunglah anda yang pernah menyaksikan film impor dengan latar peradaban Romawi – misalnya Gladiator – dimana ada pertarungan antara dua jagoan dengan menggunakan senjata, kemudian banyak penonton di sekelilingnya. Secara garis besar, ada kemiripan terkait latar berikut suasana antara Gladiator dengan tinju tradisional masyarakat Flores.

Hal yang membedakan pertarungan Gladiator ala Romawi dengan tinju tradisional Flores adalah pertandingan ini bukan untuk menentukan menang dan kalah. Ini pertandingan yang dilegalkan oleh adat. Artinya, kekerasan yang ada di dalamnya tidak bisa ditinjau melalui kacamata Komnas HAM dan KPAI.

Segala bentuk dan unsurnya murni berangkat dari rangkaian proses adat. Anak-anak tidak dilarang untuk menonton. Malah di beberapa tempat, ada pertandingan khusus anak-anak.

Pada setiap pertandingan, tentu ada wasit (seka) yang terdiri atas beberapa orang dengan fungsi dan tugasnya masing-masing. Petinju yang hendak bertarung akan dililit dengan selendang atau sejenisnya pada pinggang, kemudian ujung selendang yang mengekor ke belakang akan dipegang oleh seorang petugas yang disebut sike. Hal ini untuk mengantisipasi si petinju agar tidak lepas kontrol ketika sedang bertarung.

Menariknya lagi, senjata yang dipakai sebagai pegangan petinju bukanlah parang, tombak, pisau, atau alat tajam lainnya. Alat ini seukuran kepalan tangan, namanya kepo atau wolet. Bahan bakunya dari ijuk yang dipilin hingga menyerupai gumpalan. Tapi jangan salah, sekali mendarat di wajah lawan, kalau tidak sobek dan berdarah ya bikin lebam juga. Lumayan sih?

Meski kemungkinan lebam dan berdarah itu ada, saya pastikan anda tidak akan menemui sebuah kengerian di situ. Bagaimana bisa ngeri, selama pertandingan penontonnya begitu riuh berteriak menyemangati jagoannya yang sedang bertanding. Tidak perempuan, tidak laki-laki, tidak tua, tidak muda, semua berbaur jadi satu.

Petinju yang bertanding juga dilarang dendam dan haram hukumnya baku pukul di luar pertandingan. Jangan samakan dengan pemilihan presiden (pilpres) dan pemilihan kepala daerah (pilkada). Pemilihannya sudah selesai sejak kapan tau, tapi pendukungnya masih dendam-dendaman sampai sekarang. Eh?