Aktivis HAM Itu Bernama Ibrahim, Bapak Tiga Agama: Islam, Nasrani, Yahudi

Aktivis HAM Itu Bernama Ibrahim, Bapak Tiga Agama: Islam, Nasrani, Yahudi

study.com

Bagaimana Idul Adha kemarin, wahai akhi dan ukhti? Masih brodkesan sebening embun? Wabil khusus untuk laskar rantau-ers yang nggak bisa pulang kampung, jangan nyesek. Esensi hari raya kurban itu melepas ego, baik ego kemelekatan harta maupun kemelekatan rindu.

Secara simbolik, perayaan Idul Adha selalu sama di beberapa negara. Masyarakat yang mampu secara finansial dan perasaan melakukan persembahan kurban ternak, baik embek, sapi, kerbau, hingga unta. Berjuta-juta tabungan uang kita sisihkan demi mempersembahkan hasil prostitusi ternak terbaik.

Lho, kenapa dengan prostitusi? Terdengar nggak enak gitu ya? Ya itu cuma perasaanmu saja. Sesekali coba kunjungi peternakan. Lihat betapa liberal dan binal mereka berihikk-ihikk dalam hajat melestarikan rantai spesies tanpa mengucap ijab qabul. Astaghfirullah.

Ibadah kurban sendiri adalah ibadah yang sakral. Penuh dengan nilai-nilai tentang berbagi dan keikhlasan. Melepaskan ego kita atas ‘kepemilikan’ untuk kemaslahatan umat. Termasuk melepas syahwat ingin ber-selfie di sebelah embek dan mengunggahnya ke media sosial biar dikira anak sholeh untuk media dakwah.

Nah, mumpung Idul Adha belum lewat-lewat banget dan masih bulan Dzulhijjah, saya ingin menulis tentang dunia aktivis Nabi Ibrahim, bapak para nabi, dan sumbangsihnya bagi peradaban manusia. Kenapa? Nggak tahu, kepingin aja. Seperti cinta, kita tak perlu menanyakan kenapa rasa itu tiba-tiba datang sekalipun datang terlambat, bukan?

Saya lebih suka melihat sosok nabi dari sudut pandang kemanusiaan daripada hal-hal berbau mukjizat. Ibrahim AS adalah bapak dari tiga agama semit: Islam, Nasrani, dan Yahudi. Semasa hidupnya, mungkin beliau tak akan pernah menyangka kalau tiga ‘anak kandung’ tersebut tumbuh menjadi agama-agama terbesar pada masa depan, meski kadang berkelahi akibat kesalahpahaman.

Semasa muda, Ibrahim bisa dikatakan termasuk golongan ‘kaum kafirin-kafirot’ pada masanya. Mengapa demikian? Karena beliau memang filsuf, keras kepala, cerdas, dan menggunakan otak untuk berpikir. Pencerahan memang datang dari sebuah pengalaman batin atas pencarian, bukan dari warisan orang tua.

Ia melawan arus dari mitologi yang dianut luas oleh mayoritas bangsanya. Tak banyak orang yang berani melakukan itu. Terkadang saya berpendapat bahwa sanggup memberikan keleluasaan kepada akal untuk bebas menari ke sana-sini adalah kemewahan tersendiri.

Ibrahim yang merupakan anak dari keluarga seorang seniman – bapaknya ahli pahat patung yang disegani – memiliki anugerah kemewahan tersebut. Kemewahan yang bahkan tak sanggup dimiliki oleh bapaknya yang berprofesi sebagai seorang seniman.

Darah seniman sepertinya tidak diwariskan kepadanya, justru metode empiris dan berpikir kritis yang membentuk pola pikir Ibrahim sejak muda. Mempertanyakan segala sesuatu layaknya zaman filsuf-filsuf.

Namun, lebih dari itu, Ibrahim adalah pejuang hak asasi manusia (HAM) yang keberaniannya tiada tanding. Ibrahim muda sudah kemlinthi melawan tirani untuk memperjuangkan kebebasan berekspresi, berpendapat, beragama, dan kebebasan menyembah. Kebebasan yang bahkan pada abad 21 ini masih sering ‘diperkosa’, meskipun dijamin undang-undang.

Atas perjuangannya itu, Ibrahim diganjar hukuman mati berupa disate hidup-hidup. Sepele kan? Hanya gara-gara menyembah Yang Lain. Tapi kaum-kaum vigilante bar-barnya Raja Namrud langsung kebakaran jenggot. Teriak kopar-kapir sana-sini sambil mengacung-acungkan pedang melantunkan nama besar dewa kepada Ibrahim. Mirip siapa ya kalau sekarang?

Kalau saya sih boro-boro seberani Ibrahim. Ndebati dosen menye-menye bertipikal baperan saja, saya sudah ciut nyali. Padahal, ancamannya cuma IPK, belum nyawa. Makanya, saya belum layak menjadi imammu manusia bergelar Ulul Azmi.

