Ah, Ternyata Aksi Vicky Prasetyo Masih Dibutuhkan Bangsa Ini

Ah, Ternyata Aksi Vicky Prasetyo Masih Dibutuhkan Bangsa Ini

Vicky Prasetyo (bintang.com/Bambang E. Ros)

Tragedi kembali terjadi di Indonesia, ketika seorang pemuda yang menggunakan samurai mengobrak-abrik kegiatan misa di Gereja Santa Lidwina Bedog, Yogyakarta.

Pria yang usianya belum seperempat abad itu, kemudian diidentifikasi bernama Suliono, pemuda asal Banyuwangi yang punya mimpi menikah dengan bidadari. Duh, memangnya bidadari mau apa sama teroris? Bidadari juga milih-milih, keleus…

Suliono adalah contoh anak muda yang kurang ajar sama orang yang lebih tua. Pastor Prier yang diacungi dan disabet samurai itu sudah masuk Indonesia sejak 1964. Soeharto nan legendaris saja belum berkuasa, Pastor Prier sudah belajar Bahasa Jawa.

Kejadian pada Minggu pagi, 11 Februari 2018 tersebut begitu cepat memenuhi ruang-ruang horor di linimasa. Kalangan umat yang diserang – seperti biasa – bukannya marah, melainkan tetap setia menyebarluaskan makna ‘kasih’ dan ‘pengampunan’.

Sebagian kalangan lain menyatakan bahwa penyerangan ini sebagai darurat humanisme maupun darurat intoleransi.

Aksi nekat Suliono ini menyedot perhatian banyak orang, sekaligus menutup berita-berita lain yang seharusnya viral. Salah satunya, pernikahan Angel Lelga dan Vicky Prasetyo.

Sebelumnya, linimasa media sosial begitu riuh dengan potongan-potongan video aksi Vicky Prasetyo di Pantai Ancol. Jelas, Dilan yang cuma jualan kata-kata romantis dan kenakalan geng motor tampak sebagai pecundang di hadapan Vicky, yang terjun dari helikopter demi perempuan yang baru dinikahinya.

Belum lagi, jika menyaksikan betapa heroiknya Vicky terjun ke laut untuk mencari cincin – yang tampak jelas bahwa sebenarnya dia lemparkan sendiri. Yes, sesudah Dilan dengan standarnya yang tinggi, Vicky menetapkan standar romantis yang jauh lebih tinggi. Bagi yang belum kawin, nah lo!

Sejak muncul tiba-tiba ketika bertunangan dengan Zaskia Gotik yang lantas mempopulerkan dirinya melalui ‘kontroversi hati’, 29 my age, ‘statusisasi kemakmuran’, ‘labil ekonomi’, hingga ‘dedikasi apresiasi’, Vicky seolah tak terbendung untuk moncer di kancah hiburan Indonesia.

Vickynisasi menjadi sebuah aliran yang cukup menggema dan sebetulnya lumayan juga untuk dijadikan basis untuk ikut pilkada. Terbukti, Vicky pun digadang-gadang untuk menjadi bakal calon wali kota Bekasi.

Kemunculan Vicky pasca bertunangan dengan Zaskia Gotik itu terbilang canggih, karena tak lama kemudian muncul pengakuan bahwa sejatinya dia masih terikat perkawinan. Dan, dia ternyata pernah kalah dalam pemilihan kepala desa. Gimana kalau ikut pilkada?

Tidak lama pasca pertunangan nan mewah di hotel berbintang banyak itu, Vicky justru masuk ‘Hotel Prodeo’ terkait praktik penipuan, yang sebetulnya sudah divonis beberapa tahun sebelumnya.

Namun, lepas dari penjara, Vicky bukannya tenggelam. Pria bernama asli Hendrianto itu malah wara-wiri di berbagai acara hiburan yang tayang di berbagai stasiun televisi, dengan menjual Vickynisasi.

Dan, ketika pernikahannya dengan Angel Lelga ditayangkan secara live di frekuensi umum, makin banyak suara-suara sumbang kepada Vicky.

Terlebih, beberapa detail pernikahannya juga bikin dahi berkerut. Setidaknya, ijab kabul yang tidak menyebut nama asli saja sudah aneh. Belum lagi, hal-hal absurd lain yang tentu saja sudah dikupas habis oleh para netizen yang selalu benar itu.

Sungguh, pada hari itu, saya masih berpikir bahwa kalangan yang menyebut dirinya entertainer dengan menjual hal-hal absurd sebagai orang yang ingin kaya tanpa memberikan manfaat pada masyarakat.

Dipikir-pikir, datang ke resepsi nikahan tetangga masih lumayan dapat makan. Lha, nonton Vicky dan Angel nikah secara live? Sudah televisi beli sendiri, listrik bayar sendiri – dan naik terus setiap bulan, kalau lapar ya cari cemilan sendiri.

Rakyat jelata yang menyaksikan pernikahan itu tidak memperoleh apapun. Nggak tahu kalau warga Bekasi.

Hingga kemudian muncul Suliono yang masih muda belia dan dari rekam jejak belum pernah terlibat kasus penipuan, belum pernah kalah pemilihan kepala desa, apalagi belum pernah bertunangan dengan penyanyi dangdut yang lagi cerah.

Seharusnya, pemuda semacam itu menjadi harapan bangsa yang jengah dengan hiburan-hiburan yang disajikan di televisi dengan begitu brutal, dimana Vicky Prasetyo sebagai salah satu bintang di dalamnya.

Ealah, ternyata Suliono memilih untuk angkat nama secara lebih mengerikan. Kalau Vicky Prasetyo yang jelas-jelas punya vonis Mahkamah Agung untuk mondok di bui saja masih berani tampil di infotainment, maka Suliono mencoba tampil dengan pendekatan berbeda.

Jalan yang dipilihnya sungguh penuh kekerasan dan dilakukan pada saat proses peribadatan. Satu hal yang pasti, kelakuan Suliono itu nggak ada faedahnya sama sekali. Bagi dirinya sendiripun tidak, karena ternyata dia tidak mati. Dengan demikian, dia gagal untuk segera bertemu bidadari.

Yang untung justru pihak lain, segelintir orang yang menyukai perpecahan di Indonesia. Demi ambisi kekuasaan?

Ah, ternyata Vicky Prasetyo dengan semua hal yang tampak lebay dan absurd itu masih dibutuhkan bangsa ini. Setidaknya, Vicky mampu menyajikan standar baru bagaimana menjadi romantis, setelah beberapa pekan terakhir dikurung ‘rindu-itu-berat-biar-aku-saja’. Tak lupa pula, bisa menjadi bahan lucu-lucuan di meme.

Jelas, itu sesuatu yang jauh lebih berfaedah dibandingkan pemuda ‘harapan bangsa’ yang bela-belain jual ponsel demi beli samurai dan menggunakannya untuk ngamuk di rumah ibadah.

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN