AADC 2: Roman Picisan yang Diselamatkan Sastra

AADC 2: Roman Picisan yang Diselamatkan Sastra

id.bookmyshow.com

Setelah 14 tahun, akhirnya kesampaian menonton kembali pertautan duel batin yang dahsyat antara Cinta (Dian Sastrowardoyo) dengan Rangga (Nicholas Saputra). AADC adalah perjalanan zaman. AADC pertama saya tonton di bioskop kecil di Madiun, yang kini sudah punah dan bangunannya berubah menjadi toko mebel dan alat-alat rumah tangga. Setelah 14 tahun berlalu, nyatanya AADC 2 adalah sebuah lelucon.

Izinkan saya memberi ulasan singkat dan jelas. Ini akan penuh spoiler di sana-sini. Dan, tolong jangan salahkan saya. Untuk ukuran sebuah film lokal yang sudah ditonton lebih dari 1 juta orang dalam 4 hari sejak penayangan perdana, itu adalah dosa kalian sendiri kalau sampai pekan lalu belum juga kesampaian menonton film produksi Miles Films tersebut.

Ada dua sisi yang dihasilkan dari menonton AADC jilid dua. Dan, layaknya tatanan sosial yang perlu hitam dan putih untuk menentukan sisi baik dan jahat, saya membagi cerita AADC 2 dalam dua kutub. AADC 2 memiliki banyak kutub positif, namun tak sedikit ia menawarkan jalan cerita yang negatif dan berpotensi besar menjadikannya hanya setara sinetron harian di layar kaca.

Sisi positif pada AADC 2 adalah puisi Aan Mansyur yang menurut saya, sangat menyelamatkan film ini dari kebosanan yang maksimal. Puisi Aan, yang dipadu dengan narasi suara Nicholas Saputra yang berat dan keren, mengangkat film ini dengan baik. Selain itu, puisi Aan juga membuat kita sadar bahwa kita sedang menonton film di bioskop, bukan drama FTV di televisi.

Penggambaran sosok Rangga yang semakin puitis dan lekat dengan dunia sastra juga menarik dan patut dipuji. Pada scene awal ketika Rangga di New York, kamera banyak menyorot buku-buku Haruki Murakami yang ditumpuk di meja dekat Rangga, yang terpaku memandangi layar laptopnya sedang membuka tampilan Microsoft Word.

Di scene itu, melihat Rangga berkutat dengan Word, saya jadi ingat skripsi. Itu berarti satu lagi sisi positif AADC, yakni mengingatkan mahasiswa veteran seperti saya untuk segera merampungkan skripsi dan wisuda.

Sisi positif berikutnya adalah kesuksesan sutradara dan produser dalam mengambil sisi pariwisata di Yogyakarta dan sekitarnya yang begitu mempesona. Sebagai orang yang banyak menghabiskan waktu di ‘Kota Gudeg’, ada banyak sisi dari kota itu yang memang banyak belum saya ketahui. Juga beberapa wisata di sekitarnya yang saya belum sadari.

Wisata Punthuk Setumbu, misalnya, yang berada di dekat komplek Candi Borobudur di Magelang. Atau, wisata kuliner sate klathak yang dinikmati Rangga dan Cinta sambil bernostalgia dan mengenang. Satu lagi yang kelewatan, ada adegan Rangga dan Cinta menonton semacam teater atau pantomim yang menggunakan boneka dan digerakkan secara sistematis oleh tangan manusia. Ada yang tahu apa namanya seni pertunjukan itu? Itu luar biasa keren.

Dan, yang patut diapresiasi selanjutnya adalah keberhasilan Sissy Priscillia memerankan tokoh Milly, yang diceritakan di film sudah menikah dengan Mamet dan bersiap menanti kelahiran anak pertamanya. Agak aneh memang melihat adegan di film seorang ibu hamil pada jelang tri semester kedua kehamilannya sedang asyik liburan bersama teman-temannya dan jauh dari suami. Kebodohan dan kepolosan Milly memberi sisi humor yang segar. Juga ekspresi konyolnya saat mengucapkan kata “tegang”.

