8 Artikel Terbaik di Voxpop 2015

8 Artikel Terbaik di Voxpop 2015

intisari-online.com

Tahun 2015 sebentar lagi berlalu. Bagi Voxpop, yang merupakan situs opini warga, tahun ini adalah tahun kelahiran. Ibarat ibu yang melahirkan, tentu banyak sekali tantangannya. Tapi, melihat respon pembaca yang tinggi, segala tantangan mampu dilewati dengan penuh kebahagiaan.

Berikut kami sajikan 8 artikel terbaik di Voxpop sepanjang 2015, yang mendapat tempat di hati pembaca dari sisi view, konten, dan partisipasi. Kenapa 8? Ini bukan mistik, karena kami tidak mendatangi Gunung Kawi atau Kemukus. Angka 8 adalah bulan kelahiran Voxpop, yaitu pada Agustus 2015. Di sisi lain, para pendiri Voxpop saat ini juga berjumlah 8 orang.

Kita langsung saja, inilah 8 artikel terbaik di Voxpop 2015:

1. Perkenalkan… Godot, Musuh Terbesar Gojek

Artikel yang ditulis oleh Hidayat Adhiningrat ini memang kekinian banget. Sebuah fenomena ojek online di kota-kota besar yang sampai saat ini masih booming. Kang Dayat, yang seorang jurnalis, membawa aspirasi para konsumen yang mengeluh karena susahnya mengorder Gojek ketika itu.

Kang Dayat ingin menyampaikan pesan bahwa musuh terbesar operator ojek terfavorit itu bukanlah Grab Bike atau ojek online lainnya. Tapi konsumen yang mengeluhkan lamanya mendapatkan driver gojek yang mau pick up orderan.

Kang Dayat menganalogikan seperti kisah Vladimir dan Estragon yang sedang menunggu Godot, dalam naskah klasik karya sastrawan Irlandia, Samuel Beckett. Naskah berjudul ‘Waiting for Godot’ itu bercerita tentang dua sahabat karib, Vladimir dan Estragon. Mereka menunggu sesuatu yang tak pasti alias Godot.

2. Jadi Hamba Sahaya Budaya Konsumtif kok Bangga! (Sebuah Catatan Nyinyir atas Harbolnas)

Artikel tersebut adalah hasil karya Kokok Dirgantoro, seorang pengusaha mapan yang gemar menulis. Untuk urusan tema ekonomi, Mas Kokok tidak usah diragukan lagi. Nanti kualat. Namanya juga pengusaha. Pikiran-pikiran beliau yang terkenal adalah ‘Kokonomics’, sebuah haluan baru yang bisa mengangkat ekonomi Republik ini.

Mas Kokok itu lagi prihatin, kalau sekarang banyak orang secara tidak sadar menjadi hamba sahaya budaya konsumtif. Dia meramalkan bakal datang suatu masa dimana “Iiiih lucu banget” menjadi kata-kata sakti madraguna yang menjerumuskan orang membeli sesuatu yang belum tentu prioritas utama.

Meski nyinyir begitu, beliau juga humanis. Mas Kokok yang juga CEO Opal Communication membuat gebrakan di kantornya itu, dengan membuat kebijakan hak cuti hamil selama 6 bulan dengan tetap menerima gaji penuh.

3. Akhirnya Rokok Dapat Lawan yang Tangguh (Kecemasan Bos Djarum)

Adalah Rizal Calvary, external relations Bosowa Group dan strategic media relations BPP Hipmi, yang menulis artikel ini. Bang Rizal ini juga tak diragukan lagi untuk urusan ekonomi dan dunia menulis.

Ia sudah melahirkan beberapa buku terbitan Gramedia Group di antaranya ‘Rasakan Dahsyatnya Usaha Franchise’, ‘100 Peluang UKM Terdahsyat’, ‘BRI Menjaga Kedaulatan Rupiah’, dan ‘Jurus Jitu Memperoleh Kredit UKM’.

Di Voxpop, Bang Rizal memberikan informasi yang tak diketahui masyarakat luas soal kecemasan pemilik Djarum Group yang juga orang terkaya di Indonesia.

Pemilik Djarum Group sedang was-was, galau, karena bisnis rokoknya mendapat tantangan berat. Apa karena persaingan dengan merek rokok lainnya? Bukan! Apa karena regulasi? Tidak! Apa karena kampanye aktivis anti rokok? Salah! Tapi karena maraknya telepon seluler (ponsel) berikut konsumsi pulsa-pulsanya.