Tak cuma itu, sepak terjang keaktivisan Ibrahim berikutnya adalah menciptakan budaya yang akan lestari selama ribuan tahun. Sebuah budaya yang mengangkat derajat umat manusia. Sebuah budaya yang menyelamatkan manusia dari bejana kejahiliyahan. Sebuah budaya yang menjadi pijakan dasar bagi progresifitas HAM dalam memperjuangkan kebenaran universal bahwa saya memiliki hak untuk kamu sayangi setiap manusia memiliki hak untuk hidup.

Semua berawal ketika Ibrahim ‘mimpi ngawur dan nggak jelas’ (bagi ukuran kita yang hidup di zaman sekarang). Apakah beliau bermimpi basah? Bukan, kalau mimpi semulia itu kerjaannya editor Voxpop saya. Bapak agama samawi ini bermimpi diperintah untuk menyembelih putra tercintanya.

Tapi cukup, nggak usah debatin yang Ishaq apa yang Ismail, mending energimu dihabiskan untuk ndebatin enakan gule apa tongseng. Itu jelas lebih konkret dan berguna bagi republik.

Tentu, jika realisasi atas mimpi persembelihan ndilalah kok terjadi di zaman sekarang, apa nggak heboh jagat dunia media dan dunia maya? Apa nggak geger lini-lini buzzer? AA Gatot, Mario Teguh, dan Mukidi pun terpaksa harus mengalah dan berbagi panggung dulu dalam menerima ekspos dan pusat pergosipan.

Singkat cerita, setelah berbincang-bincang dan menimbang-nimbang di antara sang abi dan buah hati, sebilah golok sudah mantap terasah. Sang anak sudah pasrah diri seperti lembu lemah tak berdaya. Sejenak mata golok hendak menyayat kulit ari leher putranya, seketika itu pula ia berubah menjadi embek. Puji Tuhan, Haleluya, Allahu Akbar, lonceng berdentang, bedug menggelegar.

Mereka berdua berlinang air mata, bahagia, risalah wahyu kenabian Ibrahim telah dituntaskan. Barangkali kitab-kitab suci lupa mencatat bahwa keberhasilan tersebut dirayakan dengan menyembelih kambing dan bakar-bakaran sate dengan resep ala cak Madura. Syahduuu…

Di awali oleh sebuah risalah wahyu berupa ‘mimpi psikopat’ percobaan pembunuhan, sebuah kebudayaan besar telah lahir. Kebudayaan yang mengangkat derajat saya, kamu, kamu, dan kamu sebagai umat manusia. Sebagai spesies human, homo sapien, puncak rantai makanan.

Ia dan nama agungnya adalah lambang yang akan mengakhiri ritual-ritual primitif berupa pengurbanan cuma-cuma perawan desa untuk para jones kere malesan dewa. Simbol bisu yang seolah hendak berkata kepada sekte-sekte kuno, “Sudahlah, akhiri semua euforia kegilaan ini. Tuhan bukan drakula.”

Perawan-perawan itu layak dan memiliki hak untuk hidup. Mereka dilahirkan untuk disayangi, dipacari, dinikahi, dan dibahagiakan. Cukup akhiri tangisan sanak keluarga di tiap gubug rumah, ganti lah dengan persembahan hewan ternak. Jangan ada lagi darah segar perawan sia-sia di antara kita, wahai sodara-sodara.

Jangan salah, peradaban umat manusia di zaman Ibrahim banyak yang meyakini kurban perempuan akan membawa keberkahan, membawa kesuburan tanah dan ternak, mencegah bencana dan penyakit, serta menghilangkan murka Tuhan.

Jangankan jauh-jauh pergi ke zaman Ibrahim. Yang deket saja, misalnya saat Nabi Isa akan lahir. Saat peradaban Yunani kuno sudah melahirkan pemikir-pemikir moderat macam Socrates. Ketika itu, di Arab sana, kegilaan bani-bani di bawah komando emir-emir masih demen banget dengan perang, merampok, menjarah, memperkosa, hingga mengawini ibunya sendiri. Apa lacur.

Bahkan yang sangat ngeri adalah mengubur bayi perempuan hidup-hidup. Mengubur hasil persenggamaan yang telah susah-susah dikandung 9 bulan 10 hari sambil bertaruh nyawa. Ya karena standar moral masyarakat Arab waktu itu memang begitu. Sebuah aib bagi keluarga bilamana melahirkan tangisan seorang bayi perempuan.

Beruntunglah kalian Mukidi-Mukidi, eh Kartini-Kartini Nusantara. Peradaban budaya kita tak sengeri itu. Mentok-mentoknya cuma disuruh bikin seribu candi.

Nah, sahabat-sahabat super, sudah kah sahabat-sahabat mensyukuri Idul Adha kemarin dengan riang gembira, suka cita, dan penuh keikhlasan? Jangan lupa berterima kasih pada perjuangan sang nabi besar Ibrahim AS. Bismillah Al Fatihah buat beliau.

Mari sama-sama kita ucapkan, “Marhaban ya kurbanan wahai Nabi Ibrahim.” Kisah heroikmu takkan tenggelam ditelan samudera. Kalau tenggelam nanti dikasih pelampung biar ngambang. Tabik…