“Aku Rindu Serindu-rindunya sama Plato”

“Aku Rindu Serindu-rindunya sama Plato”

blog.traintracks.io

Seorang ibu muda yang gesit, ceria, dan suka menunjukkan kekangenannya sama sang suami, menulis status di akun media sosial. Statusnya sederhana. Kalau saya tidak salah baca kalimatnya seperti ini, “Kenapa ya, semalaman bokong saya sakit?”

Yang kemudian terjadi adalah beragam komentar yang mengalir deras bak air bah. Banyak orang kepo ingin informasi yang terdepan dan terpercaya mengapa bisa begitu? Ya tentunya ada juga yang berkomentar vulgar. Lagipula apa sih yang tak vulgar di dunia permedsosan?

Tapi mereka yang berkomentar tak bisa disalahkan juga. Namanya juga manusia, punya akal dan nafsu. Sudah menjadi konsekuensi masang status bohay seperti itu. Dan, status bohay tersebut mirip jamur. Legit dan tumbuh subur saat musim hujan seperti saat ini.

Itu sebenarnya belum seberapa. Masih banyak yang lebih greng. Tapi memang, semuanya kembali lagi pada tingkat kengeresan setiap orang. Jangankan status bohay, mengunggah foto-foto close up wajah yang kemilau tersapu make up saja bisa ditafsirkan lain. Bukankah yang paling tahu maksud dari foto itu adalah si pengunggahnya sendiri? Bukan saya, anda, apalagi Nusron Wahid, Ahok, atau MUI.

Biasanya foto yang seperti itu dilengkapi dengan pose bibir yang disensual-sensualkan. Ajibkan istilahnya? Mas Tukul Arwana bilang bahwa pose bibir yang disensual-sensualkan bermakna seperti ‘menantang’ kepada siapa yang melihatnya. Nyohh…

Para komentator yang rata-rata cowok petakilan menuliskan komentarnya dengan garang. Perempuan siempunya akun medsos menjadi bahan bully-an yang tak karu-karuan. “Mbak kalau kesepian, ayo saya temenin”, “Minta pin bbmnya dong mbak”, “Berapa tarifnya semalam?” Saya paham mereka bermaksud guyon. Tapi, untuk menikmati sebuah tertawaan, apakah harus melakukan pelecehan seperti itu?

Saya awalnya tidak paham bagaimana respon para pemilik akun yang sudah dikomentari habis-habisan itu. Apakah mereka sedih, hancur, sebab dipermainkan oleh cowok-cowok petakilan – sebutan halus para pria hidung belang? Atau, mereka malah senang, bahagia, dan puas. Sebab, tidak percuma ia dengan kerelaannya mengunggah wajah dan tubuhnya yang sensual.

Tapi semua terjawab tanpa meminta jawabannya. Menariknya, indikasi jawaban itu saya pahami ketika memonitor lagi akun-akun sejenis yang sampai artikel ini diketik terus saja mengunggah sesuatu yang bisa dianggap sensual. Akun-akun itu masih sering memamerkan kevulgaran, yang sadar atau tidak telah meruntuhkan rasionalisme.

Runtuhnya rasio pada masyarakat berakibat nyata dengan menyeruaknya pendewaan pada hal-hal yang empiris, sebuah pemahaman bahwa kebenaran dapat diketahui melalui indera manusia. Eksistensi diri tidak akan tercapai, jika dirinya tidak dipandang melalui indera orang lain.

Begitu pula eksistensi lainnya tidak akan ia yakini, jika inderanya tidak melihatnya secara langsung. Istilah yang terkenal dari paham empirisme ini adalah ‘tunjukkanlah hal itu pada saya’.

Masyarakat pun lebih mempercayai tayangan-tayangan daripada kemampuan akal budi. Masyarakat lebih yakin pada hal-hal yang terbuktikan dengan inderanya, walau obyek yang diinderai itu tidak punya alasan dari sisi rasio akal budi.

