6 Tangga Menuju Bom Bunuh Diri

6 Tangga Menuju Bom Bunuh Diri

Ilustrasi (Riccardo Pelati via Unsplash)

Robi Sugara, Associate lecturer, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

***

Tindakan bom bunuh diri yang dilakukan oleh Dita Oepriarto bersama istri dan empat anaknya di tiga gereja di Surabaya Minggu lalu merupakan titik puncak dari jalan panjang pelaku dalam rangkaian ekstremisme kekerasan.

Sebelum meledakkan diri bersama bom itu, ada proses panjang yang melibatkan banyak faktor hingga seseorang merasa menjadi mujahid atau “pejuang” dengan menyerang gereja.

Dalam cerita yang sempat viral di laman Facebook Ahmad Faiz Zainuddin  dan juga di Indonesian Lawyer Club (ILC) TV One pada 15 Mei 2018, terungkap masa lalu Dita.

Ahmad Faiz, adik kelas Dita semasa SMA di Surabaya pada era 1990-an, menjelaskan bahwa Faiz (angkatan 1995) yang saat itu masih belajar di SMA mengenal Dita (angkatan 1991) ketika Dita sudah lulus sebagai alumni muda.

Pertemuan mereka tidak di sekolah tapi di suatu pengajian. Faiz mengatakan saat itu Dita dan kelompoknya menunjukan pemikiran yang mengganggap orang-orang di luar kelompoknya adalah thagut. Dengan kata lain, sejak muda Dita sudah terpapar dengan pemahaman ekstrem.

Dari pengalaman tersebut, Faiz tidak kaget  ketika aksi bom bunuh diri di tiga gereja tersebut dilakukan oleh kakak kelasnya itu. Kepada keluarganya, Dita juga minta didoakan mati syahid.

Kasus Dita bisa dijelaskan dengan teori psikologi Fathali Moghaddam dari Georgetown University yang menyebut ada enam tangga yang harus dinaiki sebelum seseorang berkomitmen melakukan aksi kekerasan yang mematikan. Masing-masing tahapan membutuhkan waktu, tergantung tingkat terpaparnya seseorang dengan ideologi kekerasan.

Tangga dasar dan pertama: perasaaan ketidakadilaan dan perubahan

Enam tangga itu dimulai dari tangga dasar. Pada tahap ini adalah perasaan yang sering dimiliki oleh kebanyakan orang yakni ketidakadilan. Mereka merasakan ketidakadilan dalam bentuk apapun.

Dalam konteks “teroris Islam”, mereka merasakan ketidakadilan misalnya dalam politik internasional saat Muslim sering terzalimi dengan menyebut kasus Palestina yang ditindas oleh Israel dan terakhir Muslim Rohingya di Myanmar menjadi korban kekerasan oleh militer di sana.

Dalam cerita Faiz, pada zamannya sekolah kala itu isu pembantaian etnis muslim Bosnia oleh Serbia sedang ramai di majalah-majalah Islam. Isu-isu ini adalah salah satu contoh bagian yang “diolah” sebagai gambaran ketidakadilan yang menimpa umat Islam.

Orang-orang yang berada di level dasar tangga ini, yang kemudian ingin melakukan perubahan, yang berarti naik selanjutnya ke lantai pertama. Jika mereka berusaha mencari dalang dari ketidakadilan itu berarti naik ke tangga berikutnya.

Tangga kedua dan ketiga: mencari dalang dan mulai melawan

Di tangga ini, mereka kemudian berusaha mencari dalang yang menzalimi umat Islam. Saat ini, mereka menyalahkan Amerika Serikat dan sistem demokrasi.

Oleh karena itu tidak asing jika kelompok teroris menyasar kepentingan Amerika dan juga mengharamkan sistem demokrasi. Indonesia menganut sistem demokrasi yang oleh kelompok teroris disebut sebagai thagut (pemerintah setan).

Dalam konteks ini pula, aparat keamanan negara seperti polisi dianggap sebagai musuh. Sementara gereja menjadi sasaran karena menarget orang kafir dan untuk mendapatkan perhatian internasional.

