Aku Berkuasa, Maka Aku Ada

Aku Berkuasa, Maka Aku Ada

Sebaris kalimat Abraham Lincoln sepertinya masih belum usang untuk digunakan saat ini, “Jika kau ingin mengetahui karakter seseorang, beri dia kekuasaan.” Setidaknya kalimat tersebut terbesit ketika KPK mengumumkan penetapan status tersangka terhadap Gubernur Sumatera Utara, Gatot Pudjo Nugroho.

Berdasarkan pengembangan kasus yang menjerat pengacara kondang OC Kaligis, Gatot bersama istrinya (yang kedua), Evi Susanti, akhirnya menjadi tersangka kasus korupsi. Tidak sulit untuk menduga, penetapan status hukum ini langsung memancing reaksi di berbagai media sosial. Partai penyokong Gatot, PKS, turut terbawa-bawa.

Sudah kau duga, bukan? Beberapa kasus yang melibatkan kader partai ini — melihat tren yang terjadi belakangan — cepat memancing reaksi netizen. Ditambah lagi, Gatot ditetapkan sebagai tersangka bersama dengan istri keduanya. Tak perlu waktu lama, berbagai variasi bully-an muncul bagai jamur di musim hujan. Begitu riuh.

Saya sendiri termasuk orang yang tidak begitu tertarik memperhatikan dan atau terlibat dalam ‘pesta bully’ ini. Saya tidak ingin jadi bagian – mengutip tweet Arman Dhani – golongan yang senang karena KPK menangkap orang yang berasal dari kelompok yang tidak kita suka.

Saya ini golongan orang yang merasa senang, karena menemukan satu lagi bukti bahwa negara memang sedang berperang melawan korupsi. Maka saya mengingatkan, barangkali luput, coba baca juga berita bahwa di hari yang sama Kejaksaan menetapkan Direktur Keuangan TVRI sebagai tersangka korupsi dan KPK mulai menahan tersangka kasus korupsi Alkes Universitas Udayana.

Itu bukti-bukti lain kehadiran negara melawan korupsi. Mari kita senang!

Dramatis

Kembali ke kata-katanya Abraham Lincoln di awal. Kenapa kata-kata tersebut terbesit di kepala saya ketika membaca berita penetapan tersangka terhadap Gatot? Tak lain karena saya membaca tweet-tweet @BILLYKOMPAS. Billy bercerita, sosok Gatot yang pertama dikenalnya adalah sosok yang begitu sederhana.

Istri pertama Gatot adalah anggota DPRD Deli Serdang, tapi mereka berdua dikatakan menjalani kehidupan yang sederhana. Tinggal di sebuah rumah kontrakan, (hanya) mempunyai harta tak bergerak berupa sebuah motor Suzuki Shogun.

Ketika maju sebagai calon wakil Gubernur Sumut, kekayaan Gatot tercatat paling sedikit dibanding calon lainnya, berkisar Rp 500 juta. Sungguh inspiratif dan tampak memberikan secercah harapan. Bukankah begitu sosok pemimpin ideal yang diharapkan, seorang pemimpin yang sederhana dan merakyat.

Empat tahun berselang, tahun 2012, keadaan berubah. Sulit rasanya untuk tetap mengatakan Gatot adalah sosok pemimpin yang sederhana. Dalam laporan kekayaannya (saat itu dirinya sudah menjadi Plt Gubernur Sumut menggantikan Gubernurnya yang terjerat kasus korupsi), Gatot tercatat memiliki harta Rp 3,8 miliar. Kenaikan yang cukup signifikan dalam waktu empat tahun sebagai pejabat.

Saat menjabat sebagai Plt Gubernur Sumut inilah Gatot mulai ditempa isu-isu miring. Bahkan santer terdengar, Gatot — yang disebut-sebut memiliki hubungan tidak harmonis dengan mantan Gubernur Sumut yang dibui karena korupsi itu — berada di belakang kasus yang menjerat Gubernur Sumut saat itu. Asumsi ini juga muncul karena dengan kasus yang menjerat sang Gubernur, Gatot otomatis naik jabatan menjadi orang nomor satu di Sumut.

DPRD Sumut, saat itu, sempat berencana melakukan interpelasi kepada Gatot. Akhirnya, interpelasi tersebut gagal dilakukan. Gagalnya interpelasi ini memantik rumor lainnya, Gatot disebut-sebut memberikan ‘imbalan pengamanan’ kepada beberapa oknum anggota DPRD tersebut. Pengamanan ini ditujukan agar posisi dan kekuasaan Gatot tidak terganggu.

Jika memang rumor tersebut benar, maka bisa terlihat bahwa kekuasaan memang begitu melenakan. Bahkan seorang Gatot yang dikenal sederhana bersedia mengamankan posisinya dengan uang yang tidak akan sedikit jumlahnya.

Perihal aman mengamankan posisi dan kekuasaan, mari kita lihat juga bagaimana proses ditetapkannya Gatot sebagai tersangka sekarang ini. Pemprov Sumut sedang menghadapi dugaan perkara korupsi Bansos dan BDB. Gatot menunjuk OC Kaligis, yang notabene adalah pengacara pribadinya untuk menjadi pengacara Pemprov Sumut dalam penyelesaian kasus ini.

Pada perjalanannya, ada pengajuan ke PTUN dan ada penyuapan kepada empat pejabat pengadilan PTUN. KPK masih menelusuri kasus ini termasuk tentang siapa pemberi dana dalam proses penyuapan pejabat PTUN tersebut.

Gatot boleh saja mengklaim tidak tahu menahu masalah tersebut, tapi status hukumnya sekarang sudah berubah dari saksi menjadi tersangka. Menyandang status sebagai tersangka bisa diartikan dia diduga kuat terlibat dalam praktik kotor korupsi dan suap menyuap ini.

Apakah begitu besarnya magnitude sebuah posisi dan kekuasaan, sehingga seorang Gatot yang sederhana dan merakyat sampai melakukan praktik kotor untuk mempertahankannya? Entahlah. Atau memang ini karakter sebenarnya dari sosok Gatot? Ah, kekuasaan memang bikin orang terlena…

Kini, dia terancam masuk penjara, mungkin karena nafsu berkuasanya amat besar. ‘Aku berkuasa, maka aku ada (di penjara)…’