Kenapa Bukan AADC 2, kok Cek Toko Sebelah?

Kenapa Bukan AADC 2, kok Cek Toko Sebelah?

hai.grid.id/aura.co.id

Bukan Ada Apa dengan Cinta (AADC) 2 yang menyabet Film Box Office Terbaik dalam ajang Indonesian Box Office Movie Awards 2017, tapi film Cek Toko Sebelah.

Bukan pula Nicholas Saputra dan Dian Sastro yang menggondol Pemeran Utama Pria Terbaik dan Pemeran Utama Wanita Terbaik, tapi Abimana Aryasatya (Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part 1) dan Chelsea Islan (Rudy Habibie – Habibie & Ainun 2).

Lalu, penghargaan apa yang diraih AADC 2? Ada dua, OST Film Terbaik (Ratusan Purnama – Melly Goeslaw Ft Martinho Lio) dan Behind The Scene Terbaik (Miles Film).

Tampaknya kali ini unsur sastra lewat puisi-puisi dalam AADC 2 bukan jadi hal utama yang menarik bagi juri-juri film Indonesia, dibandingkan dengan nilai-nilai kemanusiaan plus etos kerja yang bisa kita jumpai dalam film Cek Toko Sebelah.

Kalau boleh dibuat head to head dari segi kualitas, AADC 2 dan Cek Toko Sebelah punya keunggulan sendiri-sendiri. Apa saja? Pertama, pada awal alur film AADC 2, penonton dimanjakan dengan puisi-puisi yang dibawakan oleh Rangga (Nicholas Saputra) di sudut kamarnya di New York.

Dari situ, secara emosional, penonton sebenarnya digiring ke alam romantisme cerita cinta. Kita seolah-olah mampu merasakan jurang kerinduan yang dirasakan Rangga kepada Cinta (Dian Sastro). Tengok puisi yang diucapkan Rangga kala itu:

Tidak ada New York hari ini

Tidak ada New York kemarin

Aku sendiri dan tidak berada di sini

Semua orang adalah orang lain

Bahasa ibu adalah kamar tidurku

Kupeluk tubuh sendiri

Dan cinta – kau tak ingin aku mematikan lampu

Jendela terbuka dan masa lampau memasuki sebagai angin

Meriang. Meriang. Aku meriang

Kau yang panas di kening. Kau yang dingin dikenang

Kedua, setidaknya melalui setiap kata yang dilontarkan Rangga melalui puisi, kurang-lebihnya mampu merangsang penonton untuk mendalami makna dari setiap kata. Alhasil, penjualan buku karangan M Aan Mansyur berjudul Tidak Ada New York Hari ini laris manis.

Sederet toko buku, mulai yang sering kita jumpai di pinggir jalan maupun toko buku ternama menjadi sasaran penonton yang ingin melampiaskan rasa penasaran terhadap puisi-puisi yang dibawakan Rangga.

Di situ, kita dapat melihat bahwa tingkat literasi kalangan anak muda meningkat. Melalui puisi-puisi tersebut, ketertarikan terhadap sastra kembali hadir di tengah hiruk-pikuknya pemuda-pemudi Indonesia yang kering bacaan sastra, meski ada juga yang cuma modus buat gebetan saja.

Saya jadi teringat kepada seorang teman yang begitu senangnya ketika menjumpai buku Tidak Ada New York Hari Ini dan buku karangan Sjuman Djaya yang berjudul AKU. Sontak temanku itu bilang, “Ih, ada bukunya disini, gw beli ini semua ah.” Mulai saat itu juga, semangatnya untuk membaca menjadi berkali-lipat dari sebelumnya, khususnya bacaan sastra.

Saya katakan demikian, karena tak sengaja melihat pula buku karangan Pramoedya Ananta Toer di dalam tas ranselnya, beberapa hari kemudian. Saat itu pula, saya katakan dalam hati bahwa film dapat mengubah mindset seseorang ke arah yang positif. Dan, film AADC 2 dapat memberi dampak yang cukup besar untuk itu.

