Penting Tidaknya Kita Berdebat soal Afi dan Gilang

Penting Tidaknya Kita Berdebat soal Afi dan Gilang

Afi dan Gilang (dokpri)

Afi Nihaya Faradisa (18) tiba-tiba terkenal menyusul pemikirannya yang kritis dan mendobrak pandangan umum masyarakat. Sebuah pemikiran yang tak biasa bagi kebanyakan anak SMA seusianya. Tiba-tiba pula semua orang menjadi ‘kakak’. Salah satunya, Gilang Kazuya Shimura.

Bagi penggemar anime Naruto, pasti sempat bertanya-tanya apa hubungannya Gilang Kazuya Shimura dengan klan Shimura, salah satu klan ninja tertua di Desa Konoha? Mungkin tidak ada, karena Gilang Kazuya Shimura adalah orang Indonesia yang kebetulan sedang kuliah di Dresden. Tahu nggak di mana Dresden? Jerman, lho…

Oh ya, saya dan ‘kakak mahasiswa di Dresden’ itu berteman di Facebook sekira satu tahun terakhir. Awalnya, saya tertarik dengan salah satu posting-an yang menceritakan pengalaman kuliahnya. Ceritanya lucu, bagaimana menggambarkan ia sedang praktik bedah mayat dan memotong salah satu bagian cadaver hingga ada cairan yang muncrat mengenai mulutnya.

Saya sangat terkesan dengan kemasannya yang jenaka. Sampai pada suatu hari, pada Desember 2016, saat sedang ramai-ramainya kasus Ahok, ‘kakak mahasiswa di Dresden’ itu tampak begitu militan mengutuk Ahok. Ya tentu dari nun jauh di sana, sebuah kota kecil di sebelah tenggara Leipzig.

Belakangan, Gilang menyanggah tulisan Afi yang berjudul ‘warisan’. Sanggahan itu tak kalah viral. Tulisan dibalas tulisan itu sebenarnya asyik-asyik saja. Sesuatu yang mencerdaskan. Mau dari sisi kiri, kanan, tengah, belakang, itu sih sah-sah saja. Yang nggak asyik itu komentar di bawahnya. Caci-maki, hinaan, nistaan, sampai ancaman fisik. Nggak penting banget.

Ngomong-ngomong, anda sudah baca tulisan keduanya belum? Kalau belum, lebih baik tahan saja, daripada nyampah?

Mengenai siapa yang benar tentu relatif, karena tidak ada kebenaran yang absolut pada manusia, apalagi sekadar adu pemikiran. Tulisan Gilang memang cenderung subyektif, melihat satu sisi seolah tulisan Afi itu salah fatal. Tapi apakah itu nggak boleh? Boleh-boleh saja, namanya juga opini.

Yang nggak benar adalah menjadikan opini sebagai sebuah kebenaran absolut. Yang beda pendapat dicap kafir, liberal, dan lain-lain. Yang berseberangan dituduh ingin mendangkalkan akidah sampai akhirnya berbuah ancaman fisik.

Duh, saya sebenarnya malu sama Afi yang mampu berpikir kritis soal kehidupan. Pada seusianya, saya lagi ngapain ya? Kalau anda?

Adek kita yang satu ini kiranya sudah melalui proses kontemplasi yang panjang dalam pemikiran-pemikirannya. Kadang banyak orang yang terjebak dengan simbol, tapi lupa esensi.

Afi sebenarnya ingin mengajak kita untuk menjaga toleransi. Sebagai negara yang penduduknya beragam, apa itu salah? Toh, kondisinya memang begitu. Para pemimpin dan pemuka agama di negeri ini juga merasa cemas terhadap tindakan-tindakan yang intoleran saat ini.

Sebab perbedaan merupakan Sunnatullah yang akan terus begitu selama manusia hidup, kita bisa belajar dari fenomena Afi Nihaya Faradisa. Pertama, nalar kritis memang seharusnya dibangun sejak usia dini.

