Aku Ingin Berlindung, Bukan Terkurung di Balik Kerudung

Aku Ingin Berlindung, Bukan Terkurung di Balik Kerudung

youtube.com

Enam tahun tinggal di Jogja, banyak sekali perubahan fisik di kota ini. Mulai dari pelebaran jalan, pembangunan hotel, apartemen, mal, resto, cafe, sampai kedai kopi. Meski berubah secara fisik ala kota-kota besar, nyatanya Jogja masih bermasalah untuk urusan toleransi.

Belakangan, sikap sebagian masyarakat yang cenderung intoleran semakin tampak. Intoleransi bahkan juga terjadi pada orang yang keyakinannya sama. Dari data Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika, setidaknya ada 15 kasus intoleransi di Jogja pada 2015.

Intoleransi terjadi di tempat kerja, kampus, bahkan sekolah. Label kota toleran untuk Jogja tampaknya mulai terkikis, bahkan sejak awal saya menetap di kota ini.

Saat saya ikut Ospek di UNY, semua mahasiswi yang beragama Islam wajib memakai kerudung. Padahal, teman saya bernama Fitri tidak memakai kerudung sebelumnya. Tapi karena perintah panitia, ia akhirnya nurut, meski dengan muka cemberut. Saya sebenarnya maklum dengan perasaan Fitri, karena secara teknis kerudung itu memang ribet dan gerah.

Lanjut hari kedua, acara display UKM di GOR UNY. Mahasiswa angkatan 2011 melakukan aksi balik badan, karena salah satu UKM seni menampilkan tarian tradisional dengan mengenakan kostum adat. Jangan salah, aksi itu bukan karena kesadaran para mahasiswanya, tapi perintah dari panitia Ospek tiap fakultas.

Apapun alasan dan tujuannya, apakah itu untuk menjaga pandangan mata karena Ospek berlangsung saat Ramadan atau eksistensi panitia Ospek belaka, tetap saja itu tidak dibenarkan karena melanggar hak orang lain dan tidak menghargai keinginan maupun pilihan orang lain.

Meski bukan kampus Islam, fenomena tersebut kerap terjadi di kampus saya ketika itu. Dua kasus intoleransi di atas hanya sebagian kecil. Sebab, tak hanya di kampus, tapi juga terjadi di salah satu sekolah negeri di Jogja. Di sekolah itu, murid-murid perempuan yang beragama Islam diberi aturan untuk mengenakan kerudung di sekolah.

Beberapa waktu lalu, seorang kawan yang bekerja paruh waktu di warung makan juga diwajibkan memakai kerudung panjang, rok, dan kaos kaki. Kerja berasa ikut pengajian, keluhnya.

Setelah ditelusuri, ternyata tidak cuma di warung makan itu saja yang mewajibkan karyawatinya mengenakan kerudung panjang dan rok, tapi ada beberapa rumah makan lainnya di Jogja, misalnya rumah makan khas Aceh, sampai warung makan penyetan di jalan Gejayan.

Kawan saya memang berkerudung, tapi masih dengan gaya sporty ala atlet voli. Jadi, meski berkerudung, kawan saya ini biasanya memadukan busananya dengan celana dan kaos panjang. Jarang sekali keluar dengan mengenakan rok seperti yang diwajibkan di warung makan tempatnya bekerja.

Ia sering kali mengeluhkan rasa tidak nyaman saat harus menggunakan rok dan kerudung panjang yang menutupi setengah dari tubuhnya. Terlebih saat harus bekerja di sebuah rumah makan yang gerakannya kudu gesit.

Dari Mesopotamia sampai Eropa

Imbauan berkerudung sebetulnya sudah ada sejak 3000 SM, di daerah Mesopotamia, jauh sebelum kebudayaan samawi hadir. Para perempuan sudah mengenakan kerudung panjang sebagai penutup kepala yang disebut Tiferet. Tak hanya menutupi kepala, tapi juga wajah mereka dari paparan sinar matahari dan debu.

Budaya kerudung di Mesopotamia ini kemudian dianut oleh masyarakat Israel dan masyarakat di sekitar semenanjung Arab. Bagi orang Yahudi, kerudung menjadi bagian dari tradisi yang kuat dalam masyarakatnya. Perempuan Yahudi mengenakan kerudung saat keluar rumah. Terkadang malah menutup seluruh tubuhnya dan hanya meninggalkan mata.

Berkerudung menurut mitologi Persia kuno merupakan sebuah kemah pengasingan untuk perempuan yang sedang menstruasi, karena dianggap kotor. Mereka dimasukkan ke dalam kamp-kamp dan diharuskan mengenakan kerudung.

Bahkan di Agama Kristen, baik Protestan maupun Katolik, gereja ortodoks menafsirkan bahwa kerudung harus dilestarikan perempuan saat beribadah. Perempuan yang memutuskan untuk menjadi biarawati wajib memakai kerudung, seperti Bunda Teresa.