Kemudian di tangga ketiga, mereka setuju dengan perlawanan dengan cara menggunakan segala cara, termasuk kekerasan bom bunuh diri. Bagi orang-orang yang saat ini setuju dengan apa yang dilakukan oleh kelompok teroris, bisa jadi mereka sudah berada pada tangga ketiga ini.

Tangga keempat dan tangga puncak: persiapan dan ledakan diri

Pada tangga keempat adalah mereka sudah mempersiapkan serangan itu. Para ekstremis menyebut idad (persiapan) sebelum melakukan amaliyat jihad.

Keluarga Dita memilih dengan cara mempersiapkan bom yang dibawa dengan mobil, memakai rompi bom, dan dibagikan kepada istri dan anak-anaknya. Mereka berjalan menuju sasaran. Tentu saja sebelumnya ada yang menyurvei lokasi yang dijadikan sasaran.

Pada tangga kelima, dia bersama keluarganya meledakkan bom bunuh diri tersebut. Tangga kelima ini adalah tangga puncak yang diyakini oleh kelompok ekstremisme kekerasan sebagai jihad.

Guru Besar Psikologi Sarlito W Sarwono menulis bahwa pemahaman ekstrem kelompok teroris, benih-benihnya sudah masuk sejak usia dini. Itu bukan karena sesuatu proses pencucian otak dalam waktu singkat. Karena itu, mengubah ideologi ekstrem mereka bukanlah perkara yang mudah.

Jika ingin mencegah paparan ekstremisme harus dilakukan sedari dini dengan mengajarkan toleransi. Oleh karena itu, butuh jalan panjang juga untuk melawannya.

Kasus Dita kurang lebih demikian. Untuk membawa seluruh keluarganya dalam aksi bom bunuh diri bisa jadi bukan dari proses cuci otak yang dialaminya. Bisa jadi ideologi ekstrem sudah tertancap ke dalam pikiran dia sejak dini. Dalam konteks anak-anak yang ikut meledakkan diri, ideologi kekerasan itu diajarkan oleh orang tuanya.

Dita adalah keluarga yang mapan dan juga sangat berkecukupan. Mereka juga seperti keluarga bahagia.

Jika melihat tampilannya lewat foto tak ada indikasi sedikit pun bahwa dia adalah seorang yang menganut paham ekstrem. Sebagaimana selalu distigmakan bahwa teroris itu berjanggut dan menggunakan celana cingkrang laki-lakinya, dan perempuannya menggunakan cadar.

Ini semua tidak ada dalam keluarga mereka. Tampilannya normal sebagaimana umumnya pakaian muslim Indonesia. Tapi dari sini terbukti bahwa teroris bukanlah soal tampilan fisik dan pakaian, tapi pemahaman, pemikiran dan ideologi ekstrem yang melekat di kepala dan hatinya.

Mereka menghalalkan cara-cara kekerasan terhadap siapa saja yang dianggap menghalangi jalan jihadnya dan dianggap sebagai musuh-musuhnya, termasuk orang yang berbeda keyakinan.

Teori tangga-tangga menuju terorisme Fathali Moghaddam bisa menjelaskan proses radikalisasi Dita. Saat masih muda, Dita bisa jadi sudah berada di tangga kedua dan ketiga. Pertemuannya dengan jaringan ISIS yang kemudian menaikan dia ke tangga puncak.

Untuk melawan proses radikalisasi ini, banyak pakar psikologi menyarankan kenaikan dari tangga-tangga itu diarahkan ke yang positif.

Ekstremisme jaringan keluarga

Salah satu jalan ke ekstremisme adalah melalui jalur keluarga. Pelaku utama Bom Bali 12 Oktober 2002Mukhlas, melibatkan adik-adiknya (Ali Imron dan Amrozi) untuk melakukan aksi bom mematikan.

