Ajarkan Kami Berpikir Jernih seperti Habib Rizieq

Ajarkan Kami Berpikir Jernih seperti Habib Rizieq

youbeauty.com

Mengedit artikel di kantor kadang menjadi pekerjaan yang membosankan. Makanya saat lengang, saya coba cari hiburan yang lucu-lucu di Youtube. Tapi entah kenapa kok nyasar ke ceramahnya Habib Rizieq Shihab.

Tapi ya sudahlah, nggak ada salahnya juga sekali-sekali dengerin ceramah. Biasanya sih cuma dengerin dari televisi, itu juga sekilas-sekilas. Atau, di masjid, kalau lagi nggak males Jumatan.

Dengan syahdu, saya mendengarkan ceramah Habib Rizieq Shihab yang berdurasi 2 jam 5 menit! Gaya-gayaan banget kan saya? Dengerin ceramah panjang dari seorang pemuka agama yang namanya mirip sama presenter cantik Najwa Shihab itu.

Lagi enak-enaknya ngedengerin, tiba-tiba saya terkejut. Wow! Ternyata Habib Rizieq itu lucu. Niat saya nyari video-video lucu di Youtube tercapai juga. Saya merasa tersesat di jalan yang benar.

Bagaimana tidak lucu, ada kata-kata kayak ‘kutil babi’, ‘kadal kebon’, ‘cacing pasir’, meski ada kata ‘goblok’ juga. Tapi saya hanya bisa tersenyum, memang babi punya kutil? Ah Habib, babi kan haram, saya mana tahu?

Oh ya Beibh Bib, cacing kan rumahnya di dalam tanah. Bagaimana dia bisa pindah ke pasir? Mungkin dia nyasar kali ke toko material sebelah. Atau, jangan-jangan kena gusuran sama Ahok? Yah, Ahok lagi, Ahok lagi.

Eh, apa iya saya salah dengar ya? Soalnya saya belum pernah dengar ceramah pakai kata-kata seperti itu. Ini mungkin salah saya yang nggak gaul di pengajian. Ah sudahlah Bib, lupakan saja, maafkan kalau ada salah-salah kata.

Oh ya, satu lagi, hampir ketinggalan. Apa benar Habib Rizieq jago bikin kata-kata plesetan? Misalnya, kata ‘sampurasun’ diplesetin menjadi ‘campur racun’. Plesetan ini lagi jadi pergunjingan di media sosial dan media mainstream.

Katanya plesetan ‘campur racun’ itu dilontarkan Habib Rizieq waktu ceramah soal paham liberal yang menggerogoti umat Islam dan wacana Islam Nusantara. Plesetan itu akhirnya mengundang protes dari masyarakat Sunda sampai dilaporin ke polisi segala.

Habib Rizieq pun bereaksi. Dia meminta masyarakat Sunda berpikir jernih memahami pernyataannya. Menurut dia, ‘sampurasun’ dapat digunakan selama tidak dijadikan sebagai pengganti ‘assalamualaikum’.

Walikota Bandung yang karismatik Ridwan Kamil sampai ikut komentar. Untung Kang Emil nggak ikut foto selfie juga. Kang Emil hanya bilang bahwa tidak seharusnya budaya yang ada di Nusantara dijadikan lelucon yang tidak pada tempatnya. “Kalau Habib Rizieq bercanda, ya tidak lucu,” ujar Kang Emil.

Dalam bahasa Sunda, ‘sampurasun’ berasal dari kalimat sampurna ning ingsuh, yang memiliki makna sempurnakan diri anda. Nah, kesempurnaan diri itu adalah tugas kemanusiaan yang meliputi penyempurnaan pandangan, pendengaran, penghisapan, pengucapan, yang muaranya kepada kebeningan hati.

Lagipula, menurut saya yang ilmu agamanya cetek semeter ini, pengucapan kata ‘assalamualaikum’ nggak diganti atau berniat diganti dengan ‘sampurasun’, ‘selamat pagi’, ‘selamat siang’, dan ‘selamat malam’ kok.

‘Assalamualaikum’ tetap dipakai untuk saling sapa antar muslim. Waktu pelajaran SD dulu, guru saya bilang, negara kita itu majemuk karena terdiri atas berbagai suku, agama, ras, dan golongan. Kalau ada yang belum paham, tanya saja sama anak SD.

Saat berpidato, kita pun harus juga mengucap salam kepada saudara kita yang Nasrani dengan ‘salam sejahtera’. Buat saudara kita yang beragama Hindu, bisa menyebut ‘om swastiastu’. Dan, tentu saja menyebut ‘assalamualaikum’ kepada saudara-saudara kita yang muslim.

Demikian tulisan saya yang singkat ini. Saya buru-buru mau Salat Jumat. Sebentar lagi khotbah. Siapa tahu pikiran saya bisa sejernih dan sebening Habib Rizieq. Maafkan saya yang goblok, kutil babi, cacing pasir, dan kadal kebon ini.

Sampurasun…