Di Eropa, seperti Norwegia, Rusia, Belanda, dan Italia, perempuan mengenakan tutup kepala dari kain persegi empat yang dilipat menjadi segitiga, yang diikat melilit di dagu atau tengkuk. Kebudayaan itu berlangsung pada tahun 1960-an.

Jadi, bagi lembaga atau rumah makan di Jogja atau dimana pun, tak perlu bangga mengimbau bahkan mewajibkan perempuan yang beragama Islam untuk mengenakan kerudung, karena kerudung bukan cuma di Islam.

Kerudungnya Umat Islam

Agama Islam, yang merupakan agama paling bungsu di antara ajaran Samawi lainnya, baru mengimbau bahkan mewajibkan penggunaan kerudung bagi perempuan pada masa Nabi Muhammad SAW sekitar tahun 600. Tapi sebetulnya tradisi kerudung di Arab sudah berlangsung sebelum itu.

Ahli tafsir Indonesia, Quraish Shihab memaparkan ayat-ayat Al-Quran, hadis, dan beberapa pandangan ulama yang menjelaskan tentang batas aurat perempuan dalam bukunya yang berjudul ‘Jilbab, Pakaian Wanita Muslimah: Pandangan Ulama Masa Lalu dan Cendekiawan Kontemporer’.

Mengenai aurat perempuan, Quraish Shihab menjelaskan dua pandangan ulama. Pertama,menyatakan seluruh tubuh perempuan tanpa kecuali adalah aurat, sedangkan pandangan ulama kedua mengecualikan wajah dan telapak tangan.

Ayat-ayat yang menjadi diskusi adalah Q.S. Al-Ahzab ayat 32-33, 53, dan 59. Lalu Q. S. An-Nur ayat 30-31 dan 60, serta beberapa hadis yang menjadi acuan dua pandangan ulama. Semua itu menggambarkan etika berpenampilan istri-istri Nabi atau perempuan Islam untuk tidak menampakkan perhiasan dan menjaga aurat.

Yang paling menarik adalah ulasan Quraish Shihab tentang pandangan ulama kontemporer terkait kerudung. Misalnya pandangan Qasim Amin, cendekiawan Mesir, alumnus Fakultas Hukum yang menimba ilmu serta pengalaman di Prancis, yang juga dijuluki Muharrir al-Mar’ah atau pembebas perempuan.

Pakaian yang dikenakan, menurutnya, merupakan adat kebiasaan yang lahir akibat pergaulan masyarakat Mesir Islam dengan bangsa lain yang dianggap baik dan menirunya, kemudian menilainya sebagai tuntunan agama.

Dalam buku Tahrir al-Mar’ah atau Pembebasan Perempuan, Qasim Amin berpendapat bahwa Al-Quran membolehkan perempuan menampakkan sebagian dari tubuhnya di hadapan orang-orang yang bukan mahramnya. Akan tetapi Al-Quran, menurut Qasim Amin, tidak menentukan bagian-bagian mana dari anggota tubuh itu yang boleh dibuka.

Pejalanan Kerudung di Indonesia

Sebelum memasuki tahun 90-an, kerudung di Indonesia masih belum populer. Baru memasuki awal tahun 90-an, kerudung mulai dijadikan seragam di Universitas Islam Negeri (UIN). Institusi pendidikan dan pemerintah mulai memfasilitasi perempuan berkerudung di Indonesia melalui SK No 52 C Tahun 1982.

Imbauan berkerudung juga muncul di Aceh melalui Peraturan Daerah Syari’ah (Perda Syari’ah) Nangroe Aceh Darussalam. Para perempuan juga warga di Aceh diwajibkan mengenakan kerudung atau pakaian muslim pada hari Kamis dan Jumat.

Dalam perjalanannya di Indonesia, kerudung juga pernah dilarang di beberapa daerah. Di Bali, misalnya, pernah ada larangan bagi pengunjung menggunakan penutup kepala, juga bagi para Polisi Wanita atau Polwan untuk tidak mengenakan kerudung.

Terlepas dari imbauan berkerudung di Indonesia baik untuk melindungi tubuh perempuan dari paparan matahari dan debu, atau sebagai perintah agama maupun perkembangan fesyen, para perempuan tidak seharusnya dipaksa berkerudung. Perempuan memiliki hak atau kuasa atas tubuhnya untuk menentukan sepenuhnya bagaimana perempuan berpakaian.

Yup, seharusnya kerudung bukan menjadi penghambat karir atau aktivitas perempuan, tapi menjadi pendukung yang membuat nyaman, tidak mengekang. Karena sejak kemunculannya, budaya kerudung menjadi pelindung, bukan malah mengurung perempuan…