Agar Kita Tak Kena Tarif Parkir Liar

Agar Kita Tak Kena Tarif Parkir Liar

Ilustrasi (maramissetiawan.files.wordpress.com)

Tanpa mengikuti dan memahami perkembangan ekonomi nasional atau global, orang sudah paham betul bahwa hidup ini penuh tantangan. Biaya hidup super mahal, ditambah lagi sulitnya mencari pekerjaan, dan derita-derita sejenisnya.

Akibatnya, segala aktivitas yang dilakukan selalu diperhitungkan. Jangan sampai kegiatan itu justru menambah beban hidup dan menghamburkan uang. Begitu kan?

Di Jakarta atau kota-kota besar lainnya bahkan mau kencing aja harus bayar. Jangankan itu, berhenti sejenak atau parkir tidak lebih dari satu menit pun harus bayar.

Berbicara tentang parkir, ada banyak hal yang harus diulas. Kadang menjengkelkan, kadang juga mengesankan. Menjengkelkan karena parkir di tempat umum harus bayar.

Lebih menjengkelkan lagi adalah sudah bayar tapi pengelola parkir selalu berdalih dan berlindung di balik kata-kata: “Jangan tinggalkan barang berharga, segala kehilangan ditanggung pemilik.”

Padahal, saya bayar kamu tukang parkir untuk menjaga barangku. Terus barangku hilang kamu mau lepas tangan gitu? Itu sama saja pengen enak tapi gak pengen anak. Sikap tidak bertanggung jawab inilah yang menjengkelkan dan menyakitkan, bukan?

Namun, tidak semua parkir menjengkelkan. Jika dipikir-pikir, adanya juru parkir yang membludak ini bisa dimaknai sebagai langkah kita untuk turut membantu mengurangi pengangguran.

Selain itu juga bisa dimaknai sebagai ladang sedekah. Bisa sedekah sekaligus kendaraan atau helm kita aman adalah sesuatu yang mengesankan.

Tapi bagi sebagian orang, parkir di tempat umum yang ada pungutannya, entah itu disebut sebagai uang keamanan helm dan macem-macem itu, merupakan sesuatu yang dihindari. Terutama dalam kondisi tertentu.

Pertama, sekadar parkir sebentar. Tidak sedikit pengendara motor atau mobil kaget ketika ditarik uang parkir oleh juru parkir karena berhenti sebentar di pinggiran jalan umum, yang menurut nalar umum, tempat ini tidak tepat jika dikenai tarif parkir.

Kedua, lebih besar biaya parkir daripada keperluan. Contohnya di tempat foto kopi. Pernah suatu ketika saya memacu sepeda motor menuju tempat foto kopi. Dengan santai, karena tidak melihat tanda-tanda adanya juru parkir, saya parkirkan motor tepat di depan toko.

Usai menggandakan berkas persyaratan guna mengurus KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) yang hilang, saya bersiap untuk pergi. Tapi, tak lama terdengar teriakan dari seseorang, yang tadinya nggak ada.

“Mas-mas, bayar parkirnya mana?” ujar dia, yang belakangan saya baru tahu ternyata tukang parkir.

Lalu, saya keluarkan uang recehan, yang jumlahnya sesuai dengan tarif yang diminta oleh juru parkir setempat. Seketika itu pula, dalam batin saya bergumam, “Bussett.. Biaya foto kopi sama ongkos parkir lebih mahal ongkos parkir.” Nah, di situlah saya merasa sedih.

Ketiga, sikap tidak bertanggung jawab. Hal yang menjengkelkan terhadap juru parkir adalah sikap yang hanya ingin mengambil enaknya saja.

Betapa tidak, selain menjaga barang berharga yang ditinggal tadi, harusnya juru parkir juga membantu kliennya menyeberang jalan. Banyak yang tidak melakukan hal ini. Hadehh…

Beberapa Tips

Tak dapat ditampik bahwa eksistensi juru parkir memberikan warna tersendiri dalam kehidupan di masyarakat di tengah sulitnya mencari rezeki. Meski demikian, banyak orang yang ‘dendam’ terhadap juru parkir tertentu, bahkan ada juga yang menghindari tempat-tempat atau zona parkir berbayar.

Saya selalu berpikir bahwa terkadang kita harus punya cara agar tidak kena tarif parkir, terutama dalam keadaan tidak punya uang, entah karena tidak bawa uang atau sebagai salah satu cara untuk menghemat mengingat kondisi keuangan yang sedang gawat darurat.

Setidaknya terdapat beberapa tips agar tidak kena tarif parkir. Tempat parkir yang dimaksud di sini lebih menjurus kepada tempat parkir umum. Ini sangat subjektif dan boleh diterapkan dan boleh tidak.

