Akhirnya Rokok Dapat Lawan yang Tangguh (Kecemasan Bos Djarum)

Akhirnya Rokok Dapat Lawan yang Tangguh (Kecemasan Bos Djarum)

howtoquitsmoking24h.com

Rokok… Suka atau tidak suka, rokok masih digemari masyarakat. Silinder kertas berisi tembakau yang kadang dicampur sama cengkeh itu bisa dibilang barang konsumsi golongan I.

Saking digemarinya, banyak orang rela nggak makan asal bisa ngebul. Bahkan rokok menjadi kata kiasan yang lazim dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya, “Ini buat uang rokok.” Atau, “Uang rokoknya mana?”

Rokok pulalah yang menghantarkan pemilik Djarum Group menjadi orang terkaya di Indonesia. Setidaknya sampai saat ini. Sebab, saya punya informasi menarik soal itu.

Pemilik Djarum Group sekarang sedang was-was, galau, karena bisnis rokoknya mendapat tantangan berat. Apa karena persaingan dengan merek rokok lainnya? Bukan! Apa kerena regulasi? Tidak! Apa karena kampanye aktivis anti rokok? Salah!

Lalu apa? Mari kita simak…

Semuanya berawal dari ketertarikan saya soal daya beli dan konsumsi masyarakat. Dalam beberapa bulan terakhir, saya banyak membaca kembali teks-teks ekonomi. Ingin rasanya sekali waktu menulis buku populer non-ilmiah soal konsumsi.

Rasanya seperti kembali lagi ke kelas-kelas program MM di Universitas Pelita Harapan (UPH) waktu itu. Saya coba mencari buku-buku populer semi ilimiah di Gramedia, tapi enggak dapat-dapat. Prihatin…

Padahal, dari konsumsi masyarakat saja, ekonomi kita bisa tumbuh 5% dan tentunya menciptakan peluang usaha. Itu pernah dikatakan James Riady, bos Lippo Group, dalam sebuah acara. Itu juga menjadi alasan kenapa Lippo Group gencar membuka gerai-gerai Hypermart dan Matahari.

Baiklah, kita kembali ke soal konsumsi tadi. Ada fakta baru dan menarik yang saya dengar langsung dari narasumber lama saya, Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) Asmawi Syam.

Asmawi dulunya direktur bisnis dan kelembagaan BRI. Saat bersua kembali dengan beliau, ada saja hal-hal baru yang inspiratif. Banyak hal yang dia paparkan, yang bisa jadi berita dan menambah semangat bagi dunia usaha.

Tapi saya tertarik sekali ketika dia mengulang pernyataan pemilik Djarum Group yang juga orang terkaya di Indonesia. Bos Djarum itu bilang bahwa saat ini saingan terberat rokok bukan regulasi. Bukan juga sesama merek rokok. “Tapi ponsel Pak!” ujar Asmawi meniru ucapan bos Djarum.

Coba bayangkan, iklan rokok saat ini terkunci dimana-mana. Bahkan para perokok semakin ‘didiskriminasikan’. Mereka tidak boleh merokok di sembarangan tempat. Apalagi di Jakarta, bisa dimarahi sama Pak Ahok, gubernur DKI Jakarta. Kemasannya pun dibikin seram, biar konsumen ketakutan mengonsumsi rokok.

Tapi coba lihat ponsel atau telepon seluler atau handphone (HP). Ponsel merasuk kemana-mana. Bahkan lagi ibadah pun ada yang asyik berponsel ria. Setiap orang rata-rata punya dua ponsel, bahkan tiga sampai empat.

Teman saya punya ponsel khusus yang ditaruh di bawah jok mobil. Ponsel ini tak akan pernah masuk ke dalam rumah, apalagi kamarnya. Sebab takut kena sweeping oleh istrinya. Anda tahu sendirilah untuk apa ponsel itu.

Bila bicara soal data, bos Djarum pasti tidak akan sembarangan bicara. Pasalnya, data Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (Gappri) juga menunjukkan hal yang sama.

Menurut Ismanu Soemiran, ketua Gappri, penurunan produksi rokok telah terlihat sejak Januari sampai Mei 2015. Turun 12,5% dibanding periode yang sama 2014.

Bagaimana dengan ponsel? Kian lesu? Oh tidak… Per tahun, negara ini mengimpor minimal 54 juta unit. Ini pun belum mencapai 20% rasio ponselnisasi atas populasi di Indonesia. Ponsel merek Samsung paling banyak didatangkan.

Indonesia juga menjadi pasar empuk bagi produsen ponsel pintar (smartphone), mengalahkan negara manapun di Asean. Menurut data lembaga riset GfK, pertumbuhan volume penjualan ponsel pintar di Indonesia selama 12 bulan terakhir hingga Agustus 2014 mencapai 70%.

Ponsel termasuk pulsa-pulsanya kini siap menggeser dominasi rokok di mata masyarakat. Sekarang ini orang lebih baik ketinggalan dompet daripada ponsel. Mati gaya, nggak eksis.

Kata-kata kiasan seperti “Ini buat uang rokok” atau “Uang rokoknya mana?” kini mulai terkikis oleh “Sekadar buat pulsa” atau “Ini buat isi pulsa”.

Bos Djarum pun makin galau, karena tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) industri rokok nyaris 100%. Tak hanya komponen, industri rokok dari hulu sampai hilir berada di Indonesia. So pasti, nilai tambahnya semua dimuntahkan di Indonesia. Trickle down effect-nya juga bagi perekonomian sudah tak bisa dibayangkan lagi.

Saya tidak membela para perokok, saya sendiri tidak merokok. Kalau ada yang merokok sembarangan, saya pun ikut terganggu dan sakit kepala. Tapi industri ini secara massif melibatkan yang saya sebut tenaga kerja rakyat. Sebanyak 90-98% melibatkan tenaga kerja rakyat.

Coba bandingkan dengan industri ponsel yang TKDN-nya masih sedang dihitung untuk kemudian dibuatkan regulasi. Di sisi lain, kita ini hanya kebagian jualan (trading) alias buka konter ponsel saja.

Bolehlah kita happy kalau Samsung sudah mau manufacturing di dalam negeri. Ini pun sudah syukur-syukur. Namun tetap TKDN masih 20%. Pada 2017 nanti baru mencapai 30%. Masih kalah jauh dari rokok.

Selamat berponsel ria… Ponselmu membunuh rokok

  • Wimbo

    djarum sih gak terlalu khawatir. mereka punya polytron yang udah bikin handphone juga kok, bahkan smartphone 4G.