4 Cara Ampuh Menghadapi Bawelnya “Fans” Real Madrid pada Hari Senin

4 Cara Ampuh Menghadapi Bawelnya “Fans” Real Madrid pada Hari Senin

thesun.co.uk

Pertandingan final Liga Cempyen telah usai. Real Madrid menjadi juara dengan pertandingan panjang hingga adu penalti. Juanfran gagal mengeksekusi pinalti, membentur tiang gawang sebelah kiri. Mukanya kecut, seakan tak percaya seperti wahai kalian para pendukung Atletico Madrid chapter Nusantara.

Ronaldo menjadi eksekutor terakhir, kalian tambah pucat, denyut nadi seakan berhenti, dan saya tahu kalian memejamkan mata dengan hati yang was-was. Lalu gol, Ronaldo mencopot kaosnya, kalian copot jantungnya. Saya tahu itu.

Begitulah rasanya menjadi pendukung sebuah tim sepak bola. Harusnya memiliki jantung cadangan buatan Japan. Kalau perlu lebih dari dua biji. Menjadi fans Atletico dadakan sebagai bentuk perlawanan liyan terhadap sang penguasa itu menjadi sebuah kegenitan tersendiri. Jika malam itu Atletico dapat menggondol pulang “Si Kuping Besar”, hari Minggumu dan tentunya Senin ini pasti ceria.

Namun, kenyataannya berbeda, memang manusia boleh merencanakan, tapi Tuhan pula yang menentukan. Atletico kalah. Dan, hari Senin ini, benar-benar perpaduan yang taek mendapati diri kalian sebagai pendukung dadakan khususon untuk partai final cempyen.

Mungkin hari Minggu kamu bisa sembunyi di kamar kos tanpa keluar barang semenit pun guna menghindari ejekan dan ocehan para pendukung Real Madrid yang intensitas bacotannya kian menggelora. Tapi hari ini, Senin pagi, kamu harus kerja, cari makan plus celengan untuk bayar KPR. #Life

Berikut ini, saya sebagai pengamat supporter dadakan akan membagikan kiat-kiat dalam menghadapi bawelnya pendukung Real Madrid:

bola.net
bola.net

1. Pura-Pura Gila

Ini merupakan cara ampuh untuk menghindari ejekan para makhluk terkutuk itu, ya terkutuk. Ketika mereka menghampirimu dan menepuk punggungmu dari belakang, kamu harus waspada. Jangan sampai mereka mengeluarkan kata pertama dan kata kunci yang berhubungan dengan hasil pertandingan final cempyen.

Ketika mereka menepuk, langsung saja kamu menjulurkan lidah sampai senyum-senyum sendiri. Kalau perlu kamu guling-guling di lantai. Saya yakin, teman kamu itu langsung menjauhi dirimu. Yang perlu diingat jangan sampai dia mengeluarkan kata-kata pertama. Belajar dari pertandingan, seharusnya jangan biarkan Sergio Ramos membobol gawang Atletico lebih dulu.

2. Pura-Pura Tidak Menonton Karena Ketiduran

Cara ini lumayan kalem dan bijak. Pura-pura tidak menonton pertandingan akan sangat membantumu dalam menghidari diskusi yang akan lebih berkembang ke arah bullying. Percaya lah. Jika temanmu mulai berkata, “Eh coy, gimana final cempyen kemarin, seru kan? Real Madrid juara, bro.” Kamu harus menjawab begini, “Eh, sorry semalam gue ketiduran, je. Gue buru-buru nih, dipanggil bos ke ruangan.”

Taktik ini mirip dengan cara Real Madrid dalam memenangkan pertandingan. Membuat garis pertahanan yang begitu dalam sedalam Samudra Hindia hingga pemain-pemain Atletico tidak bisa menusuk ke kotak dua belas pas.

3. Menyalahkan Wasit

Ini cara paling mainstream yang paling laris digunakan para pesakitan. Menjadikan wasit sebagai kambing qurban, eh kambing hitam adalah jalan yang cukup lazim. Wasit selalu salah begitu rumusnya. Apalagi sebagai pendukung Atleti, mengantongi senjata berupa gol dari Sergio Ramos yang lumayan kontroversial dan cukup patut diperdebatkan karena berbau offside. Tapi untung finalnya bukan di Indonesia. Kalau di sini, bisa dituding berbau komunisme, marxisme, dan leninisme.

4. Salahkan Dewi Fortuna

Jika ketiga cara itu kalian anggap masih kurang ampuh dalam meredam kecerewetan para pendukung Real Madrid, menyalahkan Dewi Fortuna adalah jurus yang sangat ampuh. Berbeda dengan menyalahkan wasit, karena kita bisa saja berdosa akibat melontarkan fitnah yang lebih kejam dari Ibukota.

Istilah Dewi Fortuna begitu populer pada dekade 90-an, yang digunakan para komentator Liga Indonesia ketika sebuah kesebelasan gagal mencetak gol yang sebenarnya di atas kertas bisa dikonversi menjadi gol. Tapi, sekali lagi, sepak bola bukan permainan di atas kertas, tapi di lapangan rumput tetangga yang lebih hijau.

Nah, cara yang keempat ini bisa diaplikasikan untuk menyikapi gagalnya tendangan dua belas pas dari Griezman yang kencang membentur gawang. Jika teman kantor masih berisik tak karuan, kalian berlagak sok bijak dengan mengucapkan, “Halah… kalo tendangan Griezman enggak digagalkan Dewi Fortuna, ceritanya kan beda bro. Halah Madrid!”

Saya yakin temanmu itu akan terdiam seribu bahasa alias speechless kalau kata anak kekinian. Bukan apa-apa, tapi karena saking banyaknya nyinyiran yang harus dikeluarkan secara bersamaan. Akhirnya malah susah keluar. “Bantu kami Dewa Dewi,” kata si nenek gerondong di serial Uttaran.

Jadi, untuk mengawali Senin pagimu yang akan begitu panjang dan menyebalkan, ikuti kiat-kiat dari saya di atas . Niscaya, beban di punggungmu akan terasa ringan dan langit akan lumayan biru cerah. Salam olahraga, halah Madrid!