7 Hari Mencari Kado Terbaik untuk Sang Gebetan

7 Hari Mencari Kado Terbaik untuk Sang Gebetan

wikihow.com

Minggu depan gebetan saya ulang tahun. Mau kasih kado apa ya? Secara banyak banget yang caper dan ngejar-ngejar doski. Dia itu gadis kembang kampus yang aktif di berbagai organisasi. Suri teladan, dari kelompok pencinta alam sampai pencinta rakyat jelata.

Kadonya tentu harus unik dan penuh makna supaya berkesan dibanding cowok-cowok lain. Kalian punya ide? Soal bujet sih gak masyalaaah… Aslinya bokap saya anggota DPR. Tapi di luar, saya bisa nyamar jadi macam-macam. Jadi mahasiswa kere yang ke kampus naik sepeda kumbang, bisa. Padahal, sepedanya saya masukin ke dalam Rubicon.

Rubiconnya kemudian saya titip di kosan temen. Dua kilometer lah dari kampus. Tapi agak nanjak, jadi lumayan bikin keringetan biar penyamarannya lebih meyakinkan. Nyamar jadi sopir tembak juga bisa banget. Kalau itu asyik, bisa dapat uang plus deket-deket si kembang kampus. Yah, walaupun duitnya recehan.

Nah, sekarang mari kita pilih-pilih, kado apa yang paling pas buat doski?

Pilihan termudah yang nggak malu-maluin di antara semua saingan, paling buku ya? Buku yang susah didapat di Indonesia? Das Kapital Karl Marx cetakan pertama versi bahasa Inggris, mungkin? Gimana menurut kawan-kawan? Cukup keren, nggak? Eh, tapi sebentar… buku kan dari kertas. Hmmm… Nanti saya di-bully saingan dari grup pencinta lingkungan.

Zaman dulu, kertas dibikin bukan dari pohon, tapi dari daun papirus (bahasa Yunani papyros, akar kata paper), bambu, bahkan kain gombal. Kertas tertua di dunia dibuat 2000 tahun lalu oleh seorang pejabat Istana Kaisar Tiongkok. Bahannya dari serat rumpun mulberry, serat hemp (keluarga tanaman ganja), serat rumput dan jaring ikan tua.

Baru pada pertengahan abad ke-19, ada produksi kertas massal dari bubur kertas (pulp). Industri kertas itu boros energi. Masuk lima besar industri penghasil gas greenhouse tertinggi. Ambil contoh, di Amerika Serikat. Tiap tahun diperlukan 30 juta pohon untuk bahan produksi kertas. Berapa banyak 30 juta pohon itu? Sebagai bandingan, hanya ada 26 ribu pohon di Central Park, tempat Justin Bieber nyari Pokemon.

Apa cari buku Das Kapital dari kertas daur ulang aja kalau gitu, ya? Terus yang tintanya pakai soy ink, joss ramah lingkungan. Eh, tunggu… Saya baru baca ini…

Kalau bikin kertas daur ulang, pabriknya pakai bahan kimia buat menghilangkan bekas tinta. Proses daur ulang ada dua macam, mechanical dan chemical. Cara mechanical itu 2 kali lebih efisien, tapi seratnya jadi pendek dan kaku. Akibatnya, cuma jadi kertas kualitas rendahan buat koran, buku telepon, atau kertas pembungkus.

Kalau cara chemical, hasilnya bisa putih mulus kayak paha Cherrybelle. Tapi pakai banyak bahan kimia berbahaya. Salah satunya chlorine, yang ketika bercampur dengan karbon menjadi chlorine dioxin – penyebab kanker. Saking beracunnya dipakai sebagai senjata kimia pada perang dunia I. Belum carbon print dari polusi kendaraan untuk mengirim buku itu dari AS ke sini. Halah…

Ya sudah, jangan kasih buku. Cari hadiah keren yang dibuat lokal saja. Kaos olahraga, mungkin? Doski kan suka marathon bahkan triathlon yang mengangkat brand awareness tertentu. Merk-merk top dunia banyak yang produksi di Indonesia, kan? Padat karya, pula.