Farihin, saat masih menjadi anggota Jemaah Islamiyah jadi penggerak kekerasan di Poso, terlibat dalam jaringan teroris mengikuti keluarga besarnya. Bapak dan kakeknya pernah terlibat dalam serangkaian “jihad” kekerasaan di era Presiden Soekarno. Bapaknya, Ahmad Kandai  adalah anggota Darul Islam yang terlibat dalam upaya pembunuhan Presiden Soekarno di Cikini pada 1957.

Adik Farihin, Abdul Jabar dan Salahuddin terlibat serangkaian aksi teror pada awal 2000-an. Abdul Jabar terbukti terlibat dalam bom di Kedutaan Besar Filipina di Jakarta pada 2000 dan Salahuddin terlibat dalam bom di Atrium Pasar Senin pada 2001.

Kasus lain yang melibatkan keluarga adalah paska deklarasi ISIS, pimpinan Abu Bakar Al-Bagdadi di Suriah pada 2014. Banyak keluarga di Indonesia yang berbondong-bondong hijrah ke sana untuk bergabung dengan ISIS atau menjadi warga negara ISIS.

Triyono Utomo, pegawai negeri sipil Kementerian Keuangan yang memiliki pendidikan tinggi dari Australia, membawa istri dan anaknya yang masih balita untuk bergabung ke ISIS.

Dwi Joko Wiwoho, Direktur Pelayanan Terpadu Satu Pintu Badan Pengusahaan Kawasan Batam, membawa istri dan anak-anaknya juga sempat ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS.

Namun peledakan bom bunuh diri oleh Dita dengan melibatkan istri dan anak-anaknya adalah fenomena baru dalam jaringan terorisme di Indonesia.

Pada era teror ketika masih dikontrol oleh beberapa anggota Jemaah Islamiyah, bom bunuh diri hanya dilakukan oleh laki-laki atau para suami. Mereka kemudian meninggalkan surat wasiat untuk orang tua atau istri dan anak-anaknya.

Dalam kasus bom Surabaya, tidak ada lagi surat wasiat karena mereka melakukan aksi bom bersama keluarganya.

Lalu bagaimana mengatasinya?

Tak ada jalan pintas untuk menyelesaikan masalah terorisme. Solusi dengan cara memberikan pendidikan toleransi sedari dini dan memindahkan aspek negatif dalam tangga-tangga ekstremisme ke aspek positif adalah jalan panjang untuk melawan ekstremisme kekerasan.

Aspek negatif, yakni keyakinan yang mendukung jalan kekerasan, bisa diubah ke arah positif dengan mengajak mereka ke jalan damai dan beradab.

Adapun jalan pendek yang harus dilakukan oleh aparat keamanan untuk merespons ekstremis kekerasan yang berafiliasi dengan ISIS adalah mengidentifikasi seluruh pendukungnya dan menginterogasi mereka untuk mendapatkan jaringan dan profil anggota dan pendukung mereka. Dengan begitu teror bisa dicegah dan tidak meluas.

Pengalaman teror dengan menggunakan perempuan dan anak kecil seperti ini pernah dialami oleh Prancis di Afrika Utara pada 1956-57 yang lebih dikenal dengan Perang Al-Jazair (The Battle of Algiers).

Kelompok “pejuang” Al-Jazair meneror pemerintah Prancis dengan melibatkan perempuan dan anak-anak kecil tapi akhirnya Prancis berhasil melumpuhkan gerakan tersebut dengan melakukan operasi senyap dengan nama Operasi Sampanye.

Perang dengan kelompok teroris bukan perang terbuka tapi perang yang senyap. Prancis mengidentifikasi dan menginterogasi seluruh pendukung dari kelompok itu dan akhirnya terbongkar pola organisasi dan terornya. Dengan begitu teror yang menghantui Prancis bisa dihentikan kala itu.

Bagi Densus 88, tentu sangat mudah mengidentifikasi dan menginterogasi para pendukung ISIS. Jadi jangan lagi menunggu korban berjatuhan dari orang-orang yang tidak berdosa oleh serangan sekelompok kecil ekstremis kekerasan.

Sumber asli artikel ini dari The Conversation. Baca sumber artikel.