Usia-usia saat duduk di bangku SMA kiranya sudah pas untuk memulai itu. Terlebih, setelah SMA, seseorang ingin melanjutkan ke perguruan tinggi, yang pasti dituntut untuk berpikir kritis dan logis. Nalar kritis tentunya berlandaskan logika yang bisa dipertanggungjawabkan. Untuk soal ini, Afi melakukannya dengan baik.

Kedua, soal menjadi pengayom. Ini terlihat dari sikap kak Gilang yang saya yakin niatnya baik, ingin membimbing dek Afi melalui tulisan sanggahannya. Namun, yang saya sayangkan, argumen yang dipakai mengacu pada pemahaman keagamaan yang dinarasikan secara superior. Alih-alih menasihati, justru terkesan menggurui, mendikte, bahkan cenderung memandang sebelah mata.

Di sinilah, kita sebagai masyarakat yang katanya dewasa hendaknya punya kemampuan untuk menjadikan itu sebagai wacana yang konstruktif. Bukan malah merusuhi, menghakimi, menyudutkan, mencap ini-itu, dan mengancam melalui komentar dan status di media sosial. Sekali lagi, itu nggak penting.

Bukankah Nabi Muhammad SAW memaklumi masyarakat Badui udik yang bertanya soal agama dan dijelaskan dengan wal mauidhotil hasanah – cara yang baik dan lemah lembut?

Ketiga, seperti yang sudah saya singgung, sebagai pembaca kita hendaknya fair play. Tak perlulah mengagungkan yang satu dan mencerca yang lain. Toh, dengan duduk di kursi pembaca, belum tentu kita bisa menjadi penulis sebaik keduanya, termasuk saya sendiri.

Dek Afi benar soal tulisannya, begitu juga dengan kak Gilang. Benar, dalam arti tidak absolut. Nah situ kenapa jadi merasa yang paling benar?

Pemikiran out of the box seperti Afi ini sebenarnya bukan hal yang asing. Banyak kawan-kawan di media sosial yang menyuarakan kegundahan hati akibat kehidupan keberagaman yang hampir tak punya pakem standar ini.

Setidaknya ada tiga kata kunci dalam tulisan Afi, yaitu karakteristik umat beragama, kekuasaan Tuhan, dan tuntunan kitab suci. Sebuah pemikiran yang mewah bagi anak-anak seusia Afi, seharusnya. Tulisan yang menggambarkan realita kehidupan di Indonesia yang hampir tanpa pilihan. Kalaupun ada pilihan, konsekuensinya sangat berat.

Beberapa kawan saya yang memutuskan pindah keyakinan harus berurusan dengan banyak pihak, terutama orang tua dan kerabat dekat. Itu belum masuk hitungan beban moral yang harus ditanggung, karena mereka distempel kafir dan murtad.

Nabi Ibrahim, kalau ikut warisan orang tuanya yang menyembah berhala, seharusnya juga menjadi penyembah berhala. Begitu juga dengan kita. Sekiranya terlahir dalam keluarga Islam, maka seharusnya menjadi Islam. Sekiranya terlahir dalam keluarga Yahudi, maka seharusnya menjadi Yahudi.

Namun, kenyataannya tidak melulu seperti itu. Ada yang lahir dalam keluarga Islam, tapi di kemudian hari memutuskan pindah agama lain. Ada yang lahir dan besar di keluarga Buddha, tapi pada akhir hayatnya memeluk Nasrani.

Dengan logika yang sama, tentunya tidak salah kalau setiap orang memeluk agama A, B, C, dan seterusnya sebagai keputusan independen yang harus dihormati. Asumsi saya, Afi ingin bilang, “Saya ini memeluk Islam, tapi tolong jangan anggap saya ber-Islam karena orang tua saya Islam. Saya memeluknya karena keputusan dan kesadaran diri.”

Akhir kata, salam hormat saya untuk dek Afi dan kak Gilang. Tetaplah kritis. Tetaplah menulis. Jangan berhenti berpikir. Sebab, dengan berpikir, maka kita ada…

Tabik…