Eh, tapi merk-merk ternama itu katanya suka menindas buruh. Mereka sengaja bikin kontrak jangka pendek sama pabrik-pabrik di negara berkembang, sehingga mereka harus terus bersaing menekan harga supaya kontraknya  bisa lanjut. Akibatnya, urusan safety selalu dikorbankan. Jaminan kesehatan, tunjangan buruh, dan child labour pasti kena imbas. Masih ingat pabrik tekstil di Bangladesh yang runtuh pada 2013? Yang tewas 1.130 jiwa.

Belum lagi segala macam pinjaman institusi keuangan internasional, yang kadang syaratnya nggak masuk akal. Misalnya dengan alasan efisiensi, kita harus terima beras impor yang lebih murah daripada beras lokal. Para petani lokal nggak bisa bersaing, karena harga segitu jangankan bisa dibayar tenaga, malah nggak nutup buat biaya bibit, pupuk, dan transportasi.

Para petani didesak urbanisasi menjadi buruh pabrik untuk menghasilkan produk tekstil yang semurah-murahnya. Lalu, jual sawah ke orang kota. Sama orang kota dipakai bikin pabrik atau malah ditambang. Begitu lingkaran iblisnya. Ini sudah terjadi di Haiti, India, dan Korea Selatan. Para petani kita seharusnya dibantu menjual langsung hasil panen ke penduduk kota tanpa rangkaian calo dan mafia.

Kalau begitu, nggak jadi deh ngasih hadiah baju olahraga ke gebetan. Nanti saya di-bully sama kelompok mahasiswa kekiri-kirian.

Apa dong, ya? Kasih seperangkat alat hiking aja, gitu? Doski kan demen banget naik gunung, masuk hutan, eksplorasi gua kapur, dan lain-lain. Poncho, boots, kotak ransum gitu kan buatan sini semua. Aku cinta produk Indonesia pisan lah…

Ehm… tapi poncho, boots, dan kotak ransum itu dari plastik PVC, ya? Gawat… PVC, polyvinyl chloride itu tentu saja mengandung gas chloride yang sudah kita bahas di atas. Terus, karena sebetulnya PVC adalah plastik yang rapuh, diperlukan banyak bahan kimia tambahan untuk membuatnya lentur dan kuat. Termasuk di situ ada timbal dan merkuri yang mudah bocor ke udara, air, dan tanah!

PVC jadi masalah serius dari proses produksi sampai setelah akhir hayatnya. Ditimbun akan meracuni tanah, kalau dibakar lebih parah! PVC yang dibakar menghasilkan chloride dioxin super.

Ya ampun… kenapa jadi pusing begini? Mau ngasih kado ke gebetan aja susah amat? Cari hadiah yang nggak akan dibuang, kalau gitu. Kayak anting atau liontin emas, mungkin? Secara bokap juga kaya. Sebentar lagi mau minta pengampunan pajak (tax amnesty) ke negara.

Kalau langsung ngasih cincin kan bisa panjang urusannya sama para saingan yang sirik. Liontin bentuk huruf sansekerta ॐ, misalnya. Om… Kata suci yang berarti sinar yang menetap di hati. Keren banget, kan?

Aduh, lupa. Emas kan serius banget dampak lingkungannya. Satu emas kecil seukuran cincin rata-rata menghasilkan 20 ton limbah berbahaya. Sianida, cadmium, timbal, merkuri, seringkali dibuang begitu saja ke sungai dan laut.

Belum lagi masalah kerusakan hutan, pengusiran suku asli, sampai intrik internal dengan banyak korban pembunuhan. Seperti kata pepatah, “Emas memang logam mulia yang tidak berubah, tapi ia mengubah manusia menjadi tidak mulia.”

Ganti. Hadiah yang produksinya nggak terlalu mengeksploitasi hutan lah. Nggak bikin orang saling bunuh. Produk modern, kalau begitu. Barang elektronik. Laptop? Berguna buat doski kuliah dan magang. Atau, drone? Berguna buat doski memimpin teman-temannya mengintai musuh. Buat urusan penelitian skripsi, bisa. Buat urusan aktivis juga oke. Drone yang paling canggih dan gambarnya paling jernih itu berapa, sih? US$ 3.000? Gampang lah.