Fenomena Awkarin dan Anya Geraldine hanyalah satu fragmen di tengah fragmen-fragmen pendewaan empirisme lainnya. Orang Jawa bilang, kasus Awkarin dan Anya Geraldine yang pernah dipersoalkan KPAI sekadar geblake embeng atau ketidakberuntungan belaka. Sebab, yang lebih vulgar jumlahnya lebih banyak.

Tidak bermaksud membela keduanya, KPAI seharusnya mempersoalkan pula akun-akun medsos lain yang penuh syahwat dan pasti membahayakan kalangan anak-anak. Atau, mempersoalkan pula akun-akun Youtube yang memampangkan, misalnya pentas dangdut dan film-film yang vulgar. Ah, bakal capek banget ya jadi anggota KPAI, pasti kerjaannya menumpuk.

Di sisi lain, bentuk pendewaan empirisme lainnya juga terpampang jelas dan terang pada kasus santri-santrinya Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Mereka terpesona dengan tayangan sang ‘junjungan agung’ tersebut, ketika mempraktikkan ‘sulap’ penggandaan uang. Mereka percaya tanpa reserve dalam pikirannya.

Yang paling menggelegar lagi adalah ketika seorang ibu tua, seorang yang dikenal cerdas, tangkas, dan lulusan S3 cum laude dari perguruan tinggi ternama di Amerika, ikut-ikutan meyakini ‘sulap’ si Dimas Kanjeng. Bahkan tanpa sungkan – dengan rasio akal budinya sendiri – membela mati-matian gurunya itu.

Dari kasus Dimas Kanjeng itu dapat ditarik tiga kesimpulan menarik. Pertama, di negeri ini jadi dukun itu enak. Jadi dukun itu bisa mendatangkan banyak uang. Dengan rasio masyarakat kita yang gampang ambrol, itu jelas menguntungkan para dukun dengan teknik-teknik sulapnya.

Kedua, lulusan S1, S2 dan S3 bukanlah jaminan anda menjadi waras. Contohnya si ibu tua tadi, yang dikenal cerdas, lulusan terbaik, eh nampak kewarasannya masih kalah sama dukun. Dan, ketiga, masyarakat ternyata masih sering mabuk duit tapi zonder kewarasan.

Dari fenomena-fenomena kekinian yang luar biasa memuja empirisme itu, saya pun merasakan kekangenan yang teramat sangat. Saya kangen sekali, rindu serindu-rindunya, dengan kehadiran mbah Plato yang dulu mengusung filsafat bahwa akal budi atau rasionalisme sudah cukup menjadi harta kekayaan bagi umat manusia.

Seandainya dia hadir di rumah saya, mbah Plato akan saya minta duduk dulu di ruang tamu. Supaya tenaganya pulih kembali, saya akan beri hidangan sarapan penuh gizi. Agar pikiran filsafatnya kembali mengemuka, saya akan hidangkan segelas kopi hangat.

Setelah itu, barulah saya ajak ngobrol-ngobrol santai. Anda pun bisa ikut nimbrung di tengah-tengah kami. Biar semuanya bisa melaporkan kepada mbah Plato yang agung itu.

“Ehm, sudah kenyang kan, Mbah?”

Sambil memegang perutnya, mbah Plato menjawab, “Ehm juga, iya saya sudah kenyang nih. Makasih sudah memberi saya sarapan yang enak.”

“Eh, mbah Plato. Kami sangat senang dengan kehadiran kembali anda di dunia ini, dunia yang pasti akan mengagetkan anda!”

“????????” mbah Plato kebingungan.

“Ternyata ajaran mbah di negara kami ini tidak berfaedah. Ajarannya mbah Plato masih kalah sama murid mbah, Aristoteles. Aristoteles kini bangganya bukan main, sebab ajaran empirismenya berhasil mengangkangi ajaran gurunya, ya anda ini mbah Plato.”

Mbah Plato malah terkekeh, “Ke ke kek… Kalian ini aneh. Aku ini tidak pernah memaksakan ajaranku kepada orang lain. Aku juga tidak malu, kalau si Aris lebih dikenal daripada aku. Dan, di dunia ini, semuanya adalah pilihan. Pilihan menjadi orang yang waras atau tidak waras. Sudah gitu saja.”