4. Susahnya Menjadi Anggota Dewan yang Terhormat

Siapa yang tak kenal Arman Dhani? Beliau adalah salah satu penulis populer di Republik ini. Mas Dhani, yang baru saja meluncurkan buku ‘Dari Twitwar ke Twitwar’ ini, menulis naskah satir soal lika-liku anggota DPR, mirip seperti lika-liku kehidupan asmaranya.

Pemuda ganteng yang digemari dedek-dedek gemez itu secara apik ‘menelanjangi’ kinerja, perilaku, dan fasilitas mewah anggota DPR yang terhormat. Mas Dhani juga menggambarkan sebuah kontradiksi yang menyayat hati para pembaca. Mungkin beliau sudah terlalu sering tersayat hatinya, jadi artikelnya begitu menyentuh hati termasuk hati para perempuan medioker di luar sana.

5. Wahai Buruh… Berhenti Nyinyirin Kelas Menengah!

Artikel ini bisa dibilang sebuah pemikiran dari Jauhari Mahardika, yang coba keluar dari mainstream. Mas Jauhari, seorang jurnalis yang bergelut di bidang ekonomi, sosial, dan politik itu, ingin menyampaikan pesan kalau tidak ada gunanya buruh nyinyirin kelas menengah.

Mas Jauhari, yang juga penulis buku ‘Jurus-jurus Berinvestasi Saham untuk Pemula’ dan ‘Langkah Awal Berinvestasi Reksa Dana’ menganggap buruh adalah profesi yang menjadi bagian kelas menengah, jika ditinjau dari sisi pengeluaran.

Semua komponen kelas menengah seperti buruh, guru, karyawan kantor, dan lain-lain seharusnya bersatu untuk menghadapi pemilik modal. Pemikirannya tersebut juga tak lepas dari pengalaman Mas Jauhari yang pernah menjadi aktivis gerakan mahasiswa 1998 di Jakarta.

6. Saya Bukan Kelas Menengah ‘Ngehek’

Artikel ini merupakan anti-tesis dari ‘Wahai Buruh… Berhenti Nyinyirin Kelas Menengah!’. Adalah Hinayana, anggota PKI (Penikmat Kopi Item) dan mantan aktivis Greenpeace, yang menulis itu. Pemuda dari Bumi Priangan ini ingin alam semesta tahu kalau banyak kelas menengah yang nggak ngehek, yang nggak berlagak seperti kelas atas.

Dalam artikelnya, Kang Hinayana yang juga penggila klub sepak bola Liverpool dan Persib ini justru menantang kelas menengah untuk ikut bersama buruh menuntaskan perubahan yang hakiki. Tindakan itu bisa dimulai dari apa yang disebut dengan istilah ‘bunuh diri kelas’.

7. Inilah Sojek… Brigade Ojek Intelek

Lagi-lagi soal ojek online. Kali ini datang dari Wahyu Alhadi, pemuda asal Padang yang sedang dalam pertapaan filosofisnya. Uda Wahyu, yang akrab disapa ‘Awang Blackdog’ ini mengkritisi maraknya para sarjana yang ikut menjadi sopir ojek online. Dalam kontemplasinya yang mendalam, uda Awang sampai tertawa sinis melihat fenomena itu.

Bak seorang filsuf, uda Awang lalu melontarkan pertanyaan besar yang sekaligus menampar para sarjana dan dunia pendidikan di Tanah Air. Selama ini kuliah untuk apa? Ijazah atau ilmu?

8. Curhatan Seorang Muslim yang Hidup di Keluarga Katolik

Tulisan ini bisa dibilang artikel terkini, karena masih menyangkut perayaan Natal 2015. Penulisnya Isidorus Rio Turangga, pemuda Muslim yang hidup di keluarga besar yang 90%-nya beragama Katolik.

Bagi keluarga mas Isidorus, ribut-ribut asal nyebut soal topi Santa dan larangan ucapan ‘Selamat Natal’ dari seorang Muslim atau Muslimah ibarat komedi di siang bolong.

Mereka merayakan Natal, Idul Fitri, dan hari-hari besar keagamaan setiap tahunnya betul-betul dengan semangat kebersamaan dan cinta kasih. Indahnya bergandengan, bukan? Sudah pasti lebih indah daripada bergandengan sama gebetan baru saat Hari Valentine.

Demikian artikel-artikel terbaik tahun ini. Kami selaku redaksi Voxpop mengucapkan ‘Selamat Tahun Baru 2016’. Terima kasih banyak buat para pembaca dan penulis Voxpop. Tahun depan pasti lebih baik…