Tunggu dulu… Apa lagi? Barang elektronik juga berbahaya buat lingkungan? Satu chip kecil di dalam itu dibuat dari silikon. Silikon itu mineral sejenis pasir. Dihaluskan jadi bubuk, lalu dilarutkan dalam cairan yang sangat beracun. Cairan tersebut dipanaskan sampai menguap, lalu dikristalisasi dan dipanggang menjadi silinder. Silinder ini dibersihkan dengan larutan acidic dan caustic, sebelum diiris-iris tipis.

Sampai tahap itu, ada ribuan bahan kimia yang terlibat. Lalu ditambahkan arsenik, boron, dan phosporus supaya silikon jadi semi-konduktor. Para pekerjanya pasti menghirup gas-gas dan debu beracun.

Bodinya juga pakai PVC, baterainya pakai lithium dan sialannya para produsen barang elektronik sengaja bikin kita sering belanja dengan tak menyediakan spare part lengkap. Kalaupun ada, harganya lebih mahal daripada ganti baru. Lubang charger-nya sengaja dibuat nggak umum, harus merk yang sama. Mereka nggak mikirin dampak lingkungan dari limbah sampah elektronik. Haiyaaa…

Cari kado yang universal untuk kebutuhan primer semua orang aja, kalau begitu. Rumah, barangkali? Harga sih saya nggak ngebatesin, tapi ya yang kecil aja biar nggak dikatakan congkak. Doski jadi nggak usah ngekos lagi, plus bisa dibikin markas segala macam rapat gerakan bawah tanah. Jangan salah, meskipun cewek, doski itu cantik dan tangguh kayak Joan of Arc! Kagum lah sama dia.

Eh, sebentar… Aduh, apa lagi? Hadiah rumah itu bakal memicu kontroversi hati nggak ya? Saya khawatir juga diserang para ekstrimis, disebut antek pabrik semen dan tambang pasir! Tuduhan begituan nggak mutu banget memang, tapi malas urusan sama mereka. Nggak bisa debat logis. Beli rumah dianggap pro pabrik semen, maksudnya kita harus bikin rumah bambu gitu?

Hmmm… pusing pala Cinderellaa.. Kado apa dong yang berguna, padat karya, ramah lingkungan, penuh makna, sekaligus unik?

AHA! Minyak kacang! Berguna dipakai menggoreng berulang-ulang. Rasanya lebih khas dan lezat. Tahan suhu tinggi sekaligus nggak pecah kalau dibekukan. Mengandung vitamin, mineral, dan anti-oksidan alami. Doski kan jago masak. Buat minyak lilin juga top, tanpa jelaga.

Ramah lingkungan, iya. Tanaman kacang tanah bagus buat memperbaiki kadar nitrogen dalam tanah. Produksinya juga tradisional. Padat karya dan nggak menghasilkan limbah berbahaya apapun. Ampasnya bisa dibuat oncom.

Penuh makna, iya. Simbol perlawanan terhadap penjajahan industri minyak kelapa sawit. Unik, so pasti. Dijamin nggak ada cowok lain yang sekreatif dan secerdas saya. Kalau ganteng sudah pasti.

Nah, sekarang tinggal nyari minyak kacang yang sudah semakin langka dan semakin mahal itu. Nanti prosedur penyerahan kadonya dibikin yang romantis: pura-pura janjian ketemu sama doski di gang dekat kosannya, bilang mau ngasih data penting dan rahasia. Saking rahasianya, saya harus menyamar. Nanti saya datang sebagai tukang becak. Romantis banget, ya nggak sih?

Baiklah, saya cari dulu barangnya. Setelah berkeliling tujuh hari tujuh malam, akhirnya dapet juga. Tiba saatnya menyamar jadi tukang becak. Tarik mang… Lho, tapi kok? Kenapa di kosannya banyak banget tukang becak? Sejak kapan jadi pangkalan? Ooalahh…. Kelamaan nyari kadonya, je… Keburu digebet sama tukang becak yang lain… Modyarrr….

  • Hahaha untuk mencari kado terbaik ternyata sulit juga ya