Agus itu Liverpool, Ahok Chelsea, Anies Manchester City

Agus itu Liverpool, Ahok Chelsea, Anies Manchester City

newsth.com

Saya bertanya kepada bapak presiden dan kapolri, mengapa debat kandidat gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta selalu digelar pada hari Jumat? Apakah Jumat itu keramat? Eh, nggak nyambung ya, seharusnya sama KPUD. Yah namanya juga lagi curhat.

Tapi bagi saya yang menyukai sepak bola, acara debat kandidat cagub dan cawagub DKI Jakarta seakan menjadi pembuka keseruan akhir pekan, karena esok harinya disuguhi persaingan di Liga Inggris, liga yang super ketat dan paling bandel sedunia.

Tak peduli dunia itu bulat atau datar, rupanya dengan mudah kita bisa menemukan ‘dunia paralel’ persaingan cagub DKI Jakarta – terutama saat debat – dengan klub-klub sepak bola di tanah Britania Raya.

Paslon 1 yang tak pernah berjalan sendirian

Agus Harimurti Yudhoyono alias AHY menjadi calon dengan nomor urut 1, berpasangan dengan Sylviana Murni, birokrat senior, yang tampaknya mahir untuk urusan perundang-undangan.

Duet AHY dan Mpok Sylvi selalu mengedepankan good will hingga slogan ‘menggeser bukan menggusur’. Kalau ingin dipindahkan ke dalam ‘dunia paralel’ ala Doctor Strange, pasangan calon (paslon) nomor 1 ini lumayan seiring sejalan dengan Liverpool.

Kita mengenal AHY sebagai calon gubernur yang tidak pernah sendirian, karena support sang ayah, Susilo Bambang Yudhoyono. Dukungan SBY kepada AHY tidak pernah putus, bahkan semakin membesar menjelang hari pencoblosan.

Begitu juga dengan sang ibu, Ani Yudhoyono. Dalam debat, beliau lah yang selalu berada di garis terdepan barisan pendukung AHY. Ini sangat sejalan dengan jargon Liverpool yang sangat terkenal, “You’ll Never Walk Alone”.

Belum lagi, jika kita mengambil kesamaan dari teknik penyerangan. Konsep gegenpressing yang dibawa oleh Jurgen Klopp rupanya mirip dengan apa yang dilakukan oleh paslon nomor 1 ini.

Kita melihat bagaimana Mpok Sylvi menggeber serangan-serangan dari sayap kanan, sayap kiri, penetrasi ke tengah, dengan mengandalkan penguasaan bola dan tekanan tinggi kepada lawan.

Serangan-serangan tentang isu kekerasan verbal terhadap perempuan diangkat oleh mantan birokrat puluhan tahun itu, kemudian diberi sentuhan akhir oleh AHY. Pada debat final, serangan bahkan terjadi pada menit-menit awal.

Belum lagi serangan-serangan berupa deretan peraturan perundang-undangan yang digeber Mpok Sylvi pada debat kedua. Kita menemukan tim dengan serangan sangat konsisten layaknya Liverpool.

Serangan sekencang dan seintens Liverpool dikenal begitu dahsyat, namun kita mengenal pula bahwa pertahanan Liverpool begitu rapuh seperti cinta yang nyaris kandas. Mau berganti-ganti kiper dari Simon Mignolet hingga Loris Karius, lantas balik lagi ke Mignolet, ujung-ujungnya bobol juga.

Yah, kurang lebih setara kala serangan Mpok Sylvi tentang pegawai difabel di balai kota yang diserang balik (counter attack) dari sisi kanan pertahanan oleh Ahok dengan menyebut 1% formasi difabel.

Belum lagi jika kita menyebut program-program prorakyat seperti Rp 1 miliar per RW yang begitu ciamik bagi rakyat kecil. Nyaris tidak berbeda dengan Liverpool yang dengan baik hati memberikan poin kepada tim sekelas Burnley, Swansea City, hingga Hull City. Sangat pro tim kecil.

Transformasi bertahan dan menyerang ala Paslon 2

Kita bicara beberapa survei terkini yang kembali mengedepankan paslon nomor 2, setelah jatuh bangun gegara kasus di Kepulauan Seribu.

Kita lantas juga bicara tentang Chelsea yang musim lalu jatuh, kemudian Antonio Conte datang menciptakan transformasi yang rupanya cukup efektif. Chelsea dikenal sebagai tim mapan, terutama setelah diambil alih oleh taipan Roman Abramovich. Pun Ahok juga dikenal dengan kemapanannya. Bukan apa-apa, namanya juga petahana.

Berbicara ‘kemiripan’ antara Ahok dan Chelsea tentunya juga harus memasukkan konteks debat terakhir. Ahok adalah kalangan yang mencoba bertahan dengan konsep bahwa debat adalah adu program. Sikap bertahan ini membuatnya diserang bertubi-tubi.

Berbicara Chelsea, mari mengenang bagaimana Eden Hazard yang beberapa pekan silam memperdaya para pemain Arsenal seorang diri. Chelsea hasil transformasi dengan formasi 3-4-3 adalah tim yang solid bertahan dan bisa melancarkan serangan begitu mematikan.