Sisi positif terakhir adalah saat Cinta dan gengnya sedang clubbing di Jogja. Ada hentakan musik rap yang dinyanyikan Marzuki Mohamad alias ‘Kill the DJ’. Ada lirik lagu yang asyik dan begitu mengena di penonton. Serunya lagi, tiap kali membawa motor di jalanan, saya selalu ingat betul lirik lagunya, “Ora Minggir Tabrak”.

Banyak Cela

Laiknya narasi hidup dan tatanan sosial, kita perlu sisi buruk untuk digunakan sebagai ruang kritik dan ruang belajar. Saya rasa, di satu titik tertentu, AADC 2 ini menyimpan banyak cela yang bisa menjadi sasaran kritik banyak orang. Tapi kembali lagi, semua tergantung selera.

Yang pertama, jalan cerita. Sudah disinggung di awal bahwa jalan cerita film ini terlalu melankolis. Mira Lesmana dan Riri Riza mungkin melihat pangsa pasar film di Indonesia yang mengangkat jalan cerita romantis dan membuai penonton.

Tapi sayangnya, AADC 2 ini kelewat melankolis dan menyebalkan. Romantis dan sinisme Rangga dikurangi, lalu berganti dengan alur cerita melankolis yang, aduh, gimana ya, pokoknya mengganjal di benak penonton, khususnya bagi saya. Saya rindu tatapan muka sengak ala Rangga yang sinis dan sombong serta arogan.

Perbincangan di kedai kopi dengan Cinta memang juara. Dian Sastro layak diganjar Piala Citra lewat tatapan mata dan kata-kata sadisnya kepada Rangga. Tapi, di percakapan itu, Rangga kehilangan momen untuk menunjukkan sisi sinis dan arogan di dalam dirinya. Percakapan itu tidak dua arah dan cenderung menjadi momen penghakiman dari Cinta untuk Rangga, bukan percakapan nostalgia dua insan yang pernah dan masih mencintai satu sama lain.

Dan, untuk akhir cerita, ini titik terburuknya. Sebagai penggemar Rangga garis keras dengan militansi tanpa batas, saya lebih memilih Rangga menetap di New York dan hidup tenang sendirian di sana dengan puisi dan kegalauan hidupnya. Memaksakan akhir film untuk menyatukan Cinta dan Rangga adalah skenario brengsek. Atas sikap bajingannya meninggalkan Cinta ke New York dan memutuskan hubungan hanya dengan surat, Rangga berhak untuk hidup sendiri dalam kegalauan beratus-ratus kilometer jauhnya dari Jakarta.

Dan, kalian tahu, sisi memuakkannya adegan akhir film ini? Saat Rangga kedapatan dipeluk pegawai kedai kopinya di New York dan Cinta ada di situ. Cinta langsung berlari ke luar, karena cemburu. Itu adegan paling asu dan terkesan dipaksakan. Membuat AADC 2 mirip drama FTV dan sinetron kejar tayang di layar kaca.

Coba bayangkan seandainya Rangga disusul Cinta ke New York dan ketika Cinta meminta untuk kembali, Rangga bisa menolak dengan halus sembari berpuisi dengan lantang layaknya Chairil Anwar, “Maaf Cinta, aku ini binatang jalang, dari kumpulan yang terbuang.” Bagi saya, itu akhir yang manis.

Jadi, penonton bisa pulang ke rumah dengan pikiran dan imajinasi masing-masing tentang bahagia atau tidaknya kisah kasih Rangga dan Cinta. Ending-nya biar jadi hak pribadi penonton untuk menentukan apakah akan bahagia atau tidak. Dan, produser memiliki tema untuk melanjutkan film ini ke jilid tiga, kalau dia mau.

Tapi, apapun itu, AADC 2 sekali lagi menunjukkan bahwa sastra tidak pernah mati di Indonesia. Ia hidup di segala sendi nafas kehidupan masyarakat. Dan, sastra pula yang menyelamatkan AADC 2 dari kebosanan yang menyebalkan.