1. Cari tempat parkir gratis

Jargon bahwa di dunia ini tidak ada yang gratis ternyata tidak selamanya relevan. Ada beberapa tempat yang memang menyediakan tempat parkir gratis. Bahkan beberapa minimarket ada yg benar-benar bebas bayar parkir.

Nah, tempat-tempat seperti ini, yang biasanya memasang tulisan ‘parkir gratis’ merupakan alternatif yang efektif untuk menghindari tarif parkir yang terkadang bikin kita ‘miskin’ itu.

Cara seperti ini sudah saya lakukan berkali-kali. Tepatnya ketika masih hidup di Semarang sebagai mahasiswa di salah satu perguruan tinggi. Biasa, mahasiswa kan sukanya nyari yang gratisan. Terbukti, apa yang saya lakukan juga dilakukan oleh sebagian besar mahasiswa yang lain.

Selain itu, di dekat kompleks kampus, ada tempat penjualan segala macam makanan yang murah, semacam Pujasera. Pujasera itu terletak berdampingan persis dengan minimarket. Dengan cermat, saya melihat tulisan ‘parkir gratis’ tepat di depan toko modern itu.

Dari sini lah ide itu muncul. Kalau hendak ke Pujasera, saya parkirkan motor saya tepat di depan kata-kata itu, meskipun tujuan utama bukan ke toko modern itu, melainkan Pujasera.

Tapi bagaimana kalau memang tidak ada tempat yang benar-benar gratis? Bisa simak penjelasan di bawah ini…

2. Sebisa mungkin jangan sodorkan uang pecahan atau pas

Sodorkan saja uang ratusan ribu atau uang lima puluhan ribu. Meski cara seperti ini tidak selamanya berhasil. Tapi berdasarkan pengalaman pribadi, cara seperti ini cukup mantap djiwa.

Yang penting timing-nya tepat, yakni pas juru parkir baru dapet uang sedikit sehingga tidak ada uang kembalian. Pasti banyak juga yang mengalami seperti ini, kan?

3. Kerja sama dengan teman

Bagi Anda yang naik sepeda motor, hendaknya mengajak teman untuk ‘mengelabui’ tukang parkir. Caranya, setelah sampai ke tempat tujuan, salah satu dari anda ada yang standby di motor, jangan turun semua.

Misalnya ketika hendak di ATM, salah satu ada yang masuk di ATM, yang satu lagi masih naik motor dan mesin harus tetap hidup. Cara ini bisa menjadi alasan kuat untuk tidak bayar parkir, meskipun di tempat itu ada juru parkirnya.

Dalam posisi demikian, ketika juru parkir meminta uang parkir, kita tinggal bilang, “Saya ndak parkir kok, Pak. Kalau parkir kan berhenti dan mesin dimatikan.” Jleb! tukang parkir tidak berkutik lagi pastinya.

Apalagi kalau anda menjelaskan hal tersebut sambil menyodorkan buku ensiklopedia. Pasti di juru parkir malas meladeni anda.

4. Bayar pakai kartu kredit atau ATM

Untuk mengelabui tukang parkir, bisa jadi karena kita mempunyai riwayat yang menjengkelkan dengan si juru parkir, maka anda bisa memakai langkah yang krusial ini: bayar parkir pake kartu ATM atau kartu kredit.

Dijamin, si tukang parkir bakalan kebingungan. Ujung-ujungnya, kita akan dibebaskan dari tarif parkir. Eh?

5. Berterus terang

Cara yang terakhir ini biasa saya gunakan ketika dalam sehari sudah kena tarif berulang kali. Sebagai contoh, ketika hendak membeli roti dengan merek tertentu tetapi pada kesempatan pertama merk yang dituju tidak ada. Baru beberapa jam lagi barang itu ada.

Tentu kondisi ini menjadikan kita harus bayar parkir dua kali dalam satu tempat. Nah, kalau demikian yang terjadi, maka cara jitunya adalah bilang kepada juru parkir bahwa kita sudah kesekian kali dalam sehari parkir di tempat ini.

Dengan terus terang inilah, si juru parkir pasti memahaminya. Tapi, risiko dari cara ini adalah kita akan dianggap dan dicap sebagai orang pelit. Mau? Ya kenapa tidak? Haha…

Cara-cara di atas sangat mungkin dilakukan. Mengingat tarif parkir sejatinya bukanlah sesuatu yang wajib. Toh, tempat parkir masih banyak yang liar, tidak izin sama pemerintah setempat.

Selain itu, mau kita bayar atau tidak, mereka tidak akan bangkrut. Ya iyalah, soalnya mereka kan tidak modal apa-apa. Hanya modal berani narik uang parkir doang, kan? Sama peluit saktinya itu deh.

Dengan begitu, kalau pun kita sedang dalam keadaan darurat uang, cara-cara di atas dapat kita tempuh. Selamat mencoba!