Tentu kita tak lupa kala Ahok mengeluarkan serangan balik ala Eden Hazard saat menyebut bahwa Mpok Sylvi selama ini ke mana saja? Belum lagi serangan balik bergelombang oleh Djarot Saiful Hidayat, saat didesak dengan isu kekerasan verbal, lantas membalas dengan rumah apung, meski AHY menegaskan bahwa rumah apung tidak pernah ada di programnya.

Duet berakronim Badja ini tampaknya memanfaatkan debat sebagaimana Conte mentransformasikan 3-4-3. Debat menjadi sarana untuk pamer keberhasilan dan oleh sebagian survei disebut menaikkan elektabilitas dan mempengaruhi swing voters.

Chelsea bersama Conte juga pamer perspektif permainan baru, yang pada akhirnya mempengaruhi banyak tim lain untuk mulai mencicipi formasi 3 bek. Adapun faktor N’Golo Kante sebagai metronom yang juga mirip dengan gaya debat Ahok dan Djarot yang bermain secara bergantian.

Menjadi soal kala beberapa kali Ahok sempat terpancing dengan menyebut-nyebut tentang fitnah yang kemudian disanggah oleh AHY dengan kata ‘viral’ dan ‘bukan hoax’.

Kala Ahok mulai begitu, seolah-olah Kante sudah diganti sama Conte. Gaya permainan berubah. Badja ibarat Chelsea yang memang tampak seimbang, namun begitu metronomnya hilang, konsentrasi bisa buyar.

Permainan pesona Paslon 3

Pesona Pep Guardiola langsung menghabiskan banyak energi untuk mengupas aneka sisi Manchester City. Pep lebih menarik bagi media alih-alih Manuel Pellegrini yang kalem, meski Pellegrini jelas sudah pernah memenangi Liga Inggris bersama The Citizen.

Sama persis dengan pesona yang dimiliki Anies Baswedan. Kata-katanya yang sangat inspiratif itu setara dengan permainan rapi kaki ke kaki milik Pep. Tidak ada yang mengalahkan pesona Pep dari deretan pelatih baru di Liga Inggris, sebagaimana tidak ada yang mengalahkan pesona kelembutan seorang Anies di gelaran Pilkada Jakarta kali ini.

Meski begitu, keberhasilan Pep tampak menjadi beban. Publik mengenal Pep sebagai spesialis jawara di Barcelona dan Bayern Munchen. Sementara publik juga mengenal Anies Baswedan sebagai timnya Jokowi dalam memenangi Pilpres 2014.

Melihat Pep berada di City kiranya setara dengan melihat Anies bergabung dengan partai yang sampai sekarang konsisten menjadi oposisi pemerintah.

Begitulah pada akhirnya Anies Baswedan bermain, nyaris mirip City. Memainkan kata-kata dengan nyaris tanpa cela, sungguh menyerupai perpindahan bola dari kaki ke kaki milik Pep.

Permainan dominan ala Pep seolah juga diembat oleh Anies dengan begitu banyaknya porsi debat yang digunakan olehnya dibandingkan calon wakilnya, Sandiaga Uno.

Serangan tajam penuh penguasaan bola ala City tampak jelas saat Anies sambil tertawa bertanya kepada Mpok Sylvi dalam debat kedua, “Jadi pertanyaannya apa?” Belum lagi saat Anies membawa data-data kelemahan Pemprov DKI Jakarta dalam selembar kertas yang ditunjukkan kepada khalayak ramai.

Amarah Anies yang mendapat laporan bahwa suaranya tidak bisa didengar oleh pemirsa di rumah pada debat final juga begitu tajam layaknya umpan Kevin De Bruyne.

Masalahnya adalah bahwa seringkali City salah opsi. Setidaknya ada dua backpass John Stones yang membuahkan gol bagi tim lawan. Belum lagi Claudio Bravo yang rekor kebobolannya di Inggris menjadi buruk sekali. Ini belum menyebut bolongnya lini pertahanan kala diserang balik oleh Romelu Lukaku dan rombongan Everton-nya.

Dalam konteks Anies Baswedan, opsi yang dimaksud adalah data. Debat soal Jakarta Utara dan Biak dikonfirmasi oleh beberapa media bahwa Jakarta Utara ya di atas Biak, bukan di bawah Biak, seperti yang disebut oleh pak mantan menteri.

Belum lagi saat Anies menyebut jumlah halte di koridor 13 yang rupanya sedikit meleset. Kondisi-kondisi yang kemudian membuat seorang inspirator sekelas Anies Baswedan sampai salah data.

Selain itu, sama konsistennya dengan City yang tetap setia dengan tiki-taka ala Pep apapun kondisinya, maka Sandi – pasangan Anies – juga setia dengan program OK-OCE hingga menyebutnya berulang kali dalam konteks pertanyaan yang sebetulnya tidak sama-sama benar.

Yah demikianlah kiranya ‘dunia paralel’ antara gaya debat cagub-cawagub DKI Jakarta dengan persaingan klub di Liga Inggris. Liga Inggris katanya liga terbaik di dunia, sama halnya dengan Pilkada DKI Jakarta yang seolah menjadi paling utama, sampai-sampai saya mendapati orang menggunakan kaos Agus-Sylvi di Pulau Sumatera.

Oh ya, ngomong-ngomong soal Liga Inggris, Chelsea sekarang di peringkat berapa ya? Kalau Liverpool dan Manchester City?