Ada Benang Merah Antara Valentino Rossi dan Jokowi?

Ada Benang Merah Antara Valentino Rossi dan Jokowi?

Selalu ada drama mengejutkan dalam olahraga. Sialnya, ini melibatkan sang idola. Kita pernah menyaksikan bagaimana gregetannya Mike Tyson menggigit kuping Evander Holyfield. Padahal itu tinju, tangan. Kurang ajar betul gigi bisa nyelonong begitu saja.

Kita juga pernah disuguhkan aksi Zinedine Zidane yang menanduk dada Marco Materazzi saat laga final Piala Dunia 2006 antara Prancis kontra Italia. Itu kan sepakbola, dominasi kaki. Kalaupun kepala Zidane yang gundul mau menyundul, ya bolanya, bukan dada Materazzi yang kekar bak prajurit Romawi itu.

Sekarang kita dihebohkan oleh aksi Valentino Rossi yang katanya menendang Marc Marquez sampai jatuh di MotoGP Sepang, Malaysia. MotoGP itu kan ketangkasan balapan motor, kenapa ada tendangan maut ala ksatria baja hitam?

Sebagai pendukung Valentino Rossi, jujur saya kecewa berat sama kelakuannya. Vale yang dijuluki ‘The Doctor’ terlihat begitu frustrasi menghadapi manuver-manuver nakal Marquez. Nggak sopan sekali si Marquez.

Dani Pedrosa akhirnya bisa juara dengan mulus, Jorge Lorenzo harus puas di posisi dua. Pedrosa boleh jumawa, Lorenzo silahkan berjaya. Tapi, drama MotoGP di sirkuit Sepang, Malaysia, yang ketika itu diselimuti kekhawatiran kabut asap dari Indonesia, hanyalah milik Vale dan Marquez.

Sebagai seorang legenda, tak masuk akal Vale bisa blunder seperti itu. Vale, pebalap asal Italia yang jadi jagoan Movistar Yamaha, tampak seperti amatiran yang tak mampu menahan tekanan dari juniornya, Marquez, pebalap asal Spanyol yang membela tim Repsol Honda. Mungkin Marquez sakit hati, karena dulu diplonco sama Vale.

Sebagian orang mungkin menikmati duel sengit Vale dan Marquez di sirkuit Sepang. Buktinya, sorak sorai penonton terdengar ramai saat Vale dan Marquez saling salip, saling take over.

Sebagai pendukung Vale, saya berharap ‘The Doctor’ bakal dengan mudah menguasai tekanan bertubi-tubi dari Marquez. Saya menduga, benar-benar menduga, Marquez bakal kapok berani macam-macam sama salah satu sang legenda hidup MotoGP itu.

Tapi Marquez memang benar-benar kurang ajar. Ia berhasil membuat marah Vale idola saya. Vale akhirnya tak ragu dan tak malu lagi untuk menjatuhkan Marquez. Crash!

Bagi saya dan mungkin penggemar lainnya, ini bukan semata soal mengejar kemenangan. Entah apa yang merasuki batok kepala Vale. Cowok ganteng flamboyan itu layaknya seorang Dorna dalam cerita perwayangan.

Kekuatan fisik, keahlian bertanding, dan kesaktian yang tinggi belum menjamin sebagai suatu kekuatan yang prima tanpa ditunjang aspek kejiwaan seperti ketenangan, ketahanan mental, dan kewaspadaan.

Maha resi Dorna, seorang pakar strategi perang dan ahli menggunakan senjata masih terpancing oleh provokasi hingga terpecah konsentrasinya dan melemahkan daya juangnya. Ini terjadi saat perang Baratayuda ketika bertarung dengan Pandawa, bekas muridnya.

Apakah ada hubungannya dengan nama Dorna Sports selaku penyelenggara MotoGP? Ah, mungkin kebetulan saja.

Yang pasti, seperti dilaporkan media Italia La Gazzetta dello Sport, Graziano yang merupakan ayahnya Vale, geram dengan ketidakmampuan pihak penyelenggara untuk melindungi anaknya dari kejahilan Marquez.

Graziano bahkan menuding insiden ini terjadi karena penyelenggara MotoGP berasal dari Spanyol. Dorna Sports dianggap terus membiarkan Marquez mengganggu Vale.

Apakah ini by design yang sengaja mengadu domba Vale dan Marquez? Ah, mungkin ini nyinyir saya saja.

Yang pasti, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Dorna itu adalah orang yang suka menghasut atau membangkitkan perselisihan, mengadudombakan dan sebagainya – bertabiat seperti resi Dorna dalam cerita pewayangan.

Salah Jokowi?

Tapi untunglah saya hidup dan besar di Indonesia. Kekecewaan adalah hal yang teramat biasa. Menjadi seorang Indonesia, kekecewaan adalah sesuatu tak terhindarkan.

Kekecewaan terhadap penanganan kabut asap yang tampak lambat, kekecewaan terhadap para wakil rakyat, kekecewaan terhadap ulah para pejabat, atau bahkan kekecewaan terhadap mantan dan calon gebetan.

Semua kekecewaan itu pun akhirnya memuncak menjadi kekecewaan kepada Presiden Jokowi. Ya, Jokowi adalah sumber kekecewaan rakyat Indonesia. Jangan tanya para penentangnya, tanya saja para pendukung atau yang pernah mendukungnya.

Semua yang disangkakan Jokowi kepada Prabowo justru kini dilakukan oleh Jokowi sendiri. Astaga, benarkah semua ini terjadi? Persis pertanyaan itulah yang menghantui saat Valentino Rossi diduga menendang Marc Marquez hingga terjatuh.

Apakah ini pertanda bahwa saya dan mungkin sebagian orang telah melakukan kesalahan serius dengan menjadikan mereka sebagai idola?

Foto: wtop.com