Lalu, apa dampak dari film Cek Toko Sebelah?

Sebenarnya, film besutan Ernest Prakasa yang dirilis pada 20 Desember 2016 itu juga dapat memberikan semangat positif kepada penontonnya. Sosok Koh Afuk, Yohan, hingga Erwin sebagai keluarga keturunan etnis Tionghoa setidaknya membangunkan nilai-nilai kemanusiaan dengan semangat gotong-royong, ditengah banyaknya keluarga hari ini yang melupakan itu.

Kita yang membeli tiket untuk menonton film ini setidaknya disuguhi alur cerita yang cukup berkesan. Koh Afuk yang diceritakan sebagai sosok ayah – pemilik toko sembako – dihadapkan dengan realita bahwa ia sudah cukup tua untuk mengelola toko.

Ia berpikir untuk menyerahkan sumber mata pencahariannya itu kepada salah satu anaknya. Namun, karena karakter Yohan yang dinilai belum sesuai harapan, memunculkan sosok Erwin yang dirasa pas sebagai penerus.

Erwin yang diperankan sendiri oleh Ernest Prakasa begitu piawai memainkan perannya sebagai good boy dalam keluarga. Erwin yang sehari-hari bekerja kantoran, terpaksa harus banting setir menjadi seorang saudagar sembako karena menggantikan ayahnya. Jabatan tinggi yang dipegangnya di perusahaan, tak gentarkan niatnya untuk membantu sang ayah.

Pada suatu ketika, Koh Afuk jatuh sakit karena kecewa melihat Erwin lebih memilih kembali ke pekerjaan sebelumnya. Saat itu pula Yohan tampil sebagai penyelamat untuk kesehatan ayahnya dan juga keberlangsungan usaha keluarga yang telah menghidupi Yohan dan Erwin hingga dewasa. Sosok Yohan yang sebelumnya dipandang sebagai anak yang ‘nomor dua’, telah berubah.

Melalui film ini, kita diberi kesan bahwa etos hidup – terutama pada keluarga keturunan etnis Tionghoa – memang tidak terlepas dari urusan dagang, bahkan sejarah pun berkata demikian. Kita juga mendapatkan kesan bagaimana pentingnya gotong royong yang didasari rasa saling memiliki sebagai unsur utama dalam menjaga keutuhan keluarga.

Sampai di situ, baik film Cek Toko Sebelah maupun AADC 2 telah membuka cakrawala baru bagi penikmatnya. Pada satu sisi, lewat kisah Rangga dan Cinta, kita dirangsang untuk menengok kembali karya sastra dan bagaimana minat membaca bisa meningkat di tengah masyarakat, khususnya anak muda. Lebih dari itu, AADC 2 juga memberikan kita pemantik untuk bagaimana memahami makna cinta, terutama hubungan antara aku dan kamu.

Di sisi lain, film Cek Toko Sebelah dengan sosok Koh Afuk, Yohan, dan Erwin tak kalah pentingnya untuk kembali mengingatkan kepada kita untuk selalu menjunjung tinggi nilai gotong-royong dalam sebuah keluarga. Lalu bagaimana menurut kalian? Pilih pujangga atau pedagang? Atau, pujangga yang berdagang?

  • Fanny Fristhika Nila

    Pilih pedagang laah :D. Lebih realistis omongannya hihihi :p.. Ga sih, sebenernya krn aku ga suka aja ama film aadc. Dr pertama aku jg ga nonton.. Kalo udah menyangkut film2 yg trlalu romantis, trlalu banyak puisi, aku bisa ketiduran ntr mas :D. Makanya lbh milih film cek toko sebelah yg bikin ngakak plus sedih di beberapa adegan 😀

  • Titi Iskandar

    Pujangga yang berdagang pilihan yang oke juga tuh, Mas. Sambil jaga toko nunggu pelanggan bisa nyambi nulis puisi :p