Agar Jonru Tak Berlipat Ganda, Pahami Efek Dunning-Kruger dan Sindrom Nazi

Agar Jonru Tak Berlipat Ganda, Pahami Efek Dunning-Kruger dan Sindrom Nazi

Ilustrasi (nscblog.com)

Jonru pernah buru-buru menghapus postingannya yang menduga foto nyantai Jokowi di Raja Ampat adalah hasil editan. Jonru sadar kalau dirinya baru belajar menganalisis foto.

Ya jangan samakan Jonru dengan abah Abimanyu, pakar telematika yang mengonfirmasi keaslian foto cipokan bibir Pasha Ungu dan Angel Karamoy. Beda antara sabuk hitam dan putih.

Saat itu, Jonru bisa dibilang lagi sial. Mungkin beliau belum mandi junub sebelum mem-posting di media sosial. Saya sendiri sebenarnya tidak tertarik soal itu. Jonru, seperti Hafidz Ary dan Arif Kusnandar, berasal dari spesies yang sama. Penjual obat yang menjajakan racun kebencian. Tapi kok kenapa banyak sekali pembelinya?

Dengan memahami ‘kenapa’-nya, kita sebenarnya bisa menghindari para penjual racun obat semacam itu, yang kemungkinan banyak muncul pada masa mendatang.

Setelah dianalisis, tentunya tidak perlu pakai photoshop ya bang Jonru, muncul dua faktor kuat yang membuat orang membeli racun obat.

Dua faktor ini tidak akan ditemui pada manusia bermental sabuk hitam. Namun, manusia bermental newbie akan mengalaminya. Merekalah para sabuk putih yang ganas dan ngotot, walau proses berpikirnya sering salah kaprah.

Faktor pertama yang mereka miliki adalah Efek Dunning-Kruger. Penderita efek ini mengalami bias kognitif untuk menilai suatu persoalan. Yakni mereka yang tidak kompeten, namun tidak tahu bahwa mereka tidak kompeten. Ini karena mereka tidak memiliki perangkat mental yang dibutuhkan untuk menganalisis dan menilai permasalahan.

Kenapa mereka tidak mempunyainya? Karena perangkat itu didapatkan di ujian peningkatan kedewasaan yang akan dialami tiap manusia. Untuk lulus, dia harus menyatukan akal dan hati, serta mengerahkan nyali.

Jika berhasil, dia akan naik sabuk dan siap menghadapi persoalan dengan tingkat lebih pelik. Jika gagal, ya dia akan kembali berkubang di lubang hisap pemikiran yang dipenuhi lumpur-lumpur galat pemikiran.

Contoh konkretnya begini. Saat SD, kita pasti diajari agar tidak melawan orang tua. Bahwa orang tua harus dihormati dan dipatuhi. Ujian timbul ketika kita berhadapan dengan orang tua yang brengsek. Akankah kita menurut padanya atau mengambil sikap berbeda?

Jika lulus, kita memahami batas tipis yang memisahkan beberapa hal. Beda antara ‘setuju’ dan ‘taqlid buta’, beda antara ‘kritis’ dan ‘membangkang’. Bahwa kekuasaan bisa menjadi bajingan dan memaksakan kepatuhan dengan beralibikan rasa hormat, seperti Orde Baru dulu atau Thailand dan Korut saat ini.

Ini terdengar gampang, tetapi tidak demikian bagi penderita Efek Dunning-Kruger. Apalagi dalam perkara sensitif seperti agama.

Misalnya dalam kasus situs ‘berpenampilan’ agamis namun abal-abal, serta pelaku kekerasan sektarian dan fasisme religius. Pelakunya mengenakan simbol yang – secara luas dianggap – merepresentasikan religiusitas dan kepatuhan pada Tuhan. Misalnya gamis putih, sorban, berbahasa Arab, dan lainnya.

Atau, para ‘pengkhotbah’ yang menggunakan ayat dan hadits untuk melegitimasi pandangan rasis, merendahkan, dan memicu pertikaian.

Penderita Dunning-Kruger akan gagal memecahkan ini. Mereka akan merancukan antara simbol agama dan esensi perilaku orang beragama. Antara ‘kritis pada pandangan fasis-religius’ dan ‘melawan Tuhan’. Antara tata krama sosial dan mempermainkan agama. Antara penyaru dan penyampai ajaran Tuhan di bumi.

Situasi semakin parah jika para sasaran penjual racun obat juga mengidap faktor kedua, yakni Sindrom Nazi. Dulu, Jerman porak-poranda setelah Perang Dunia I. Situasi sosial-ekonomi hancur dan harga diri bangsa luluh lantak.

Nasionalisme garis keras lalu tumbuh subur untuk membangkitkan semangat massa, yang kemudian ditunggangi Adolf Hitler untuk menyebarkan paham fasis.

Formulanya sederhana : “Aku adalah anggota X, yang terbaik dan nomor satu di muka bumi. Y adalah hama yang harus X singkirkan dari dunia ini.” Pada skema si kumis konyol, X adalah ras Arya dan Y adalah Yahudi.

Inilah rumus yang dipakai dimana-mana. Pemisahan identitas dimana “X/kita” adalah positif mutlak dan “Y/mereka” adalah dubur dunia. Formula fleksibel yang bisa digunakan untuk konflik atas nama apa saja, seperti konflik antar bangsa, etnis, agama, politik, preferensi seksual, dan lain-lain.

Ingat Arif Kusnandar yang statusnya mengincar etnis Tionghoa itu? Kalau saja dia menghadapi kenyataan dan mengakui bahwa dirinya adalah pria menyedihkan yang menghasut dengan merendahkan orang lain demi mendapat harga diri semu, provokasi murahan itu tidak akan terjadi dari awal.

Seharusnya di SD diajarkan juga ‘jangan rendah diri’ sebagaimana ‘jangan sombong’. Untuk menyiapkan anak-anak menyadari bahwa batas antara ‘rendah hati’ dan ‘rendah diri’ sama tipisnya dengan garis pemisah ‘percaya diri’ dan ‘sombong’.

Bahwa orang rendah diri yang bodoh bisa menimbulkan kerusakan sama parahnya dengan bajingan arogan yang cerdas. Impotensi adalah salah satu faktor Andrei Chikatilo menjadi pembunuh berantai, bukan?

Demikianlah dua faktor tersebut. Jadi bagaimana menghindari penjual racun obat? Ya sederhana. Dengan mendengarkan nurani, terus belajar agar berakal jernih, dan berani berkata tidak pada bajingan penyaru. Mereka tidak bisa menjual racun obat kepada orang-orang yang melek. Jadi anda masih merem atau sudah melek?

  • Destika

    Tulisanmu keren